Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 384 Hanya Bisa Bertemu Dalam Mimpi


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Tapi, kamu hanya seorang pelayan kecil, tidak ada gunanya juga kamu pergi, jika bertindak seperti itu hanya akan mengantarkan sebuah nyawa. Jika Permaisuri tahu kamu mati demi dirinya, apa hati Permaisuri bisa merasa lebih baik? Apa kamu ingin melihat Permaisuri merasa bersalah padamu seperti Permaisuri merasa bersalah pada Xiao Huan?”


“Aku…” Yan’er terdiam setelah mendengarkan ucapan itu, air matanya kembali mengalir.


Hello! Im an artic!


“Kak Lu’er, atau tidak bagaimana jika kita pergi mencari Pangeran ke-9, mungkin Pangeran ke-9…”


“Jangan sembarangan, masalah ini terjadi dikarenakan Pangeran ke-9. Dan lagi, Pangeran ke-9 tidak bisa kembali ke Istana sekarang, kudengar dari orang lain, Kaisar sudah membuat titah, tanpa dekrit dari Kaisar, Pangeran ke-9 tidak boleh masuk ke dalam Istana seumur hidupnya!”


Yan’er benar-benar putus asa saat mendengar ucapan ini.


Air mata mengalir di wajahnya, dia menatap ke luar jendela dengan hampa.


Hello! Im an artic!


Angin berhembus, hujan turun dengan deras, daun-daun pohon willow di luar jendela tertiup angin. Seakan sedang memberitahu bahwa pemilik rumah sedang menuju akhir yang sangat mengenaskan.

__ADS_1


“Ctarr–” Suara guntur terdengar.


Kedua gadis itu begitu ketakutan hingga mereka menangis sambil memeluk kepala mereka, air mata dan ingus mereka sudah bercampur menjadi satu menjadi air mata putus asa.


Cahaya perak menyala di langit.


Malam berangsur-angsur menjadi larut.


Istana Fengyi bukan lagi istana termewah dan megah seperti dulu, bukan lagi tempat yang didambakan oleh semua wanita.


Tempat ini adalah gua Iblis. Merupakan tempat mengerikan seakan masuk ke dalam neraka.


Melihat Yan’er dan Lu’er yang duduk di lantai, ada jejak kekhawatiran di wajah pucatnya, dia kemudian memanggil mereka: “Yan’er, Lu’er, apa yang kalian lakukan?”


Kedua gadis kecil itu tiba-tiba mendengar suara Qin Ruojiu, mereka kembali terkejut, menatap satu sama lain dengan wajah pucat, mereka kamudian bangkit berdiri dan berlari menghampiri ke ranjang Qin Ruojiu, mereka berkata dengan menyedihkan: “Permaisuri, kamu sudah bangun?”


Qin Ruojiu menatap sepasang mata kedua orang itu yang sudah memerah lalu tersenyum ringan, senyum itu seperti bunga teratai yang mekar di tengah hembusan angin.


Pucat dan cantik.

__ADS_1


Qin Ruojiu mengangguk dan berkata: “Sepertinya ada guntur, aku bangun dikarenakan terkejut oleh suara itu!


“Ya, itu suara guntur.” Yan’er bergumam, menatap Qin Ruojiu dengan wajah penuh air mata, Permaisuri bertambah kurus lagi, wajahnya selalu begitu pucat, Permaisuri terlihat lebih kecil dan lebih mungil ketika kembali dari luar kali ini, semakin terlihat tidak berdaya. Petir kembali melintas dari luar, cahaya putih terpantul di wajahnya, seolah itu begitu transparan, sedikit rapuh dan lemah, seolah Permaisuri akan menghilang ketika dia mengulurkan tangannya.


“Kenapa mata kalian merah, apa kalian menangis?”


Begitu kata-kata Qin Ruojiu ini diucapkan, Lu’er menahan air matanya dan memaksa dirinya untuk tersenyum. Tapi air matanya tidak bisa dibendung dan langsung menetes, mengenai punggung tangannya dan terasa panas membara.


Lu’er berkata: “Tidak, aku dan Yan’er ketakutan ketika mendengar suara guntur, jadi kami menangis!”


Yan’er menggosok hidungnya yang merah dengan menggunakan lengan bajunya, memaksa dirinya untuk tersenyum dan berkata: “Permaisuri, aku takut pada guntur sedari kecil. Ketika aku kecil, ada Ibu di sisiku, untungnya kali ini ada Kak Lu’er, kalau tidak maka aku akan ketakutan sampai mati!”


Qin Ruojiu tertawa setelah mendengarnya, lalu dengan lembut membelai kepala mereka berdua dengan tangannya dan berkata: “Jangan takut, itu hanya guntur saja, jangan takut… Jangan takut…” Qin Ruojiu berkata menghibur sambil mengangkat kepalanya menatap kosong ke langit yang suram melalui celah di luar jendela. Cahaya petir itu menyerupai naga perak, menyerupai wajah mengerikan Raja Neraka saat dia tertawa dengan marah.


Suara menghibur Qin Ruojiu begitu pelan dan halus, seperti suara nyanyian dalam mimpi.


Yan’er dan Lu’er terpaku ketika mendengarnya, mereka berdua berhenti menangis dan menatap terpaku ke arah Qin Ruojiu.


Permaisuri sangat cantik, saat ini dia tampak seperti Dewi paling baik di langit. Permaisuri tampak jauh dari mereka, sangat jauh… begitu jauh hingga seakan hanya bisa bertemu dengannya dalam mimpi dan tidak akan pernah dapat melihatnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2