Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 444 Apa Yang Ingin Kamu Perintahkan Untuk Kulakukan


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Saat ini, tatapan mata yang biasanya dingin dan acuh itu terpaku untuk beberapa saat. Setelah sekian lama, Leng Bingxin menghela napas dan berkata: “Runxue, jangan pernah mengucapkan kalimat seperti itu lagi di kemudian hari.”


“Kenapa? A’chou, aku selalu ingin bertanya padamu tapi takut dirimu sedih, tapi hari ini aku harus bertanya padamu, sebenarnya apa hubunganmu dengan Pangeran?”


Hello! Im an artic!


“Aku……”


Tepat ketika Leng Bingxin tidak bisa menjawabnya, tiba-tiba suara seekor kuda yang meringkik terdengar di luar pintu.


Leng Bingxin dan Runxue yang berdiri di dekat pintu tanpa sadar melihat ke depan.


Pada saat ini, penjaga di kedua sisi pintu dengan tergesa-gesa menyambut. Bei Fengchen mengenakan jubah perak, sama sekali tidak bernoda, memegang saputangan di tangannya, tampak begitu lemah sambil menutupi bibir merahnya. Kemudian, dengan bantuan orang lain, Bei Fengchen perlahan turun dari kereta kuda.


Hello! Im an artic!

__ADS_1


Matahari menyinari tububhnya, dia begitu tinggi dan terlihat luar biasa, jubah peraknya itu sudah seperti teratai putih yang mekar dengan penuh.


Menginjak tanah, langkahnya itu sangat mantap, sikapnya sangat anggun, rasa lelah yang samar sama sekali tidak bisa menyembunyikan ketampanannya yang menakjubkan.


Melihat Bei Fengchen, Runxue meletakkan ember dengan sedikit gembira, kemudian dengan erat memegang jari-jari Leng Bingxin yang dingin, dia berkata dengan gugup: “Cepat … Cepat … cepat lihat, itu Pangeran, itu Pangeran. … ”


Leng Bingxin menundukkan tatapan matanya, mengalihkan pandangannya ke ujung yang lain, perlahan-lahan menolehkan kepalanya agar tidak berhadapan langsung dengan Bei Fengchen.


Leng Bingxin tidak pernah bertemu dengannya sejak kembali dari Istana Pangeran Mahkota. Jika dulu dirinya menghindari Bei Fengchen dengan sengaja, maka kali ini sangat sulit bagi Leng Bingxin untuk bertemu dengannya.


Desas-desus juga berkata bahwa Kaisar Negara Beifeng sudah sekarat, setiap hari tidak dapat bangun dari ranjangnya, hampir tidak dapat bertahan hidup tanpa obat-obatan. Pangeran Mahkota mengambil Ziyue sebagai Selir, awalnya ingin untuk membuat Ayahnya itu bahagia, tapi siapa tahu penyakit Ayahnya itu malah semakin parah karena marah.


Kaisar awalnya masih bisa turun dari ranjang dan berjalan beberapa langkah, tapi sekarang dia sudah tidak punya energi lagi untuk berbicara.


Sepertinya cepat atau lambat Negara Beifeng ini akan memiliki Raja baru.


Leng Bingxin tahu Bei Fengchen yang telah lama bersikap rendah hati pada akhirnya sudah akan mulai melancarkan serangannya. Kekejamannya secara perlahan-lahan menjadi sulit untuk disembunyikan. Selama kamu mengawasinya dengan teliti, kamu akan menyadari bahwa Bei Fengchen tidak selemah penampilannya, dia itu seperti seekor harimau berbulu domba.

__ADS_1


Saat melewati tubuh Leng Bingxin, Bei Fengchen masih menghentikan langkahnya.


Jantung Leng Bingxin yang telah mati berdegup kencang dalam sekejap. Leng Bingxin tahu bahwa momen yang menjadi takdir barunya akan segera dimulai. Saat ini dirinya sudah tidak bisa melarikan diri. Setelah terdiam sekian lama, beberapa hal memang ditakdirkan untuk terjadi.


Bei Fengchen memunggunginya, tidak tahu apa Bei Fengchen tidak menatap sepasang matanya karena merasa bersalah, atau karena merasa jijik menghadapinya.


Suaranya sangat pelan, begitu lembut, seperti angin samar yang melintasi hatinya yang hangat, seperti ketika saat Leng Bingxin pertama kali melihatnya dan dia memintanya untuk pergi bersamanya.


Bei Fengchen berkata: “Bingxin, mulai hari ini dan seterusnya kamu tidak perlu lagi melakukan pekerjaan para bawahan.”


Leng Bingxin tidak berbicara, tapi hanya menundukkan kepalanya dan melihat ke tanah, jejak kejernihan terakhir di pupil matanya yang dingin itu sudah menghilang tanpa jejak.


Runxue yang berada di samping membuka mulutnya lebar dengan terkejut, kemudian menyikut Leng Bingxin dengan takut menggunakan lengannya. Matanya itu penuh dengan kegembiraan, mungkin dia sedang mengucapkan selamat pada Leng Bingxin.


Leng Bingxin tidak sebahagia seperti yang diperkirakan semua orang, dia hanya mengernyit dengan samar, menarik napas dalam-dalam dan berkata: “Lalu apa yang ingin Pangeran perintahkan untuk kulakukan?”


Bei Fengchen berbalik, menatap sosok yang semakin hari semakin kurus, entah kenapa ada semacam dorongan perasaan getir di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2