Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 463 Benar-Benar Membuatnya Sedih


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Ya, wanita adalah makhluk yang emosional dan berhati lembut, tidak bisa melihat luka dan kesedihan orang lain. Bahkan tidak bisa melihat air mata, karena itu di lubuk hati terdalam mereka yang lembut, kesalahan besar pun bisa dimaafkan.


Pergi ke Negara Kangqing, bagi Leng Bingxin benar-benar membuatnya gugup dan juga gelisah. Ada terlalu banyak kenangan menyakitkan di sana, dan juga terdapat tahun-tahun yang tak tertahankan di sana.


Hello! Im an artic!


Dirinya sangat merindukan tempat itu, tapi juga sangat membenci seseorang hingga ke dalam sumsum tulangnya.


Tapi saat menerima berita kematian Ziyue, pada saat itu, semua kegugupan dan tidak aman seketika berubah menjadi semacam kesedihan dan kedinginan.

__ADS_1


Itu adalah semacam perasaan putus asa dan dingin yang tak bisa diungkapkan, ya, seorang wanita yang cantik luar biasa, mengabdikan nyawanya demi orang yang dicintainya dan meninggal di penjara, Ziyue pasti memiliki penyesalan dan kesedihan yang tidak bisa diungkapkannya sebelum dia meninggal. Ziyue begitu berharap bisa bertemu dengan pria yang memubuat hatinya tergerak, tapi pada akhirnya Ziyue malah memiliki kontradiksi dan tidak ingin bertemu dengan pria itu. Ketika mengetahui Bei Fengchen melakukan perjalanan jauh dan melangkah maju menuju mimpi yang lebih besar, Ziyue tahu bahwa jika dirinya hidup maka itu tidak akan menguntungkan Bei Fengchen, dirinya hanya akan menjadi batu penghalang baginya.


Karena itu, Ziyue tidak segan-segan memilih untuk menghilang.


Hello! Im an artic!


Tidak tahu entah kenapa, Leng Bingxin tidak pernah merasa dirinya begitu ingin menangis seperti ini, Ziyue sudah pergi dan berubah menjadi arwah, orang yang beberapa hari yang lalu masih menangis begitu sedih di penjara sambil berlinangan air mata, tapi sekarang dia sudah terkubur di dalam tanah, sudah tidak bisa lagi menggunakan air mata dan isak tangis untuk mengungkapkan dan melepaskan kesedihan yang tak terbatas di dalam hati.


Leng Bingxin hanya merasa seluruh tubuhnya begitu sakit pada saat ini, benar-benar begitu menyakitkan hingga dirinya tidak ingin hidup, air matanya mengalir setetes demi setetes, lalu dia menangis terisak, setiap air mata itu seolah adalah tetesan darah yang mengalir di dalam hatinya.


Secara refleks Bei Fengchen meraih Leng Bingxin ke dalam pelukannya, dalam ingatannya, mata Leng Bingxin selalu dipenuhi dengan cahaya dingin, tapi Leng Bingxin itu tegar, betapapun terlukanya dirinya, betapapun sedihnya dirinya, dia tidak akan pernah meneteskan air mata di hadapannya, apalagi menangis terisak seperti ini.

__ADS_1


Kematian Ziyue benar-benar sangat melukai hatinya, benar-benar membuatnya sedih.


Di samping telinganya, merupakan suara isak tangis Leng Bingxin yang begitu menyedihkan, Bei Fengchen yang selalu dengan dingin menyegel hatinya, tidak bisa menahan air matanya pada saat ini, melihat Leng Bingxin yang begitu tidak nyaman, tenggorokannya seakan ditusuk oleh pisau. Perasaan seperti itu seakan setiap tarikan nafas yang diambilnya, maka ujung pisau itu akan mengikis tulang tenggorokannya…


Bei Fengchen tidak tahu bahwa tampilan Leng Bingxin yang seperti ini akan memberikan pukulan yang begitu kuat padanya. Air mata Leng Bingxin seperti belati yang membuat jantung Bei Fengchen bagai teriris oleh pisau, ada semacam kegetiran yang mengalir ke tenggorokannya, Bei Fengchen menundukkan kepalanya, kekesalan dan perasaan menyalahkan diri sendiri sudah seperti deretan pisau tajam yang menusuknya satu demi satu.


Dia berkata: “Apa kamu menyalahkanku atas kematian Ziyue?”


Leng Bingxin tidak mengatakan apa-apa, hanya menggigit bibir bawahnya, memaksakan air matanya untuk kembali ke matanya, ya, ada beberapa kesedihan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata kecuali dengan air mata yang mengalir dengan deras, Leng Bingxin hanya bisa mengencangkan seluruh tubuhnya, mengertakkan gigi dan mencoba menahan ekspresinya yang begitu sedih hingga membuat raut wajahnya sedikit terdistorsi, pada akhirnya dirinya masih tidak bisa menahan tangisnya.


“Dia sudah meninggal, dia benar-benar sudah meninggal, dia baik-baik saja beberapa hari yang lalu, dan sekarang dia dipaksa mati hidup-hidup. Dia seharusnya tahu bahwa kamu sudah meninggalkan Negara Beifeng… jadi… jadi dia sudah tidak memiliki harapan, jadi dia mengakhirinya dengan kematian.”

__ADS_1


Selesai berbicara, cairan panas itu menetes seperti air mendidih, mengenai punggung tangan Bei Fengchen, seolah-olah tetesan itu mendidih di dalam hatinya.


Bei Fengchen makin memeluk Leng Bingxin dengan lebih erat lalu membenamkan kepalanya, di dalam kereta kuda yang berguncang itu, Bei Fengchen tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium air mata di sudut mata Leng Bingxin, menciumnya setetes demi setetes hingga kering.


__ADS_2