Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 373 Ini Adalah Sebuah Jebakan


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Tidak perlu menebak juga tahu, orang yang berpakaian putih dan terlihat luar biasa itu, orang yang senyumnya terlihat begitu indah hingga berapa banyak air mata pun tidak bisa menghilangkan auranya, seseorang yang terlihat seperti phoenix dan naga yang sedang menari diiringi oleh suara harpa selama tiga hari.


Seseorang yang terkadang bagai puisi indah dalam mimpi, seseorang yang terkadang bagai puisi yang menghancurkan mimpi, seseorang yang bisa digambarkan dengan semua keindahan yang ada di dunia, tapi tidak bisa mengotorinya dengan kepura-puraan, seseorang yang mengijinkan siapa saja untuk mengikuti suka dan dukanya.


Hello! Im an artic!


Orang itu adalah Kang Yin.


Dia turun dari gerbong kereta kuda, mula-mula dia mengerutkan kening dan menatap gerbong kereta merah bobrok itu untuk beberapa saat, lalu mengalihkan pandangannya ke arah kusir yang terlihat sederhana dan tegap itu.


Dia kemudian berkata dengan datar: “Apa yang baru saja kamu katakan?”


Dengan senyum di wajahnya, kusir itu melompat turun dari kereta kuda sambil terengah-engah, dia kemudian berkata dengan wajah gembira: “Aku memberi hormat pada Pangeran ke-9.”

__ADS_1


Hello! Im an artic!


“Aku bertanya padamu, apa yang baru saja kamu katakan?” Kang Yin bertanya dengan ekspresi yang agak serius dan nada suara yang berat.


Tiba-tiba hati sang kusir menciut, dia tidak berani melihat langsung ke mata yang hangat tapi juga terdapat kedinginan yang disembunyikan itu.


Saat ini dia membenamkan kepalanya dalam-dalam dan bergumam dengan suara pelan: “Menjawab Pangeran ke-9, aku berkata bahwa Permaisuri Ratu datang, jadi aku baru berani menghentikan kereta kuda milik Pangeran.”


“Apa? Permaisuri Ratu? Di mana?” Wajah Kang Yin pertama kali memunculkan ekspresi terkejut, kemudian digantikan dengan raut kekhawatiran yang sangat dalam.


Kali ini jika Qin Ruojiu benar-benar berubah pikiran tiba-tiba dan ingin meninggalkan Istana bersamanya, Qin Ruojiu juga tidak mungkin akan melakukannya diam-diam seperti ini bukan? Qin Ruojiu bukan seseorang yang tidak tahu bagaimana cara melihat situasi secara keseluruhan, ada begitu banyak pelayan setia di sisinya, dan para kerabatnya dari klan penyihir juga terlibat, yang paling penting adalah Qin Ruojiu masih peduli pada Kaisar, bagaimana mungkin Qin Ruojiu akan pergi bersamanya?


Setelah masalah yang terakhir kali terungkap, Kang Yin tahu bahwa Qin Ruojiu tidak akan mungkin pergi mengikutinya lagi dalam kehidupan ini, jadi mengapa di saat seperti ini …


Kang Yin yang semakin berpikir semakin merasa itu tidak mungkin, ketika hendak curiga bahwa semua itu hanyalah kebohongan, siapa sangka dia malah melihat Qin Ruojiu yang sudah membuka tirai dengan raut wajah putus asa.

__ADS_1


Qin Ruojiu yang berada di dalam gerbong kereta, gaun yang dikenakannya itu berkibar, Kang Yin menatapnya dan hanya melihat lapisan pemerah pipi samar yang terlihat di atas kulitnya yang putih, sepasang bulu matanya terlihat sedikit menurun, wajahnya itu sudah seperti batu giok putih polos yang legendaris, kulit yang lembut dan putih itu bagai khayalan dan kenyataan, benar-benar tidak terlihat seperti milik dunia fana. Matanya itu sudah seperti lukisan yang dibuat dengan begitu cermat dan susah payah oleh Tuhan. Tidak tertawa dan tidak marah, membuat orang lain tidak bisa menebak pemikirannya.


Hari ini tampaknya Qin Ruojiu terlihat sengaja berdandan dengan hati-hati, sangat cantik, benar-benar sangat cantik … begitu cantik hingga membuat orang lain terpana, sangat berbeda dibanding biasanya.


Tidak peduli betapa berbedanya Qin Ruojiu, tapi tampilannya itu sudah menembus ke dalam hati Kang Yin, tidak memerlukan banyak waktu, Kang Yin dapat dengan mudah mengenalinya hanya dalam sekilas pandang.


Kebahagiaan dan kegembiraan yang tak terduga ini seketika langsung menyelimutinya. Ya, wanita di hadapannya ini bukanlah orang lain … itu adalah dia, itu adalah Qin Ruojiu yang diimpikannya…


Ketika nama Qin Ruojiu belum sempat diucapkan, Kang Yin malah melihat orang di dalam kereta kuda itu berteriak dengan cemas dan sedih: “Cepat pergi, cepatlah pergi, ini adalah sebuah jebakan …”


Kang Yin yang tidak tahu apa yang sedang terjadi, hanya menatap lekat pada wanita yang cantik dan menawan itu dengan tatapan mata yang lembut dan bingung.


Qin Ruojiu tahu bahwa dirinya tidak bisa menjelaskan dengan jelas untuk saat ini, jadi dirinya hanya bisa melompat turun dari kereta kuda tanpa mempedulikan kondisi tubuhnya yang lemah.


Siapa tahu kedua kakinya itu masih tidak bertenaga, ketika Qin Ruojiu mendarat, dirinya malah jatuh terguling ke tanah.

__ADS_1


__ADS_2