
Mendengar ucapan ini, ekspresi wajah Lu’er dan Qin Ruojiu menunjukkan raut haru dan juga kegembiraan.
Yan’er berkata melanjutkan: “Permaisuri, aku akan pergi bersamamu besok malam. Hidup atau mati, aku juga ingin bertaruh. Lagipula aku sudah terbiasa hidup takut ketika tinggal di Istana. Aku akan berjuang kali ini, di kemudian hari aku tidak akan takut pada apa pun lagi.”
Setelah mendengarkan ucapan itu, Lu’er dan Qin Ruojiu kembali menganggukkan kepala mereka dengan senang, di saat bersamaan mereka melayangkan tatapan pada Xiao Huan.
Ya, hanya tinggal menunggu keputusan Xiao Huan.
Xiao Huan berdiri di samping, merasakan tatapan yang datang dari sekitarnya, tiba-tiba merasakan tekanan yang begitu berat. Untuk sesaat, dirinya seakan sedikit tidak bisa bernafas, kedua bahunya sedikit gemetar dan berkata: “Permaisuri… aku … aku …”
Qin Ruojiu tidak tahu apa yang Xiao Huan khawatirkan, dirinya hanya bertanya dengan suara lembut: “Apa yang kamu takuti? Beritahu aku, jika aku bisa membantumu menyelesaikannya maka aku pasti akan membantumu.”
__ADS_1
Sebenarnya Qin Ruojiu tahu dirinya seharusnya tidak begitu egois meminta mereka untuk kabur bersamanya. Tapi ini adalah satu-satunya cara. Jika tidak membawa mereka, jika Kaisar Zhaolie menyalahkan maka mereka pasti akan mati. Qin Ruojiu tidak ingin menyakiti nyawa yang tidak bersalah dikarenakan dirinya. Jika ada orang yang meninggal dikarenakan dirinya, bahkan jika Qin Ruojiu melarikan diri hingga ke ujung dunia, Qin Ruojiu tidak akan memiliki kedamaian dalam hidupnya.
“Xiao Huan, sebenarnya apa yang kamu takuti? Aku saja bersedia pergi, apa yang kamu pikirkan?” Yan’er yang berada di samping tampaknya cukup merasa aneh jadinya Yan’er tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya dengan suara pelan.
Ditanya seperti itu membuat Xiao Huan merasa semakin tidak nyaman, saat itu juga dia menangis kencang karena terkejut, dia berkata sambil tercekat: “Aku takut …”
Lu’er menariknya ke dalam pelukannya kemudian berbisik lembut: “Sudah, aku tahu kamu takut, tapi kamu tenang saja, Permaisuri tidak akan mencelakai kalian. Dan lagi, sifat kalian itu tidak cocok untuk tinggal di Istana, meninggalkan istana kali ini bisa dianggap sebagai akumulasi kebajikan dari leluhur, jadi tidak perlu takut!”
“Benar, Xiao Huan, bukankah biasanya kamu lebih berani? Kamu selalu berkata orang-orang di Istana memperlakukanmu dengan buruk, dan kamu juga selalu mengeluh, sekarang ketika sudah akan pergi, kenapa kamu malah takut?” Yan’er yang berada di samping bertanya dengan bingung.
“Apa bedanya, paling-laing hanya mati. Lagipula selama bisa keluar maka itu bukan masalah besar.”
__ADS_1
Yan’er memang seorang anak yatim piatu, dijual pada usia 12 tahun kemudian dia melarikan diri, tidak memiliki sandaran dan tidak berdaya hingga pergi ke Istana untuk menjadi pelayan, jadi Yan’er memandang hidup dan mati dengan sangat acuh dan lugas. Tidak seperti Xiao Huan yang selalu bimbang dan tidak memiliki pendirian.
“Aku …” Xiao Huan hendak mencoba untuk berdebat tapi Lu’er menghentikannya: “Sudahlah Xiao Huan, kamu pergilah untuk tidur, kita akan pergi besok, kali ini kamu harus ikut pergi. Karena jika kamu tidak pergi, kamu sudah pasti akan mati. Jika pergi, maka kamu masih memiliki kesempatan untuk bertahan hidup. Kamu pilihlah sendiri!”
Setelah selesai berbicara, Lu’er melepaskannya kemudian menatapnya dengan tatapan mata berlinang, tampak begitu polos dan menyedihkan, dia kemudian melambaikan tangan pada Yan’er dan berkata: “Kamu bantulah dia untuk mundur lebih dulu!”
Yan’er sudah melewati gelombang yang mengejutkan ini, tampak sudah tenang, raut wajahnya sudah kembali normal, kemudian dia melangkah maju untuk merangkul Xiao Huan dan berkata: “Pergilah, jangan takut, aku akan melindungimu jika terjadi sesuatu.”
Setelah selesai berbicara, keduanya kemudian pergi dalam suasana sunyi.
Malam sudah larut, melihat dua sosok mungil yang pergi dengan saling membantu itu, hati Qin Ruojiu merasa sedikit sedih dan juga bersalah.
__ADS_1
Qin Ruojiu sedikit menundukkan kepalanya, ada penyesalan yang mendalam dalam nada bicaranya: “Kita berbuat seperti ini, apa terlalu kejam bagi kedua gadis kecil itu?”
Lu’er berdiri di samping, menghela nafas dan berkata sambil menatap Qin Ruojiu dengan tidak tega: “Permaisuri, terkadang harus memikirkan demi diri Permaisuri sendiri. Lagipula tidak semua orang layak menerima perlakuan Permaisuri yang seperti ini.”