Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 471 Kalian Seharusnya Saling Mengenal Bukan


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Paviliun Ruyi” adalah tempat di mana hanya wanita kelas dua di Istana yang bisa tinggal di dalamnya, jadi masih lumayan untuk mengatur penari seperti Leng Bingxin tinggal di sini.


Melihat matahari yang terbenam di ujung langit, pancaran sinar kemerahan memapari wajah dingin Leng Bingxin, begitu suci bak seorang Dewi.


Hello! Im an artic!


Bei Fengchen berdiri di dekat pintu, menatap lekat pada Leng Bingxin, tanpa sadar dirinya sedikit melamun.


Jika bukan karena Leng Bingxin yang memanggilnya dengan suara pelan, takutnya dirinya hanya akan menatap wajah itu dan terpesona untuk selamanya.


“Pangeran, ini sudah larut, Pangeran juga sudah lelah dalam perjalanan beberapa hari terakhir ini, Pangeran juga tidak beristirahat dengan baik, jadi lebih baik kembalilah dan beristirahat lebih awal.” Leng Bingxin berkata dengan datar, menatap sedikit ke kejauhan, nada suaranya itu terdengar sedikit samar.


Setelah Bei Fengchen mendengarkan, matanya tiba-tiba memicing, lalu dia tersenyum dan berkata: “Tidak buru-buru, ini masih pagi.”

__ADS_1


Hello! Im an artic!


“Maksud Pangeran…”


“Aku ingin berbicara denganmu mengenai masalah hari ini, apa kamu keberatan?” Bei Fengchen mengangkat mata hitamnya, terdapat tatapan sedikit mempertanyakan, sama sekali tidak menyembunyikan dan berjalan mendekati Leng Bingxin.


Leng Bingxin terkejut pada awalnya, wajah penuh kegilaan, ketidakpedulian, dan juga menyakitkan muncul di benaknya. Leng Bingxin memejamkan matanya dengan perlahan, ketika membukanya lagi, Leng Bingxin menatapnya dengan tatapan sedikit dingin: “Masalah di aula mungkin sebuah kesalahpahaman, jadi Pangeran tidak perlu menganggapnya serius.”


Mendengar ucapan itu, tatapan mata Bei Fengchen yang tampak acuh itu diarahkan kepadanya, menatapnya sekilas dengan perlahan, kemudian Bei Fengchen menjawab dengan samar: “Tatapan matanya ketika menatapmu itu sangat serius, kalian seharusnya saling mengenal bukan?!” Setelah selesai berbicara, Bei Fengchen menatap Leng Bingxin dengan tajam, benar saja dirinya melihat wajah Leng Bingxin yang sedikit gemetar.


Saat ini, Leng Bingxin yang tidak tahu bagaimana harus menjawab hanya mengulas senyum getir di sudut bibirnya, ingin menutupinya dengan senyuman.


Tentu saja, Bei Fengchen yang ahli dalam mengamati sudah memperhatikan tindakan Leng Bingxin sedari awal, wajah yang tampan itu berubah manjadi dingin, menatap Leng Bingxin dengan tatapan kosong untuk beberapa saat, ada kilatan sinar rumit yang melintas di matanya.


“Sebenarnya kamu siapa?” Bei Fengchen sepertinya sudah tidak dapat mengendalikan kata-kata yang sudah ditekannya begitu lama, sejak satu setengah tahun yang lalu, dirinya sudah curiga bahwa Leng Bingxin pasti memiliki latar belakang yang tidak biasa, tapi pada saat ini, dirinya tidak menyangka bahwa Leng Bingxin ternyata…

__ADS_1


Ketika kalimat itu diucapkan, terdapat sedikit kesedihan yang bergejolak di mata Bei Fengchen yang jernih.


Tanda di dahi Bei Fengchen sangat merah. Dulu di Istana, Leng Bingxin pernah mendengar bahwa Pangeran akan berada dalam situasi seperti ini ketika dia sangat marah atau sangat bersemangat.


“Pangeran, aku hanyalah seorang penari di sisimu!” Leng Bingxin tidak ingin Bei Fengchen terlalu banyak berpikir, jadi berkata seperti itu dengan tatapan tanpa emosi sama sekali.


“Benarkah? Kalau begitu sekarang aku ingin tahu siapa dirimu di masa lalu.” Bei Fengchen memutuskan untuk berhenti berbicara omong kosong, dirinya ingin tahu dengan jelas mengenai masa lalu Leng Bingxin dan segalanya tentangnya. Karena di dalam hatinya, Leng Bingxin tidak sesederhana sekedar gadis penyanyi dan penari ataupun bidak catur semata.


Leng Bingxin berjalan ke sisi Bei Fengchen tanpa ragu lalu berkata dengan tatapan mata dingin: “Apa yang ingin kamu ketahui?”


“Apa kamu adalah wanita yang disebut oleh Kaisar Zhaolie?”


“Haha!” Ada kilatan dingin yang terlintas di mata Leng Bingxin, tiba-tiba dia menutup mulutnya dan tersenyum pelan, senyum itu sangat menawan tapi juga begitu sedih: “Bagaimana menurutmu? Dia adalah Kaisar, bagaimana mungkin aku adalah wanita yang dirindukannya itu? Pangeran, kamu terlalu memandang tinggi diriku.”


“Kamu adalah Ratu Negara Kangqing, benar bukan?!” Tiba-tiba Bei Fengchen mundur selangkah, mengatupkan bibirnya dan berkata dengan datar.

__ADS_1


Leng Bingxin sedikit terkejut, jari-jarinya yang ramping mengepal erat, wajahnya yang cantik itu sangat pucat hingga tidak bisa melihat jejak darah sama sekali. Mata yang jernih itu dipenuhi dengan kebingungan, kemudian berubah menjadi tatapan yang penuh dengan kebencian.


__ADS_2