
Setelah berpikir sejenak, Lu’er pun menjawab dengan jujur, “Kaisar bilang Nyonya tidak usah terlalu khawatir. Kaisar akan mengurusnya sendiri.”
Mendengar jawaban dari Lu’er, Qin Ruojiu pun menganggukkan kepalanya dan bertanya lagi, “Sekarang sudah jam berapa?” Meskipun Qin Ruojiu tahu dia tidak tidur terlalu lama di atas kasur, tetapi dia merasa kayu kasurnya itu sudah mau rusak. Penyiksaan semalam yang diberikan pria itu tidak tahu harus sampai kapan baru bisa pulih kembali.
Lu’er menjawab dengan lembut, “Nyonya, sekarang baru jam tiga lebih, bagaimana kalau Nyonya istirahat lagi? Kalau Nyonya lapar, sekarang budak bisa pergi menyiapkan makanan untuk anda.”
“Tidak usah, saya masih ada urusan.” Setelah mendengar jawaban dari Lu’er Qin Ruojiu pun berusaha untuk bangkit turun dari kasurnya.
“Nyonya anda mau ngapain?” Lu’er menatap ke arah Qin Ruojiu dengan tatapan bingung dan tidak mengerti.
Qin Ruojiu mengusap bibirnya sebentar lalu menoleh ke arahnya dan berkata, “Aku mau kamu bantu aku sisiran sebentar. Aku mau pergi jenguk Pangeran Kesembilan.”
Mendengar perkataan itu, Lu’er langsung mengerutkan alisnya dan berkata, “Nyonya, seperti hal itu nggak begitu bagus?”
__ADS_1
“Kenapa?” Qin Ruojiu merasa mimpi yang dia buat tadi pagi seolah sedang memberikan peringatan padanya. Qin Ruojiu merasa hatinya sangat tidak tenang. Kalau dia tidak bisa memastikan sendiri keadaan Pangeran Kesembilan, dia rasa dirinya tidak bisa makan dan tidur dengan tenang.
“Nyonya, anda tahu sendiri temperamen Kaisar, kalau anda sekarang pergi mencari Pangeran Kesembilan, saya takut ….” Teringat dengan kejadian yang terjadi tadi malam, Lu’er pun mulai merasa takut dan tidak tenang.
Meskipun dia tahu jelas hubungan antara Qin Ruojiu dengan Kang Yin dan isi hati Nyonya. Tetapi, mereka juga tidak boleh bertindak sesuka hati. Bagaimanapun juga, sekarang masalah Pangeran Funing masih belum beres. Pagi-pagi sekali, Kaisar langsung menghubungi para menteri istana untuk mendiskusikan bagaimana cara terbaik untuk menyelesaikan dan mempertanggungjawabkan Pangeran Funing yang terluka parah.
Benar, semua ini bukan salah Nyonya dan Pangeran Kesembilan. Tetapi, masalah ini terjadi karena ulah mereka berdua. Mau bagaimanapun juga masalah ini ada hubungan dengan mereka.
Pangeran Funing memiliki sikap yang brutal dan berani bertindak tidak hormat pada Ratu kerjaan mereka, tetapi dia beruntung karena dia adalah Pangeran dari kerajaan tetangga, jadi bagaimanapun juga mereka tidak boleh cari masalah dengannya.
“Tapi ….”
“Apa yang sudah aku putuskan pasti tidak akan aku ubah lagi!”
__ADS_1
Melihat Qin Ruojiu yang begitu tegas dan bertekad, dia tahu mau menasehatinya sampai bagaimanapun juga pasti tidak akan ada gunanya lagi. Kemudian dia hanya bisa memberikan hormat dan mengalah. Qin Ruojiu menggunakan kecepatan tercepatnya untuk bersiap-siap. Lu’er membantunya mengikat sebuah sanggul dan meletakkan aksesoris rambut yang sederhana. Kemudian dia mempersiapkan terusan berwarna putih yang membuat Qin Ruojiu terlihat begitu cantik dan suci.
Qin Ruojiu yang tidak lupa mengenakan cadar hitamnya itu pun melihat ke arah kaca, dia bahkan terlihat puas. Lu’er yang berdiri di samping itu pun terlihat puas dan berkata berkata, “Nyonya, meskipun cadar hitam itu menutupi wajah anda, tetapi kecantikan anda tetap tidak pudar!”
Qin Ruojiu yang mendengar pujian itu hanya tersenyum datar seolah tidak begitu menghiraukan pujian itu.
Dari awal dia tidak tahu cara membedakan cantik dan jelek. Hal yang paling dia perhatikan adalah sebuah hati yang tulus, hati yang tidak pernah menghina dirinya jelek dan menerimanya apa adanya.
Kemudian, Qin Ruojiu berdiri dan berkata, “Lu’er, sekarang aku sudah mau pergi menjenguk Pangeran Kesembilan.”
Lu’er ngerti maksud perkataan Qin Ruojiu dan berkata, “Pergilah, aku akan menemani anda.”
Qin Ruojiu pun menundukkan kepalanya dan tersenyum pahit, “Aku tidak selemah itu, biar aku pergi sendiri.”
__ADS_1
Lu’er pun langsung menghalanginya, “Bagusan aku temenin Nyonya, saya baru bisa tenang.”