
Hello! Im an artic!
Memikirkan hal itu, Leng Bingxin tiba-tiba mengangkat kepalanya, bibirnya yang indah itu mengulas senyum samar dan juga sulit dipahami.
Kang Yong menatap wajah tenang tanpa fluktuasi itu, ada sedikit rasa kekecewaan yang muncul dari dalam lubuk hatinya. Kenapa mendengar ucapan dari dalam lubuk hatinya, wanita itu malah menunjukkan ekspresi seperti itu? Apa merasa bahagia atau merasa bangga?
Hello! Im an artic!
Itu adalah ucapan yang membuat wanita mana pun tersentuh, tapi mengapa malah tidak bisa menyentuh hati wanita ini?
Apa dirinya sama sekali tidak memiliki posisi di dalam hati wanita ini?
__ADS_1
Untuk pertaman kalinya Kang Yong merasakan perasaan diremehkan oleh orang lain.
Kang Yong mengepalkan kedua tinjunya dengan marah, ekspresi di sudut matanya menjadi semakin dingin.
Hello! Im an artic!
“Kaisar, lepaskanlah dia pergi. Jika kamu benar-benar mencintainya, biarkanlah dia bebas.” Kata-kata Bei Fengchen terdengar begitu sopan dan rendah hati, tapi sebenarnya mata gelap itu telah memicu api kecemburuan yang sangat intens. Ya, identitas Bei Fengchen memang tidak lebih baik dari Kang Yong, pada saat ini demi wanita yang dicintainya, Bei Fengchen hanya bisa memohon pada Kang Yong dengan begitu menyedihkan.
Kang Yong melambaikan lengan pakaian berwarna emasnya, senyum aneh terulas di sudut bibirnya. Senyuman itu tampak seperti kebencian, tapi juga tampak seperti amarah, pada akhirnya malah manjadi sebuah senyum ironi yang datar.
Leng Bingxin mengangkat wajahnya dan menatap ke arah pria yang mengucapkan kalimat itu, dia berada di tempat yang begitu tinggi, kata-katanya itu dapat sepenuhnya mengendalikan hidup dan mati seseorang. Dalam ingatan Leng Bingxin, matanya itu akan selalu begitu dingin dan kompleks, seperti jurang maut tak berdasar yang membuat orang lain tidak bisa menebaknya, bahkan meski pria itu menunjukkan senyum yang anggun, tapi ejekan dingin dan samar di tatapan matanya itu tetap tidak akan berkurang.
__ADS_1
Kali ini masih seperti itu, pria itu terlihat seakan sedang membicarakan persyaratan dengan begitu lembut dan tenang, tapi sebenarnya syarat itu menginginkan nyawa orang lain.
Yang tidak diduga Leng Bingxin adalah Bei Fengchen tidak mengucapkan sepatah kata pun, dan langsung bergerak menuju tebing di belakangnya selangkah demi selangkah, langkah itu begitu tegas dan pasti.
Jantung Leng Bing tiba-tiba berdegup kencang, wajahnya langsung berubah pucat dan berteriak kencang: “Tidak …”
Bei Fengchen tidak melihat ke belakang, sosok punggungnya hanya gemetar.
Semua ini juga tidak disangka oleh Kaisar Zhaolie, dia memandang Leng Bingxin dengan tatapan yang sangat rumit kemudian berkata menekankan kata demi kata: “Sepertinya pria itu bisa mati demi dirimu. Tapi dia sangat bodoh, bahkan jika dia mati sekarang dan aku bisa melepaskanmu, tapi aku juga bisa menangkapmu kapan saja.” Ya, orang seperti Kang Yong tidak perlu mengingkari janjinya selama dirinya senang, di saat bersamaan, Kang Yong mengucapkan kata-kata ini dengan sengaja untuk melukai hati Leng Bingxin, meskipun dari cara Leng Bingxin memandangnya, Kang Yong dapat dengan jelas kebencian Leng Bingxin padanua, serta momen kesedihan ketika Leng Bingxin mendengar kata-kata itu, meskipun hati Kang Yong sedikit sakit tapi dirinya malah sengaja mengabaikannya.
Leng Bingxin lebih rela pergi dan tidak rela untuk menemani di sisinya, kalau begitu dirinya akan memperlakukan Leng Bingxin seperti ini.
__ADS_1
Tepat ketika Bei Fengchen berjalan ke tepi tebing dan mendengar ucapan dingin dan sarkas Kaisar Zhaolie, tiba-tiba Bei Fengchen menghentikan langkahnya dan menatap Kang Yong dengan tatapan mata sangat marah. Pria yang berada di tempat yang begitu tinggi itu, pria yang begitu seenaknya itu, Bei Fengchen benar-benar ingin menghancurkannya dengan telapak tangannya yang besar, tapi dirinya tahu bahwa dirinya hanya bisa membencinya di sini.
Leng Bingxin tentu saja bisa mendengar dari ucapannya bahwa pria ini tidak akan mungkin melepaskan dirinya begitu saja. Pria ini melakukan tindakan seperti ini, semua itu hanyalah untuk lebih menyiksa dirinya saja.