
Dia sering berimajinasi, kalau saja dia punya sepasang sayap, maka dia bisa terbang keluar dari jendela kamarnya dan pergi dari sini. Dia tidak perlu lagi merasakan penderitaan dan siksaan yang ada di sini lagi.
“Permaisuri, akhirnya hari ini kamu bisa beranjak dari kasur. Tapi aku masih tidak boleh berjalan terlalu lama, kalau tidak, nanti lukanya terbuka lagi.” Lu’Er menopangnya untuk jalan sambil memberinya nasehat.
Terutama karena ini adalah perintah yang sudah disampaikan oleh Kaisar sendiri, dia menjadi semakin hati-hati. Tidak boleh ada luka sedikitpun di tubuh Permaisuri, kalau tidak, dia harus membayarnya sepuluh kali lipat.
Meskipun dia tidak tahu kenapa Kaisar begitu peduli dengan Permaisuri, tetapi Lu’Er tahu tidak peduli Kaisar, dia sendiri atau siapa pun yang ada di istana ini tidak berharap Permaisuri sakit dan terluka.
Qin Ruojiu sangat berterima kasih pada Lu’Er. Beberapa waktu ini Lu’Er yang selalu merawatnya dengan sepenuh hati. Di dalam hatinya, Qin Ruojiu sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri.
“Lu’Er, kamu mau pergi jalan-jalan ke Taman Baihua, tidak? Udara di sana lumayan sejuk. Kalau ada kamu yang menemaniku, harusnya aku akan baik-baik saja” Daripada menikmati pemandangan bunga, Qin Ruojiu lebih ingin pergi mendengar suara alat musik seruling yang menenangkan.
Suara seruling yang merdu itu mampu membuat hari orang tersentuh. Di saat orang merasa kesepian, suara itu mampu membuat orang tersebut membebaskan dirinya dan keluar dari kesepian itu. Qin Ruojiu ingin merasakan rasa mabuk dan halusinasi di dalam suara seruling itu.
__ADS_1
“Permaisuri, sepertinya tidak cocok jika kita pergi ke Taman Baihua sekarang, keadaan Permaisuri belum sepenuhnya pulih.” Lu’Er tidak begitu tenang.
“Aku sudah baik-baik saja.”
Melihat Permaisuri yang bersikeras ingin pergi, Lu’Er pun tidak bisa mengatakan apa-apa, ia menganggukkan kepalanya dan menopangnya menuju Taman Baihua.
Dia ujung taman Baihua yang satunya lagi, berdiri seorang pria yang mengenakan pakaian berlengan panjang berwarna putih.
Dia menundukkan kepalanya lalu melihat ke arah seruling yang ada di tangannya. Setelah itu dia menggunakan perasaan terdalamnya dan mengusap-ngusap serulingnya
Sudah hampir satu bulan dia terus bermain seruling di sini setiap hari dan berharap orang yang mendengarnya memainkan seruling di ujung sana itu muncul di hadapannya.
Dia…Pergi ke mana dia, apa yang terjadi dengannya? Hampir setiap hari dia terus mencoba untuk menebak apa yang terjadi pada pemain Guqin itu. Tetapi walau begitu, pada akhirnya dia tetap menunggunya lagi dengan bodoh di sini dan berharap ada keajaiban yang terjadi. Berharap orang yang mendengarnya itu, bisa hadir dan memainkan alat musiknya, mengiringi suara seruling yang dimainkannya.
__ADS_1
Tetapi, setiap kali, dia akan kecewa. Dia semakin ia mengharapkan kehadirannya, maka rasa kecewa yang dia rasakan itu juga ikut menjadi lebih dalam lagi.
Hari ini, apakah dia perlu memainkan serulingnya yang merdu dan penuh perasaan itu? Dia merasa sedikit ragu. Benar, dia sudah memainkan serulingnya dengan begitu sungguh-sungguh dan penuh perasaan, tetapi dia tetap tidak dapat merasakan kehadiran orang yang mendengarnya memainkan seruling itu. Rasa takut yang tidak dapat dideskripsikan itu membuatnya merasa sedih.
Dia menggenggam serulingnya dengan erat lalu memberitahukan dirinya sendiri. Hari ini, mungkin dia akan muncul, mungkin orang itu akan mendengarnya, lalu melampiaskan kesepian dan keluar dari rasa kesepian itu bersama dengannya.
Walaupun setiap kali sebelum dia mulai bermain serulingnya dia selalu berkata demikian pada dirinya sendiri, tetapi dia rasa mungkin wanita itu juga sedang mendengar suara seruling yang dimainkan olehnya. Tetapi, hari ini dia malah merasa sedikit lebih takut dan tidak berani berharap banyak. Benar, harapan yang terlalu besar hanya membuat kekecewaannya itu menjadi semakin dalam saja. Dia belum pernah melihat wajah wanita itu, tetapi dia sudah begitu tertarik dengan suara guqinnya yang memikat itu dan menjadi penggemar wanita itu. Sebulan ini dia sudah hampir menjadi gila gara-gara wanita ini. Hanya saja kepergian wanita ini yang begitu tiba-tiba, membuatnya merasa sangat sedih.
Sudahlah, setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing, wanita itu sepertinya sudah pergi.
Ini semua adalah salahnya sendiri yang waktu itu tidak manahan wanita itu untuk pergi. Ia diberikan kesempatan untuk melihat wanita itu dari belakang, seharusnya ia menggunakan kesempatan itu untuk berkenalan dengannya. Benar-benar sayang sekali, sekarang semuanya sudah terlambat dan yang tersisa hanyalah penyesalan..
Kang Yin pun menyimpan serulingnya dengan wajahnya yang penuh dengan kekecewaan. Tepat ketika dia hendak berbalik untuk meninggal kan tempat itu, dia mendengar suara rendah yang terdengar sedikit terkejut, “Pangeran ke 9, kenapa kamu ada di sini?”
__ADS_1