
Hello! Im an artic!
Pada saat ini, Kaisar Zhaolie merasakan kepanikan yang belum pernah dirasakannya sebelumnya, melihat sosok kurus yang sudah pergi jauh, Kaisar Zhaolie melesat cepat untuk mengejarnya.
Saat Qin Ruojiu hendak melangkah memasuki gerbang depan, Kaisar Zhaolie menahan bahu Qin Ruojiu dan dengan kasar menarik tubuh Qin Ruojiu yang ringan itu masuk ke dalam pelukannya.
Hello! Im an artic!
Ketika Qin Ruojiu sudah memasuki pelukannya, Kaisar Zhaolie memeluknya erat-erat, membenamkan dagunya di leher Qin Ruojiu, menghirup aroma Qin Ruojiu dengan kuat, ini adalah tindakan mereka yang paling intim dan juga paling dekat yang pernah dilakukan mereka sebelumnya untuk bisa memahami pikiran satu sama lain.
Tapi saat ini, Qin Ruojiu tidak memeluk Kaisar Zhaolie dengan erat seperti sebelumnya, tapi hanya tersenyum getir, membiarkan Kaisar Zhaolie memeluknya seperti boneka.
Merasakan keterasingan Qin Ruojiu, Kaisar Zhaolie kembali memeluk Qin Ruojiu semakin erat dengan penuh penyesalan dan juga mendominasi. Kaisar Zhaolie ingin menggunakan kasih sayang dan juga sifat dominasinya saat ini untuk menghilangkan rasa sakit dan juga kesedihan Qin Ruojiu pada saat ini.
__ADS_1
Hanya sayangnya Qin Ruojiu hari ini tidak mudah dibujuk seperti sebelumnya. Qin Ruojiu merasakan gerakan Kaisar Zhaolie sambil menggerakkan tubuhnya dengan sedikit tidak nyaman, tapi dirinya makin dibekap erat oleh orang yang ada di belakangnya. Dalam pelukannya, Qin Ruojiu masih bisa mencium aroma samar kayu cendana di tubuhnya. Tapi begitu memikirkan di kemudian hari tubuh ini ditakdirkan bukan menjadi miliknya, mungkin, tubuh ini bukanlah miliknya sejak awal, hati Qin Ruojiu merasa sangat sakit, jadi Qin Ruojiu mendorong Kaisar Zhaolie menjauh.
Hello! Im an artic!
Setelah Qin Ruojiu untuk pertama kalinya melakukan tindakan yang menolak rasa kasih dari Kaisar Zhaolie, ruangan itu tiba-tiba menjadi sunyi, aroma samar kayu cendana memenuhi udara, samar-samar sedikit terlihat redup.
Tidak ada jejak semangat di mata Qin Ruojiu, cahaya terakhir saat Qin Ruojiu menatapnya itu sudah seperti api yang hampir terbakar habis. Qin Ruojiu menyusut mundur beberapa langkah, ada jejak ketekadan yang terlintas di wajah cantiknya, tiba-tiba Qin Ruojiu tersenyum pada Kaisar Zhaolie, menekan kembali air mata yang menguar di matanya.
“Kaisar, aku merasa tidak enak badan hari ini, maafkan aku yang tidak sopan, aku undur diri lebih dulu.” Selesai berbicara, Qin Ruojiu kemudian berbalik dan menyingkirkan emosi sedihnya, ya, Qin Ruojiu tahu bahwa Kaisar Zhaolie melakukan ini hanya untuk menghiburnya saja, hanya untuk menghilangkan rasa bersalah di dalam hatinya.
Setelahnya, Qin Ruojiu menghapus air mata dari wajahnya lalu pergi dengan cepat.
Dua pelayan di luar pintu, yang merupakan dua pelayan kecil yang tadi mencegahnya untuk masuk, satunya sedang berlutut dan yang satunya sedang berdiri, keduanya ketakutan dikarenakan amarah Kaisar. Melihat Qin Ruojiu keluar, keduanya bergegas berlutut dan bersujud lalu berkata: “Ratu…”
__ADS_1
Qin Ruojiu melewati mereka dan langsung berlari ke arah Taman Bunga Kekaisaran.
Lu’er yang berada tidak jauh sudah melihat situasi itu, dia bergegas maju untuk menyambut Qin Ruojiu, ketika melihat Qin Ruojiu . Lu’er bertanya dengan nada sangat khawatir dan juga takut: “Permasuri, apa Kaisar datang ke sana?”
Qin Ruojiu tidak mengatakan sepatah kata pun, tapi hanya meraih tangan Lu’er kemudian bergegas berkata: “Lu’er, ayo kita pergi!”
Di sepanjang jalan, mereka sama sekali tidak berbicara.
Setelah kembali ke Istana Fengyi, Qin Ruojiu membawa dirinya pergi ke sudut sudah seperti seekor kucing liar yang terluka, dengan kaki telanjang, kedua tangannya memeluk tubuh langsingnya sendiri, kepalanya dengan tenang bersandar di lengannya sendiri, matanya menatap ke arah kejauhan, seperti sedang melihat awan di langit, dan juga seperti sedang melihat sisa cahaya yang perlahan-lahan meredup.
Sudah hampir satu jam sejak Lu’er melihat tingkah laku Permaisurinya yang seperti itu. Hatinya merasa cemas tapi dirinya tidak berani untuk bertanya.
Lu’er tahu bahwa sang Permaisuri sedang sedih, tapi dirinya tidak ingin bertanya di saat ini. Ya, jika bicara lebih banyak sekarang, bagi Permaisuri, itu bukanlah tindakan perhatian atau penghiburan, tapi itu hanya akan menaburkan garam pada lukanya di waktu yang tidak tepat.
__ADS_1
Tepat ketika Lu’er merasa tidak berdaya, Permaisuri kemudian berdiri dari sudut, matanya yang muram itu menatap ke kejauhan, kemudian dia bertanya pada Lu’er seperti manusia yang tidak memiliki jiwa: “Lu’er, menurutmu apa Kaisar menyukaiku?”
Begitu perkataan itu diucapkan, Lu’er sedikit tercengang lalu kemudian terkejut.