
Melihat tatapan Qin Ruojiu yang sedih seperti itu, Kang Yin langsung mengerutkan alisnya dan berkata dengan lembut, “Kenapa? Apa sakit lagi?”
Qin Ruojiu pun tersenyum dan langsung menyangkal, “Tidak apa-apa.”
“Kalau tidak kenapa kamu melihatku dengan tatapan seperti itu?”
Qin Ruojiu terkejut lalu melihat ke arah Kang Yin dengan tatapan matanya yang sedih dan berkaca-kaca. Kemudian dia menghela nafas dan berkata, “Kamu tahu tidak, kamu datang melihatku seperti ini sangat berbahaya. Kalau sampai ketahuan sama Kaisar, dia mungkin ….”
Tidak menunggu Qin Ruojiu selesai bicara, Kang Yin langsung mengulurkan tangannya keluar dan mengusap bibir Qin Ruojiu yang tertutup cadar hitam itu dengan lembut dan berkata, “Aku tahu, tetapi aku nggak takut. Karena aku khawatir denganmu, aku ingin pastikan kamu tidak apa-apa. Jangan Kaisar, dewa Hades pun tidak akan aku hiraukan.”
Setelah mendengar jawabannya, Qin Ruojiu pun tercengang dan terdiam dalam beberapa saat, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Akhirnya dia berkata, “Kenapa kamu mau berbuat seperti itu?”
__ADS_1
Kang Yin menatapnya dengan tatapan yang lembut dan serius, “Ruojiu, aku tahu apa yang sedang kamu khawatirkan, tetapi kamu harus percaya padaku. Meninggalkannya adalah pilihan terbaik untukmu, kalau tidak kamu akan menerima lebih banyak penderitaan lagi. Penderitaan yang akan kamu terima itu masih sangat berat, berat sampai kamu tidak mampu menahannya.”
“Aku ….”
“Jangan terus menolakku. Aku ini Kang Yin, meskipun kekuasaan yang aku miliki tidak sehebat Kaisar, tetapi aku juga adalah salah satu pria yang berkuasa di muka bumi ini. Di hidupku ini, aku hanya mau melindungi orang yang aku cintai. Sampai mati pun aku tidak akan membiarkan orang yang aku cintai mati di depanku begitu saja!”
Qin Ruojiu pun hanya bisa melihat ke arahnya dengan tatapan bengong. Dia tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Lalu dia hanya berkata, “Kang ….”
“Ruojiu, percaya sama aku. Beri aku kesempatan, aku tidak lebih buruk dari saudara Kaisar. Aku juga bisa melakukan apa yang bisa dia lakukan. Tetapi satu-satunya hal yang tidak bisa aku lakukan adalah menyakitimu!”
Setelah lewat beberapa saat, Qin Ruojiu berkata, “Bukan aku yang tidak mau memberimu kesempatan. Hanya saja sekarang Tuhan sudah membuat jalanku buntuh seperti ini. Sampai Tabib pun sudah bilang kalau aku tidak bisa mengandung lagi seumur hidupku. Apakah aku yang seperti ini layak untuk mendampingimu?”
__ADS_1
“Tidak apa-apa, aku tahu. Aku tidak peduli. Yang aku cintai darimu adalah kebaikan, ketangguhan dan kamu yang pengertian. Demi kamu, tidak peduli harus melewati berapa banyak penderitaan pun aku rela.”
Hati Qin Ruojiu tergerak mendengar apa yang dikatakan Kang Yin, lalu dia berkata, “Sebenarnya masih ada wanita yang lebih baik yang layak untukmu. Kenapa kamu harus menunggu wanita seperti diriku ini?”
Dia adalah Pangeran Kesembilan, dia adalah seorang Kaisar — Pangeran Kesembilan yang paling dipercayai Kang Yong. Tetapi sayangnya demi dirinya, dia melepaskan semua statusnya, bertengkar dengan abangnya dan melawan semua orang yang ada di dunia ini, apakah semua yang dia lakukan ini pantas untuknya?
Kang Yin menggelengkan kepalanya dan tatapan matanya itu terlihat begitu yakin dan penuh kasih sayang, “Dalam hidupku ini, kamu adalah orang yang paling mengerti diriku. Meskipun aku tidak bisa menggandeng tangan anakku ketika aku tua nanti, aku juga tetap akan setia padamu. Karena, di dunia ini tidak akan ada orang kedua yang bisa bermain kecapi untuk mengiringi musik serulingku dan aku tidak akan pernah bisa menemukan orang yang bisa berbincang denganku. Bahkan melalui musik pun, kita bisa memahami isi hati satu sama lain.”
Qin Ruojiu yang tadinya masih gelisah dan takut itu pun langsung merasa yakin setelah mendengar apa yang dikatakan Kang Yin. Tanpa rasa ragu-ragu sedikitpun, Qin Ruojiu langsung menjawabnya, “Baik!”.
Kang Yin yang mendengar jawabannya itu masih merasa dia sedang berhalusinasi. Kemudian, dia langsung menggenggam bahu Qin Ruojiu lalu menatap lurus ke dalam matanya dan berkata, “Apa katamu?”
__ADS_1
Qin Ruojiu melihat ke arahnya dengan tatapan malu-malu dan tersenyum malu.
Dia berkata, “Aku mau pergi denganmu, kita pergi jauh-jauh dari sini dan menjalani hidup bahagia yang kita inginkan.”