Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 657 Karena Kalian Berbuat Salah


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Iya, memalukan.”


“Baiklah, aku akan minta Paman She untuk melindungimu. Kalau dia yang melindungimu, kamu tidak akan malu.”


Hello! Im an artic!


“Penguasa Kota…” Ye Wushuang terkejut… memikirkan janji pria itu pada dirinya di awal, entah kenapa Ye Wushuang merasa pipinya agak panas.


“Kak Wushuang, kamu kenapa?” Melihat Ye Wushuang melamun sambil menatap ke kejauhan, matanya jernihnya agak berkabut, si kecil bertanya dengan rasa ingin tahu.


Ye Wushuang menggelengkan kepalanya dan berkata dengan lembut, “Tidak apa-apa, tenang saja. Aku tidak akan membiarkan diriku ditindas orang lain lagi. Sedangkan kamu, tadi kakimu tidak terluka, kan?”


“Tidak.”


Hello! Im an artic!


“Tidak bisa, aku harus memeriksanya sebentar. Kalau ada yang tidak beres, harus diperiksa oleh tabib.”


“Tidak, sungguh tidak…”

__ADS_1


Pada malam harinya…


Di Hutan Qifeng, ada dua sosok anggun yang menampakkan bayang-bayang yang ramping dan misterius di gelap malam.


Angin malam yang ringan bertiup menerpa tubuh mereka, pakaian mereka berkibar dan rambut panjang mereka terlihat sedikit mengerikan nan misterius. Untungnya ini adalah area terlarang di Kastil Wuyou, orang biasa tidak diperbolehkan masuk. Kalau tidak, semua orang yang melihat sosok ini di tengah malam akan mengira itu hantu.


“Kak Bai Zhi, menurutmu kenapa Penguasa Kota ingin bertemu kita malam-malam begini?”


Terdengar harapan dan keceriaan di balik suara Hong Luan, memenuhi hutan yang kosong dan sepi.


Namun, Bai Zhi mengerutkan kening dan berkata dengan ekspresi tidak nyaman, “Aku punya firasat buruk.”


“Kenapa begitu?”


Mendengar ucapan Bai Zhi yang terdengar takut, Hong Luang berkata dengan tak acuh, “Kamu berpikir terlalu banyak. Pasti Penguasa Kota memanggil kita karena rindu pada kita.”


“Semoga saja…” Mengingat apa yang terjadi siang tadi, Bai Zhi berusaha menghibur dirinya sendiri. Tapi hatinya merasa tidak yakin.


Saat ini, di kedalaman hutan yang gelap, hanya terdengar suara hembusan angin kencang. Bayangan hitam ramping berlari cepat layaknya kilat, posisi pendaratannya tepat ke arah Bai Zhi dan Hong Luan.


Melihat sosok ini, keduanya segera mundur beberapa langkah. Setelah bayangan itu mendarat sempurna, barulah mereka membungkuk hormat, “Kami menghadap Penguasa Kota.”

__ADS_1


Pria yang mendarat di samping mereka tidak bicara, tapi Hong Luan dan Bai Zhi bisa merasakan aura dingin yang terpancar dari pria itu.


Di bawah gelapnya malam, pria itu tampak bagaikan dewa, begitu agung di tengah pepohonan. Ketika pria itu mengangkat matanya dan melihat pada dunia, auranya begitu mulia hingga membuat orang tidak berani menatap balik.


Hong Luan yang awalnya berharap untuk bertemu pria terhormat di hadapannya ini, tapi ketika melihatnya saat ini, dia menjadi panik luar biasa.


Apalagi ketika pria itu tidak berbicara, hal ini membuat orang lain semakin merasa takut. Biasanya Penguasa Kota akan bungkam seperti ini kalau ada orang yang melakukan kesalahan.


Setelah sekian lama, terdengar suara yang seperti turun dari langit, berbaur dengan suara angin dan mengalir jauh ke telinga keduanya.


“Kalian tahu kenapa aku memanggil kalian kemari?”


Keduanya saling memandang, menggelengkan kepala dengan perasaan takut.


Ekspresi pria itu tampak dingin, di bawah cahaya bulan dingin dan temaram, pria itu berdiri dengan tangan di belakang punggungnya dan menunjukkan gaya yang elegan.


“Karena kalian berbuat salah.”


“Hong Luan tidak tahu kesalahan apa yang telah aku buat, mohon penjelasan dari Penguasa Kota.” Hong Luan berbicara sambil berlutut di tanah, seolah mengaku bersalah.


Ekspresi She Jingtian menjadi muram, mata hitamnya sedikit berkedut dan nada bicaranya terdengar malas tapi tetap mengesankan, “Kenapa kalian menindas Ye Wushuang?”

__ADS_1


Setelah mendengar ini, Bai Zhi terkejut. Diam-diam dia berpikir, ternyata Penguasa Kota datang karena masalah siang tadi. Sepertinya dia memang telah melakukan kesalahan.


Hong Luan menggertakkan giginya, ekspresinya tampak cemburu dan tidak rela, “Jadi Penguasa Kota datang kemari untuk membela wanita itu!”


__ADS_2