Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 370 Bagaimana Mungkin Tega Untuk Melukai


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Menurut Kakak, apa ucapan pemuda yang bernama Tuyang itu akurat? Lagipula hatiku ini merasa cemas, dia berkata dalam 3 hari ini Permaisuri akan mengalami bencana berdarah, jadi aku benar-benar berharap 3 hari ini berlalu dalam sekejap mata.”


“Hei… jangan sembaranagn bicara, Permaisuri itu memiliki nasibnya sendiri, dan lagi, bagaimana mungkin Kaisar tega untuk melukai Permaisuri?”


Hello! Im an artic!


“Benar juga!”


Keduanya mengobrol sambil memasuki ruangan, awalnya mengira Qin Ruojiu mungkin tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam dan masih tertidur, siapa sangka Qin Ruojiu sudah bangun dan berpakaian.

__ADS_1


Keduanya membeku, menyesali apa yang baru saja mereka bicarakan tadi.


Qin Ruojiu mengabaikan ekspresi kaku mereka berdua, hanya berkata dengan senyum lelah: “Kenapa masih diam saja? Cepat bantu aku merias diri!”


Hello! Im an artic!


Baru kemudian keduanya memecah keheningan dan menjawab: “Baik, kami datang!”


Seperti biasa, Qin Ruojiu tidak pernah meminta orang lain menghabiskan begitu banyak waktu untuk meriasnya.


Bahkan Yan’er dan Lu’er juga biasanya tidak perlu menghabiskan waktu lama untuk mencoba mendandani seseorang.

__ADS_1


Mungkin, masing-masing dari mereka sedang memikirkan hal yang mereka khawatirkan, dan masing – masing sedang berspekulasi mengenai hal-hal yang tidak berani mereka bayangkan, jadinya membuat riasan kali ini memakan waktu sangat lama.


Ketika mendongak, Qin Ruojiu berpikir dirinya salah lihat.


Dirinya di depan cermin, mengenakan pakaian berwarna putih, ketika angin berhembus, gaunnya ini juga akan berkibar tertiup angin.


Ketika mengangkat tatapan matanya, Lu’er sedang membuat sanggul yang sangat indah di atas kepalanya. Saat ini Yan’er sedang memasukkan 6 jepit rambut giok putih bening masing-masing di sisi kiri dan kanan di belakang sanggul rambutnya, jepit rambut lonceng semacam ini akan mengeluarkan suara yang gemerincing halus pada saat dirinya berjalan, biasanya Qin Ruojiu tidak akan memakai aksesoris semacam ini.


Tanpa diduga, Yan’er menggunakan semuanya hari ini. Dan lagi masih ada sepasang jepit rambut bunga berlapis giok yang disisipkan di setiap sisi sanggul rambut, dibuat tampak seperti sepasang kupu-kupu yang mengelilingi bunga magnolia. Di tengah sanggul rambut disisipkan aksesoris berbentuk burung phoenix yang membentang, enam sisi bertatahkan giok dan bertatahkan emas, kepala phoenix terbuat dari daun emas, leher, dada, perut, kaki, dan lainnya, semuanya itu terbuat dari benang emas sehalus rambut yang dibentuk hingga sedemikian rupa, di atasnya dihiasi dengan permata dengan berbagai warna, mulut Phoenix membawa untaian manik-manik dan giok yang tergantung memajang, manik-manik bundar terakhir terpatri di tengah alis. Sanggul itu berada di atas bunga peony yang mekar penuh, bunganya itu mencolok seterang api, kelopak-kelopak ganda bercahaya dengan kilau merah keemasan, gugusan itu seperti awan merah yang menekan di atas kepala, begitu indah dan menawan, rambutnya yang berwarna hitam itu dibentuk dengan begitu mempesona. Qin Ruojiu tidak memakai kalung apapun di lehernya, hanya membiarkan mereka menggambar dengan pola bunga merah tua dan cabang hijau daun yang digambar dengan bubuk perak dan dihiasi dengan batu diamond yang tersebar, batang dan daun yang saling terjerat dan tak ada habis-habisnya terlihat indah. Anting-anting batu akik merah bertatahkan emas dengan warna yang senada memiliki jumbai panjang yang jatuh hingga ke tulang belikat, terasa sedikit dingin dan juga geli.


Setelah Qin Ruojiu dikejutkan oleh riasan dan aksesoris rambutnya, dia kemudian melihat tampilan alisnya, wajahnya yang cantik dirias dengan sedemikian rupa, pemerah pipi diaplikasikan di wajahnya, bahkan bubuk mutiara juga diterapkan dengan samar, membentuk riasan putih merona, wajahnya yang pucat redup itu berubah menjadi warna merah samar. Sekilas dilihat riasan ini benar-benar membuat hati bergetar, tapi Qin Ruojiu mencoba ingin menghentikan Lu’er untuk lanjut meriasnya seperti ini.

__ADS_1


Pada saat ini, Lu’er malah berkata dengan suara pelan: “Permaisuri, aku akan menambahkan riasan bunga pir di alismu, bagaimana? Ketika tidur siang hari itu, Permaisuri berbaring dengan tenang di bawah pohon bunga pir di taman belakang Istana Fengyi, kelopak bunga pir mulai berjatuhan di atas alis. Saat itu Permaisuri tidak tahu betapa cantiknya diri Permaisuri!”


__ADS_2