Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 543 Kesempatan Terakhir


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Sepasang tangan besar mulai bergerilya di punggung Ye Wushuang dengan terampil dan tidak senonoh, sepasang mata yang dipenuhi dengan hasrat itu seakan ingin memakan Ye Wushuang kapan saja. Tidak peduli seberapa gelap cahaya bulan, Ye Wushuang tahu bahwa malam ini sangat berbahaya, karena Ji Xingyun adalah seorang Kaisar yang mulia, bahkan dalam kondisi yang panik seperti ini pun, Ye Wushuang tidak bisa berteriak kencang dan juga melawan, Ye Wushuang hanya bisa mengertakkan giginya dan melepas cadarnya yang bahkan dikenakannya saat dirinya tidur.


Melalui cahaya yang redup, Ye Wushuang dengan jelas melihat bahwa pupil hitam yang awalnya sedikit kabur dan mabuk itu tiba-tiba menjadi sadar dan dingin pada saat cadar itu dibuka.


Hello! Im an artic!


Ji Xingyun melihat langsung ke wajah kirinya, wajahnya yang kaku itu seketika dilapisi oleh embun beku, pupilnya yang berwarna coklat muda membelalak sedikit demi sedikit, seolah-olah percikan api seketika muncul di luar kendali.


Ye Wushuang menatapnya dengan dingin, berkata dalam hati, pria memang benar-benar makhluk yang dangkal, mereka selamanya akan tergoda oleh penampilan cantik. Ye Wushuang bersyukur parasnya sudah rusak, jika tidak maka tidak akan tahu apa yang harus dilakukannya ketika berhadapan dengan serangan seorang Kaisar seperti ini. Selama memiliki paras yang jelek, itu merupakan senjata terbaik untuk melawan.

__ADS_1


Dengan demikian, suasana yang begitu indah dan memabukkan itu seketika hancur oleh wajah yang terekspos itu, keduanya saling memandang satu sama lain untuk sekian lama, di saat bersamaan ketika pupil hitam gelap milik Ji Xingyun memantulkan rasa dingin, terdapat juga sedikit rasa kejam di dalamnya.


“Qin Ruchen, kamu menyerah akan kesempatan terakhirmu untuk menyenangkanku.” Setelah selesai berbicara, Ji Xingyun bangkit berdiri dengan dingin, terdapat rasa jijik dan juga kesal di tatapan matanya.


Hello! Im an artic!


Ji Xingyun membenci paras dan motif terselubung Qin Ruchen, menyesal dirinya masih memiliki dorongan hati terhadap wanita ini, dirinya benar-benar gila hingga bisa kehilangan kendali seperti ini.


Ketika Ji Xingyun melihat Qin Ruchen tidak berkata apa-apa, Ji Xingyun berpikir Qin Ruchen sudah menyesal, Ji Xingyun tidak bisa rasa sinisnya dan berkata mengejek: “Aku bisa memberitahumu dengan jelas, aku bisa menghancurkan parasnmu maka aku juga dapat menghabisi nyawamu. Jangan berpikir kamu ingin mengambil kesempatan untuk melakukan sesuatu, itu hanya mimpimu belaka.”


Ya, bagi Ji Xingyun, Qin Ruchen membuka cadar di hadapannya ketika dirinya sedang melakukan tindakan impulsif, itu membuktikan bahwa Qin Ruchen memiliki motif tersembunyi. Tujuannya tidak lebih ingin membuatnya mengingat bahwa wajah itu telah dihancurkan olehnya, seolah-olah untuk membangkitkan rasa bersalahnya, dengan begitu Qin Ruchen memiliki kesempatan untuk mendapatkan kembali identitasnya?

__ADS_1


Tidak, Qin Ruchen salah, tindakannya pada Qin Ruchen tadi sepenuhnya karena dorongan impulsif, tidak ada perasaan dan cinta sama sekali. Setahun yang lalu, setelah melihat metode dan tipu muslihat wanita ini, Ji Xingyun sudah tidak memiliki perasaan apa-apa padanya selain rasa kesal dan juga toleransi. Baru setelah kedatangan Xueyan, dirinya yang begitu baik dan lembut serta penuh kasih sayang, membuat Ji Xingyun mau tidak mau meledak dikarenakan semua tindakan Qin Ruchen si wanita kejam ini.


Qin Ruchen mengingatkan Ji Xingyun ketika dirinya terhanyut oleh tindakannya, ini tidak hanya membuat Qin Ruchen tidak memiliki kesempatan untuk melakukan tindakan penebusan, tapi juga membuat Ji Xingyun merasa semakin jijik. Sebenarnya Ji Xingyun tidak paham bahwa Ye Wushuang hanya ingin menakutinya dengan parasnya yang jelek saja, sama sekali tidak berpikir terlalu banyak. Tapi di Istana ini, siapa yang percaya ada orang yang masih memiliki pemikiran yang murni dan bersih?


“Jagalah kelakuanmu!”


Setelah meninggalkan kata-kata yang dingin seperti itu, Ji Xingyun menghempaskan lengan pakaiannya lalu pergi tanpa menghentikan langkahnya.


Di bawah malam yang gelap, sosoknya yang tinggi menghilang seperti hantu, jika bukan karena pintu ruangan yang dibuka terus menerus menghembuskan sedikit angin dingin ke dalam, takutnya Ye Wushuang juga sulit membayangkan bahwa apa yang baru saja terjadi itu nyata adanya.


Ye Wushuang melamun di atas ranjang untuk waktu yang lama, kemudian bangkit duduk dan menarik napas panjang, tanpa sadar dirinya ternyata berkeringat dingin.

__ADS_1


__ADS_2