
Hello! Im an artic!
Dalam lubuk hati Kaisar Zhaolie, yang diinginkannya bukanlah dirinya. Qin Ruojiu yang terlalu naif saja.
“Permaisuri, sebenarnya Kaisar masih sangat menyukai Permaisuri, selama Permaisuri bersedia menerima Kaisar dan …”
Hello! Im an artic!
“Lu’er, kamu bicara omong kosong lagi, aku sudah lapar, minta orang untuk menyiapkan sarapan!”
“Permaisuri…”
“Pergilah, aku benar-benar lapar!” Qin Ruojiu berkata mendesak. Patah hati dan menangis semalaman membuat Qin Ruojiu yang sekarang benar-benar sangat lelah. Qin Ruojiu sengaja menyela Lu’er karena tidak ingin Lu’er melanjutkan ucapannya. Dengan kepintarannya, bagaimana mungkin dirinya tidak bisa paham akan ucapan Lu’er?
Menerima? Jika benar-benar membiarkan Kaisar merindukan Putri Liqing, dan orang yang dipeluknya itu adalah dirinya. Lalu bagaimana dirinya akan menjalani hidup?
__ADS_1
Hello! Im an artic!
Dirinya yang seperti ini, sudah seperti zombie, dirinya yang seperti ini, mengapa harus menerima siksaan seperti itu?
Jika seumur hidup tidak bisa mendapatkan orang yang dicintainya, bagaimana mungkin Qin Ruojiu bisa rela menjalani hidup?
Melihat Lu’er yang pergi dengan sedih, Qin Ruojiu bergumam di dalam hatinya; Maaf, Lu’er, aku tidak bisa menghadapi kebaikanmu.
Lu’er yang melangkah keluar dari ambang pintu menghela nafas pelan. DI saat bersamaan juga terus menyalahkan dirinya sendiri, ya, dirinya tidak seharusnya mengatakan hal itu. Permaisuri bukanlah wanita biasa, dengan sifatnya itu, bagaimana mungkin bisa menempatkan dirinya sebagai pengganti orang lain? Ya, Permaisuri lebih rela tidak menginginkan nyawanya, Permaisuri tidak akan rela hidup tanpa jati diri, hidup tanpa arah, dan Permaisuri tidak akan rela menjadi pajangan di sisi Kaisar.
Sebenarnya Lu’er bisa melihat hubungan antara Kaisar dan Permaisuri dengan sangat jelas. Memang benar bahwa ada Permaisuri di dalam hati Kaisar, tapi wanita yang bernama Putri Liqing itu sudah lenih dulu menempati hati Kaisar. Selama bertahun-tahun, Kaisar terus merindukan Putri Liqing, Kaisar percaya bahwa gadis yang dicintainya itu merupakan gadis suci yang tidak pernah didapatkannya. Tapi Kaisar tidak pernah berpikir bahwa mungkin dirinya akan lebih mencintai orang yang ada di sisinya.
Tapi Kaisar tidak pernah menyangka bahwa melihat dari tindakannya, Kaisar saat ini telah jatuh cinta pada Permaisuri.
Terkadang hati Kaisar sudah memberitahu dirinya sendiri bahwa dia sangat peduli pada Permaisuri, tapi Kaisar malah lebih rela membohongi dirinya sendiri, dia tidak mau menghadapinya dengan terus terang.
__ADS_1
Meskipun Permaisuri adalah Putri dari klan Penyihir, tapi parasnya tak tertandingi, cerdas, berbudi luhur, murah hati dan baik hati, Permaisuri tidak kalah dengan wanita yang bernama Liqing itu.
Mungkin, selain identitasnya, Permaisuri memang jauh dari wanita bangsawan dan anggun yang bernama Liqing itu, tapi Lu’er tidak percaya bahwa apa yang dimiliki Permaisuri sekarang tidak lebih baik dari Putri negara tetangga itu?
Kaisar bijaksana dan bijak, tapi mengapa Kaisar begitu bodoh dan keras kepala ketika berhadapan dengan perasaan?
Jelas-jelas ada wanita cantik di sisinya, tapi malah tidak menghargainya dengan baik. APa benar-benar harus menunggu sampai kehilangan baru Kaisar akan tahu siapa yang paling dicintainya?
Setelah tengah hari, Qin Ruojiu sudah selesai merapikan diri di bawah pelayanan Lu’er.
Pada saat ini, Qin Ruojiu sedang duduk sendirian di taman belakang Istana Fengyi, melamun sambil menatap ke arah bebatuan dan sungai yang ada di sampingnya. Ikan mas di dalam air berenang dengan begitu gembira, gerakan itu begitu anggun. Tapi ekspresi majikannya malah begitu suram, seolah sudah kehilangan jiwanya.
Setelah beberapa saat, Lu’er berjalan menghampiri, melihat wajah Qin Ruojiu yang cantik tapi sedikit pucat, membuka mulutnya tapi tidak mengeluarkan suara, setelah sekian lama Lu’er akhirnya berkata dengan suara pelan: “Permaisuri, ada orang yang datang untuk menemuimu!”
Qin Ruojiu sedikit mengangkat kepalanya dari lamunannya, menatap Lu’er dengan ekspresi kosong dan berkata: “Siapa yang datang?”
__ADS_1
Lu’er mengatupkan bibirnya kemudian berkata dengan kesulitan: “Pangeran ke-9!”
“Dia datang?” Saat berbicara, mata Qin Ruojiu yang awalnya kehilangan semangat itu menunjukkan sedikit cahaya dan juga sedikit keterkejutan.