
Hello! Im an artic!
“Jika aku berkata aku juga datang kemari untuk memohon sebuah pernikahan, apa kamu percaya? Dan lagi ketika aku baru saja membuat permintaan pada Dewa Yuelao, kamu langsung muncul di hadapanku.”
Ada makna di balik ucapan She Jingtian, tapi Ye Wushuang malah tidak memikirkannya dengan teliti, hanya mengulas senyum pahit di sudut bibirnya dan berkata: “Benarkah? Ternyata Tuan juga memiliki kepercayaan semacam ini.”
Hello! Im an artic!
“Semua orang menginginkan sebuah pernikahan yang baik, bukankah begitu Nona Wushuang?” She Jingtian menatap mata jernih milik Ye Wushuang dengan tatapan membara, tapi She Jingtian malah tidak bisa mengatakan pada Ye Wushuang bahwa dirinya mengikuti di sepanjang jalan ketika melihat Ye Wushuang didorong keluar dari Kastil oleh Bibi Hua. She Jingtian yang tidak pernah percaya pada hal-hal semacam ini sebelumnya, hari ini dirinya malah ikut berpartisipasi, itu semua hanya karena kemunculan Ye Wushuang.
“Ya, penguasa kota sangat heroik, dan juga merupakan pahlawan di antara orang-orang, jadi tentu saja pasti bisa memiliki sebuah pernikahan yang baik.” Ye Wushuang berkata dengan ringan, tapi cahaya di matanya yang jernih itu tenggelam sedikit demi sedikit.
__ADS_1
She Jingtian tahu Ye Wushuang berniat baik, tapi ketika mendengar ucapan yang terdengar begitu asing, dirinya merasa sedikit tidak nyaman tapi dirinya juga tidak bisa melampiaskannya pada Ye Wushuang. Jadi She Jingtian hanya bisa mengubah topik pembicaraan dan berkata: “Nona Wushuang, beberapa langkah lagi akan mencapai Kuil Yuelao, masuklah ke dalam untuk berdoa dan menyalakan dupa.”
“Ada terlalu banyak orang, sulit untuk masuk ke dalam, kurasa tidak perlu.” Ye Wushuang melihat ke dalam, sudah ada begitu banyak orang di dalam, kuil kecil itu tampak akan meledak dalam sekejap.
Hello! Im an artic!
She Jingtian malah mengerutkan kening, punggungnya terlihat sedikit kaku : “Bukankah terlihat terlalu tidak tulus jika kamu bahkan tidak menyalakan dupa?”
“Ternyata sedari awal kamu telah melihat hal-hal seperti ini dengan begitu jelas.” She Jingtian berkata dengan sedikit kecewa, tapi tatapan matanya itu tidak pernah meninggalkan Ye Wushuang.
Ye Wushuang mengatupkan bibirnya, rautnya diwarnai dengan lapisan kesedihan, menatap ke arah wanita cantik semanis madu tidak jauh dari sana yang sedang mengutarakan perasaannya pada orang yang disukainya, terdapat sedikit kelegaan di raut wajah Ye Wushuang yang berharap mereka bisa bersama selamanya.
__ADS_1
She Jingtian tidak ingin dirinya dan Ye Wushuang berakhir dalam situasi yang kaku seperti ini, She Jingtian lalu berkata dengan raut sedikit angkuh dan tidak rela: “Karena tidak ingin berdoa, maka mari kita pergi ke bangunan pernikahan.”
“Baik.” Ye Wushuang tidak menolak, Ye Wushuang mengikuti langkah She Jingtian yang bergerak menuju ke posisi Bangunan Pernikahan sedikit demi sedikit.
Dikarenakan terlalu banyak orang, mereka sulit untuk berjalan. She Jingtian takut Ye Wushuang terluka, jadi dia berkata dengan raut wajah tegas dan lugas: “Ikuti aku.”
Selesai berbicara, She Jingtian memimpin lebih dulu menerobos kerumunan, mengangkat lengannya sendiri untuk memblokir mereka yang menghalangi jalan, sedangkan Ye Wushuang mengikutinya di belakang, Ye Wushuang bisa dengan jelas melihat punggung She Jingtian yang tegap dan juga parasnya yang terlihat heroik sudah seperti seorang pangeran dalam dongeng yang membawa sang putri untuk melarikan diri dari bahaya. Hanya sayangnya, dalam dongeng itu adalah seorang putri cantik, sedangkan kenyataannya, dirinya adalah Cinderella yang cacat.
Gedung Pernikahan hanya berjarak 10 langkah dari Kuil Yuelao, tapi jumlah orangnya malah dua kali lipat lebih banyak dibanding tempat tadi. Bangunan itu tidak besar, tapi malah sudah dipenuhi oleh berbagai macam wanita muda.
Masing-masing dari mereka memegang bola kain berwarna merah di tangan mereka, beberapa ada yang terlihat malu, beberapa ada yang melihat ke sekeliling, tampak sedang mencari-cari dengan cermat, beberapa ada yang menunjuk ke arah penonton sambil berbisik dan tertawa dari waktu ke waktu. Ketika bertemu dengan beberapa gadis yang nakal, mereka dengan cekatan akan melempar bola merah di tangan mereka, seakan mereka sangat ingin mencoba hingga membuat para pemuda yang ada di bawah berteriak dengan ricuh.
__ADS_1
Melihat para pemuda yang ada di bawah loteng, mereka semua menatap ke arah bola kain merah yang ada di tangan para wanita di lantai atas, para pemuda itu sudah seperti binatang buas yang kelaparan sekian lama, mereka sedang menatap makan siang yang akhirnya bisa mereka dapatkan.