
Saat mendengar suara teriakannya, Pangeran Funing pun terkejut. Kemudian, tangannya yang sedang memegang wajah Qin Ruojiu itu pun langsung mencekik leher Qin Ruojiu sampai dia tidak bisa bernafas. Qin Ruojiu yang merasa kesakitan itu pun menarik tangan Pangeran Funing dengan erat, tetapi tidak peduli seberapa besar tenaga yang dia keluarkan, dia tetap tidak bisa mengalahkan tenaga Pangeran Funing.
“Diam!”
Pria itu pun memarahinya, tetapi dia tetap tidak berhenti melakukan tindakannya yang brutal itu. Malahan karena Qin Ruojiu berusaha untuk melawannya, emosi yang ada di dalam hatinya itu pun semakin meluap-luap. Qin Ruojiu yang ada di depannya itu terlihat sedang menahan rasa sakit yang sangat luar biasa. Wajah cantiknya yang tertutup cadar hitam itu pun terlihat memucat. Dia terus berusaha untuk menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk keluar dari cengkraman Pangeran Funing.
Melihat Qin Ruojiu sudah berhasil dikontrol olehnya, Pangeran Funing pun tersenyum dingin dan berkata, “Heng, Pangeran penasaran sekali sama wajah yang ada di balik cadar hitam ini. Wanita cantik yang ada di dunia ini sudah sering saya jumpai, tetapi ini baru pertama kalinya saya bertemu dengan perempuan yang misterius dan cerdas seperti dirimu. Hanya dengan tatapan matamu saja, kamu sudah bisa membuat begitu banyak pria terpukau, saya harap wajah di balik cadar hitammu itu tidak membuatku kecewa!”
Qin Ruojiu yang sedang menahan rasa sakit itu pun mengerutkan alisnya dan melihatnya dengan tatapan benci. Tetapi dia tetap tidak bisa mengatakan apa-apa.
Pada saat itu, Pangeran Funing langsung mengulurkan tangannya keluar dan hendak menarik cadar hitamnya.
Qin Ruojiu hanya bisa merasakan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa.
__ADS_1
Dia juga tidak bisa bergerak. Pikiran di dalam hatinya menjadi sangat kacau. Ketika dia melihat Pangeran Funing menjulurkan tangannya, dia juga tetap tidak bisa menghalanginya. Hatinya terasa sangat sedih dan tidak berdaya. Kemudian, tatapannya mulai membuyar. Tepat pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara orang berteriak dari belakang, “Lepaskan dia, kalau tidak jangan salahkan jika saya tidak menghormati anda!”
Qin Ruojiu bisa merasakan Pangeran Funing merasa terkejut ketika dia mendengar suara orang yang berteriak itu.
Tangannya sudah hampir menarik cadar hitam itu. Dia tinggal menarik cadar itu.
Mereka berdua pun menoleh ke belakang dengan perasaan terkejut dan penasaran. Pangeran Funing baru melepaskan tangannya yang sedang menerkam Qin Ruojiu.
Saat itu Qin Ruojiu baru bisa bernafas kembali.
Pria itu memegang pedang di tangannya dan melihat ke arah Pangeran Funing dengan tatapan yang kejam dan tegas.
Di bawah cahaya bulan, pedang panjang yang ada di tangannya itu memancarkan cahaya yang menyilaukan.
__ADS_1
“Kamu ini siapa, berani-beraninya kamu mengurus urusan Pangeran, kamu sudah bosan hidup yah?”
Setelah Beifeng Funing bisa melihatnya dengan jelas, dia melihatnya dengan tatapan acuh tak acuh dan penuh penghinaan. Kemudian, tangannya yang tadi hendak menarik cadar hitam Qin Ruojiu pun terasa tegang.
Qin Ruojiu berteriak dengan sedikit terkejut, “Komandan Zhuo, apakah itu kamu?”
Wajah Zhuo Ying terlihat sangat lembut. Dia berjalan maju ke arah Qin Ruojiu dan berkata, “Nyonya, anda tidak apa-apa kan?”
Qin Ruojiu merasa terharu lalu menggelengken kepalanya.
Pada saat itu, Zhuo Ying langsung mengalihkan pandangannya ke arah Funing dengan tatapan marah dan berkata, “Cepat lepaskan Nyonya saya, kalau tidak pedang ini bisa melukaimu.”
“Kamu in cuman komandan kecil saja, kamu berani melukai Pangeran?” Beifeng Funing sama sekali tidak menghiraukannya setelah dia mengetahui kedudukan Zhuo Ying.
__ADS_1
Zhuo Ying langsung melihatnya dengan tatapan dingin dan mengarahkan pedangnya ke arah Funing sambil berkata, “Kalau kamu masih tidak mau melepaskan Ratu kerajaan Kangqing, jangankan melukaimu, membunuhmu pun aku berani.”
Setelah mendengar perkataan itu, Beifeng Funing seolah tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Kemudian dia menaikkan alisnya dan berkata dengan nada dingin, “Kamu berani!”