
Pria itu seolah terkejut mendengar suara teriakan Qin Ruojiu dan membalikkan badannya ke belakang. Dia berjalan terburu-buru di kerumunan orang-orang yang membuatnya terlihat seperti sebuah batu pertama di antara bebatuan. Sosok pria itu memiliki wajah yang lembut dan sedikit dingin. Perawakan pria itu tampak sangat tegas, alisnya sangat tebal dan bulu matanya juga sangat lentik.
Selain itu dia juga memiliki kulit yang putih dan sepasang mata yang sangat jernih. Bibirnya yang tersenyum itu membuat dia terlihat bulan purnama yang hangat.
Pangkal hidungnya yang tinggi dan bibirnya yang merah membuat wajahnya terlihat begitu tajam dan tegas ketika dilihat dari samping, jubah putih yang dia kenakan membuat dia terlihat semakin berkharisma, jujur dan memiliki temperamen yang sangat lembut.
“Kang Yin?” Melihat wajah pria itu, Qin Ruojiu merasa dirinya menemukan kembali kehangatan di tengah kegundahan itu. Qin Ruojiu mengangkat gaunnya dan langsung berlari dengan gembira menghampiri pria itu. Sesampai di depan pria itu, Qin Ruojiu langsung menarik tangan pria itu lalu mengangkat kepalanya dan berkata, “Kang Qin, kenapa kamu bisa datang kemari? Luka di badanmu gimana ….”Selesai berbicara, pria dengan tatapan hangat yang ada di depannya itu tiba-tiba tersenyum dingin ke arahnya.
Dalam seketika, jarak di antara mereka berdua yang begitu dekat itu seolah langsung tertarik sampai puluhan kilometer.
Qin Ruojiu melihat ke arah pria itu dengan tatapan takut dan tidak percaya. Dia melihat pria itu berjalan meninggalkannya dengan tatapan bengong. Dari dalam jubah putih pria itu terdapat darah yang terus menetes keluar. Suara tetesan darah itu ketika terjatuh ke lantai terdengar seperti suara detak jantung di dalam dirinya.
__ADS_1
Qin Ruojiu hanya menundukkan kepalanya dan melihat ke arah darah yang ada di atas tanah itu dengan wajahnya yang pucat. Darah itu seolah sedang melihat ke arahnya dan hendak berjalan menghampirnya.
Qin Ruojiu pun terkejut dan berusaha untuk berteriak. Tetapi saat itu dia baru sadar dia tidak bisa mengeluarkan suara apa pun. Kemudian dia mengangkat kepalanya dan melihat Kang Yin yang sedang tertawa ke arahnya. Ternyata Kang Yin yang dia lihat itu adalah Kang Yin palsu dan tiba-tiba tubuh hancur.
Serpihan tubuhnya itu pun bertaburan ke atas tanah seperti bunga sakura yang berguguran di atas lantai.
Pada saat itu, dia terkejut dan hendak mengulurkan tangannya keluar. Pada saat itu dia tiba-tiba terbangun.
Setelah dia terbangun dan melihat seisi ruangannya, dia baru tersadar bahwa semua yang tadi dia lihat itu hanyalah mimpi.
Setelah itu, Qin Ruojiu baru menghela nafas dan merasa lega. Dia pun langsung duduk tegak di atas kasurnya dan melihat sekeliling kamarnya. Saat itu dia baru sadar ternyata di dalam kamarnya tidak ada siapa-siapa dan terasa sangat sunyi. Ketika dia hendak berbalik badan dan turun dari kasur, dia baru sadar ternyata di bagian dadanya ada bekas memar berwarna biru keunguan. Wajahnya memerah dan dia langsung menarik bajunya untuk menutupi bekas memar itu.
__ADS_1
Karena dia mengeluarkan banyak keringat, saat itu dia merasa kehausan. Dia berusaha untuk turun dari kasur itu tetapi dia baru sadar sekujur tubuhnya terasa tidak bertenaga. Ketika kedua kakinya menginjak lantai, dia baru sadar kedua kakinya itu terasa lemas. Qin Ruojiu teringat pasti tuntutan pria tiada batas itu yang membuat dirinya begitu tidak bertenaga hari ini. Mengingat hal itu membuat hati Qin Ruojiu terasa sedih, memangnya sebagai istrinya, apa yang bisa dia lakukan cuman hal itu?
Qin Ruojiu menghela nafas dan berencana untuk beristirahat sebentar di atas kasur. Setelah tenaga di dalam dirinya sudah sedikit memulih, dia baru berusaha untuk berdiri kembali.
Ketika dia baru selesai menuangkan secangkir teh untuk dirinya dan belum sempat meminumnya, tiba-tiba terdengar suara orang membuka pintu.
Baru masuk kamar, Lu’er langsung melihat wajah Qin Ruojiu yang pucat dan lemas. Lu’er pun terkejut dan bertanya, “Nyonya, kenapa anda sudah bangun?”
Qin Ruojiu meneguk teh yang dia tuang sendiri dan berkata, “Nggak bisa tidur lagi, makanya bangun.” Sampai sekarang, mimpi buruk itu masih terus menghantuinya. Dia tahu sekarang dirinya tidak bisa tidur dengan tenang.
Setelah mendengar hal itu, Lu’er langsung berjalan ke arahnya dan membantu menopangnya. Dia menopangnya dengan lembut dan mendudukkannya kembali ke kasur lalu berkata, “Nyonya, ketika Kaisar pergi dia bilang Nyonya tidak bisa tidur nyenyak. Maka dari itu dia mengingatkan kami untuk jangan mengganggu anda. Sekarang anda tidur lagi yah, anda lihat sendiri, sekarang wajah anda terlihat begitu pucat!”
__ADS_1
Qin Ruojiu yang mendengar hal itu pun terkejut dan langsung tersadar, “Selain itu dia masih ada bilang apa lagi?”