Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 766 Dia Hanya Milikku Seorang


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Aku……”


Ye Wushuang menunduk malu-malu, ingin mengatakan sesuatu tapi pada akhirnya berhenti, sulit untuk mengungkapkan perasaan dalam hatinya.


Hello! Im an artic!


Sedangkan seseorang sudah tidak sabar lagi menunggu.


Detik berikutnya, bibir merah dingin milik She Jingtian dengan hangat membungkam semua kata-kata Ye Wushuang.


“Wushuang… Wushuang… Kamu adalah milikku, selamanya hanya menjadi milikku…” Malam ini, She Jingtian mengulangi kalimat ini tanpa henti, seolah-olah dia ingin Ye Wushuang mengingat di dalam hatinya bahwa dia hanya miliknya.



Hello! Im an artic!


Malam ini, cahaya bulan begitu menggoda dan indah.

__ADS_1


Di depan jendela, pemandangannya sangat indah, pakaian yang berserakan di lantai sudah seperti kupu-kupu yang sedang menari.


Di atas ranjang, merupakan erangan penuh kasih sayang milik mereka, merupakan keterikatan cinta milik mereka.


Keesokan harinya…


Langit baru saja terang, burung-burung di dahan pohon sudah berkicau dengan riang, seolah sedang terlebih dulu menyambut hari yang indah ini.


Ye Wushuang membuka matanya, melihat pakaian yang berserakan di lantai dan juga tubuh telanjangnya saat ini, seketika dirinya merasa sangat malu lalu mengambil gaunnya yang ada di lantai untuk menutupi tubuh polos putihnya dengan panik.


Menoleh ke belakang, melihat She Jingtian yang tidur dengan nyenyak, parasnya yang tampan terlihat begitu bercahaya dan lembut, membuat orang lain tidak bisa melihat kedinginan dan juga kebenciannya di masa lalu.


Dengan pelan menyusuri alis She Jingtian hingga pipinya yang terpatri tegas dengan menggunakan ujung jarinya.


She Jingtian sangat tampan, tampilannya ketika tidur seperti ini bahkan bisa dengan mudah membuat orang lain terpana, jika sedang membuka mata, betapa menawan dirinya?


Teringat kembali tindakannya yang menerobos masuk kemarin malam, di bawah pengakuan She Jingtian yang lembut dan penuh kasih sayang, pertahanan Ye Wushuang benar-benar runtuh di hadapannya. Sekarang ketika dingat kembali, wajah Ye Wushuang kembali memerah karena malu. Dirinya segeran turun dari ranjang dan memakai pakaiannya, dirinya harus pergi, jika nantinya She Jingtian sudah bangun, seberapa canggungnya mereka berdua?


Hmm? Di mana cadarnya?

__ADS_1


Ye Wushuang sudah selesai memakai pakaiannya, tapi cadarnya masih tidak bisa ditemukan.


Ye Wushuang yang sedikit cemas kemudian mengangkat sedikit sudut selimut, tidak disangka ternyata cadar perak itu ditekan dengan kuat oleh tubuh She Jingtian yang kuat dan kokoh.


Ye Wushuang tersipu malu, tidak tahu harus berbuat apa, melirik sekilas ke arah She Jingtian yang sepasang matanya masih terpejam rapat, Ye Wushuang ragu-ragu sejenak lalu pada akhirnya mengulurkan tangan untuk menarik cadar itu.


Tapi baru setengah jalan, pihak lain sepertinya memiliki sedikit reaksi lalu memiringkan tubuhnya, selimut langsung tergelincir dan seluruh bagian bawah milik She Jingtian terlihat sepenuhnya seperti itu.


Sedangkan “adik kedua” yang bersemangat itu juga sudah berdiri dengan tegak, terlihat seperti hendak memberi hormat pada Ye Wushuang, membuat Ye Wushuang hampir berteriak karena terkejut.


Untungnya Ye Wushuang memiliki reflek yang bagus, dia langsung menutup mulutnya, dirinya tidak berani bertindak sembarangan dan hanya bisa menyerah lalu melarikan diri.


Siapa tahu, setelah Ye Wushuang keluar dari pintu, sepasang mata yang tajam dan dalam itu terbuka lebar. Setelah beberapa saat, sudut bibir She Jingtian tanpa sadar menunjukkan seringai sukses yang nakal.


Karena Ye Wushuang meninggalkan kamarnya untuk She Jingtian, ditambah pakaiannya saat ini sangat berantakan hingga membuat orang lain akan berpikir Ye Wushuang tidak punya tempat untuk pergi, jadi Ye Wushuang hanya bisa memilih untuk pergi ke kamar sebelah milik Bibi Hua untuk membersihkan dan merapikan dirinya.


Bibi Hua yang sedang menjemur pakaian di halaman pagi-pagi sekali, melihat Ye Wushuang yang terlihat berantakan serta wajahnya yang panik seakan sedang melarikan diri, Bibi Hua menghampirinya dengan sedikit khawatir dan berkata: “Nona Wushuang, kamu kenapa?”


Ekspresi Ye Wushuang sedikit kaku, dia melihat sekeliling dengan canggung lalu menyadari bahwa tidak ada orang lain di sana, kemudian Ye Wushuang baru menghela nafas lega dan berkata: “Bibi Hua, apa bisa pergi ke kamarmu untuk berbicara?”

__ADS_1


__ADS_2