
Hello! Im an artic!
Setelah selesai berbicara, Lu’er berbalik dan pergi, ketika berada di ujung, Lu’er tiba-tiba berbalik dan tersenyum sedih ke arah Leng Bingxin dan berkata: “Permaisuri, meskipun semuanya telah berubah, tapi ekspresi kebencian dan kerinduan Permaisuri ketika melihat Istana ini, semua Itu selamanya tidak pernah bisa berubah. Dan lagi, setiap tahunnya aku selalu pergi ke makam Xiao Huan untuk memperingati kematiannya, jika Permaisuri bisa maka Permaisuri bisa pergi melihatnya, kurasa jika Permaisuri memiliki sesuatu yang tidak nyaman untuk dikatakan, mungkin Permaisuri bisa memberitahu Xiao Huan, dengan begitu Permaisuri akan merasa lebih baik. Lagipula orang yang sudah meninggal tidak akan bisa menyebarkan rahasia.”
Di jalan kecil sepi yang dikelilingi oleh bunga, air mata Leng Bingxin sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit di dalam hatinya dan tiba-tiba menetes jatuh.
Hello! Im an artic!
Lu’er bagaimana mungkin pernah mengucapkan kata-kata yang tajam seperti itu pada dirinya? Bisa dilihat Lu’er seperti ini pasti karena menerima begitu banyak penderitaan selama di Istana. Ya, dalam 2 tahun terakhir, Lu’er mengharapkan dan menunggu dalam diam, betapa sulitnya dirinya. Dan lagi Leng Bingxin juga tidak bisa mengenalinya secara langsung, tidak tahu seberapa tidak nyamannya hati Lu’er.
Berpikir sampai di sini, jantung Leng Bingxin semakin bertambah sakit.
__ADS_1
“Jika begitu menyakitkan, kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya padanya?” Saat air mata Leng Bingxin jatuh, suara pria yang rendah tiba-tiba terdengar dari arah belakangnya, suara itu begitu dalam hingga membuat orang lain tidak bisa memahami pemikirannya. Ada kegembiraan yang tidak bisa disembunyikan dalam suara pihak itu, tapi di kedalaman kegembiraan itu juga membuat orang lain merasa sedikit tidak nyaman.
Tentu saja Leng Bingxin mengenali suara siapa itu, saat itu juga Leng Bingxin berbalik dengan terkejut dan membelalakkan matanya dengan tidak percaya.
Hello! Im an artic!
Pria di hadapannya mengenakan jubah naga emas, terlihat sangat mempesona di bawah cahaya matahari. Ya, orang ini bukanlah orang lain, melainkan Kaisar Zhaolie yang tadi baru saja pergi.
Dia… apa dia tahu sesuatu? Segala sesuatunya tadi… Sebelum semua pertanyaan itu diucapkan menjadi kata-kata, Leng Bingxin mengepalkan tinjunya dengan pelan, melangkah maju dengan ekspresi marah dan berkata: “Kamu tidak pergi ke tempat Selir Mulia tapi malah mengikutiku?”
Ketika Kaisar Zhaolie mendengar ucapan ini, sebuah senyum sekilas muncul di tatapan matanya, kemudian Kaisar Zhaolie berjalan dengan tenang seolah-olah tidak ada yang terjadi, rambut hitamnya itu berkibar karena tertiup oleh hembusan angin, garis wajahnya yang tajam itu tampak terlihat jelas bagai sebuah ukiran, mata yang hitam dan tegas itu menjadi semakin dalam di malam yang gelap, tatapan mata yang tampak seperti dewa kematian yang membawa sabit membuat Leng Bingxin yang ada di sana tanpa sadar merasa bergidik. Tapi Kaisar Zhaolie malah seakan tidak melihat apapun, berjalan selangkah demi selangkah dengan senyum misterius yang tidak bisa ditebak.
__ADS_1
Melihat tampilan Kaisar Zhaolie yang aneh, Leng Bingxin menelan ludahnya dan menatapnya dengan tatapan benci dan tidak bersuara.
Kaisar Zhaolie berkata: “Jika aku pergi ke tempat Selir Mulia, bagaimana mungkin aku bisa melihat adengan yang begitu menarik ini.”
“Menarik? Aku tidak tahu apa yang Kaisar bicarakan.” Ekspresi Leng Bingxin sedikit berubah dan dirinya berkata dengan terkejut. Di saat bersamaan, Leng Bingxin berbalik, tidak berani menatap mata hitam yang menatapnya lekat-lekat itu.
“Qin Ruojiu, kamu ingin berpura-pura sampai kapan? Apa kembali ke sisiku itu akan membuatmu begitu menderita?”
Suara Kaisar Zhaolie yang hampir meraung itu membuat akal sehat Leng Bingxin sedikit kembali, Leng Bingxin menoleh dan tersenyum padanya dengan datar, senyum itu tampak begitu dingin di wajahnya: “Kaisar, jangan katakan Kaisar mengenaliku sebagai mantan Ratu lagi? Bukankah aku sudah mengatakan…”
“Diam, menurutmu setelah semua ini, aku masih mungkin salah mengenali? Jika kamu bukan dia, mengapa kamu datang ke Istana Fengyi dengan begitu lancarnya? Jika kamu bukan dia, mengapa kamu bisa menunjukkan ekspresi sedih seperti itu ketika kamu melihat Lu’er? Jika kamu bukan dia, mengapa kamu bisa begitu menolakku?”
__ADS_1