Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 47 Siapa Yang Akan Melihat Hasil Karyanya


__ADS_3

Yan’er tidak terima, dia menghampiri Qin Ruojiu, “Aku sudah menahan diri, tetapi mereka malah menindas Permaisuri. Kenapa bubur sarang walet Selir Zhen harus dimasak lebih lama dan lebih teliti? Sedangkan punya Permaisuri hanya dimasak asal-asalan!”


Xiao Huan sepertinya juga marah, dia mengadu, “Betul, dayang dari Selir Zhen yang namanya Dongqing semakin kelewatan, makanan ringan yang masih baru semuanya dibawa ke Paviliun Xiaoyang Selir Zhen. Yang sisaan kemarin diberikan kepada Permaisuri.”


Lu’Er yang ingin memarahi mereka pun menjadi terdiam, ia tidak tahu harus mengatakan apa, ia hanya bisa menunduk dan menatap Qin Ruojiu.


Qin Ruojiu juga tahu kalau semua ini demi kebaikannya, hatinya merasa hangat, “Tidak apa, lagipula, makanan-makanan itu masih bisa di makan. Sekarang sednag ada masalah besar dalam istana, kalian jangan permasalahkan masalah seperti ini. Selama bisa mengalah, mengalah saja.”


“Tapi…”


“Sudah, jangan di bicarakan lagi, kalian pergi dulu.”


“Baik…” karena melihat Permaisuri sudah lelah, Xiao Huan dan Yan’er pun mengangguk kemudian pergi.


Saat Lu’Er mau pergi, Qin Ruojiu bangkit dan memanggilnya.

__ADS_1


“Permaisuri, ada apa? Apa ada sesuatu yang bisa aku bantu?”


“Iya,” Qin Ruojiu mengangguk, kemudian melirik ke bunga peony yang ada di sampingnya.


“Apakah ini mengenai Xiao Huan dan Yan’er? aku akan menasehati mereka supaya mereka tidak lalai lagi.”


Qin Ruojiu pun tertawa karena Lu’Er salah paham, lalu ia menggelengkan kepala, “Bukan. aku ingin memintamu melihat hasil sulaman ini, bagaimana?”


Rupanya lPermaisuri ingin memintanya melihat hasil sulaman Permaisuri, Lu’Er menjadi gembira, lalu melirik ke peony yang lomba bermekar hasil sulaman Qin Ruojiu.


“Bagaimana menurut kamu, Lu’Er?”


Lu’Er baru sadar kembali, dia menatap Qin Ruojiu dengan kagum, “Permaisuri, sulaman ini indah sekali. Apakah kamu yang menyulamnya? Cantik sekali! Seumur hidupku, aku belum pernah melihat hasil sulaman yang lebih cantik dari hasil sulaman Permaisuri.”


Mendengar pujian Lu’Er, Qin Ruojiu pun tersenyum, “Oh ya?” hasil sulamannya memang bagus, bahkan Ayahnya juga pernah memuji sulamannya. Tetapi, Lu’Er adalah orang kedua yang memuji hasil sulamannya, hatinya pun merasa gembira.

__ADS_1


“Iya, Permaisuri! Apakah tidak ada yang pernah mengatakan hal ini? Hasil sulaman kamu benar-benar bagus.”


Pandangan senang di mata Qin Ruojiu menjadi sirna, kemudian tertawa galau, “Ayahku pernah memuji hasil sulamanmu!” saking kesepiannya dia di masa kecil, tia bahkan tidak memiliki teman bermain. Selain belajar menyulam, menggambar dan guqin, dia benar-benar tidak memiliki kegiatan apapun lagi. Anak-anak lain takut padanya, menghindarinya, mana ada orang yang akan melihat hasil karyanya.


“Permaisuri, sulaman ini begitu cantik, apa yang akan kamu lakukan dengan sulaman ini?”


Qin Ruojiu juga tidak tahu. Setelah berpikir sejenak, dia baru mengambil sulaman itu lalu berkata, “Aku juga tidak tahu, tadinya aku ingin membuatnya menjadi pakaian, tetapi pakaianku di istana sudah sangat banyak, sudah jauh dari lebih cukup.”


“Jadi, maksud Permaisuri?”


“Bagaimana kalau sulaman ini dihadiahkan untuk orang?”


Lu’Er terkejut, matanya membelalak, “Untuk siapa?”


“Bukankah kamu bilang Selir Mulia Zhao terjatuh? Beberapa hari ini, dia pasti istirahat di rumah. Beberapa waktu yang lalu, dia juga datang menemuiku dengan hati yang tulus. Bagaimana kalau hasil sulaman ini, dijadikan selimut dan diberikan padanya?”

__ADS_1


“Apakah bisa?”


__ADS_2