
“Sembarangan. Semalam adalah hari meminang Permaisuri, yang menemani Yang Mulia adalah Permaisuri, mana mungkin kamu,” Selir Lan terlihat marah. Masalah dia dan Selir Zhen yang saling cemburu sudah sering terjadi, sehingga setiap kali bertemu, mereka pasti memamerkan seberapa sering mereka disayang oleh Yang Mulia, tak pernah sekalipun mereka rukun.
“Tidak percaya? Tanya Permaisuri saja, dia tahu dengan jelas!” begitu teringat kejadian semalam, saat ia melihat permaisuri, yang sebagai kepala keluarga di istana ternyata dilemparkan ke salah satu sudut seperti barang tidak dipakai, menonton dirinya dan Yang Mulia bermesraan, lalu merangkak keluar Istana Zhaolie seperti cacing, seperti pengemis yang berpakaian compang-camping, hati Su Zhen’er pun seperti madu, senang sekali!
Iya, di hari meminang permaisuri, malah Zhen’er yang melayani kaisar. Berarti di dalam hati Kaisar, Permaisuri ini tidak lebih penting darinya!
Pandangan semua orang tertuju pada wajah Qin Ruojiu karena omongan menusuk Su Zhen’er.
Omongan Su Zhen’er membuat Qin Ruojiu seperti ditelanjang kemudian dilemparkan di depan pintu kota untuk dipertontonkan pada semua orang yang lewat.
Rasa malu dan rasa sakit menyelimutinya, bahkan wajah yang ditutup cadar pun memucat, pandangan matanya pun menjadi sedikit kelam, bagaikan anak kecil yang tersesat hutan, pikirannya juga kosong.
Pada awalnya, semua orang merasa Su Zhen’er hanya bicara omong kosong saja, tetapi respon Qin Ruojiu membuat mereka menjadi percaya pada omongan Zhen’er.
Dalam seketika, semua dayang pun memberikan pandangan kasihan kepada Permaisuri baru ini, dan mereka memandang Su Zhen’er dengan tidak suka dan marah.
Wanita ini benar-benar keterlaluan, berani-beraninya mempermalukan Permaisuri di hadapan orang banyak untuk menunjukkan kedudukannya yang tinggi, benar-benar keterlaluan.
__ADS_1
Selir Mulia Zhao, Selir Zhen, Selir Lan dan lainnya pergi di siang hari.
Qin Ruojiu menatap hidangan makan siang yang mewah, tetapi dia tidak memiliki nafsu makan. Saat memegang sumpit, pandangan matanya pun kosong, kemudian meletakkan sumpit lagi.
“Permaisuri, apakah makanan-makanan ini tidak cocok dengan selera Permaisuri? Jika tidak suka, Lu’Er akan minta pihak dapur untuk menggantinya!”
Qin Ruojiu membalikkan kepala, kemudian menggeleng, “Tidak usah, aku tidak ingin makan.”
“Permaisuri mau…” Lu’Er tidak paham, sejak para selir pergi, Permaisuri terus terdiam dan sering melamun. Walaupun kata-kata Selir Zhen sangat menusuk, tetapi Permaisuri juga tidak perlu berkecil hati.
Qin Ruojiu bangkit dan jalan ke luar istana, sambil berkata dengan pelan, “Temanin aku ke taman bunga untuk jalan-jalan.”
Karena melihatnya sedang sedih, Lu’Er pun hanya bisa mengikuti perintah, “Baik!”
Begitu keluar dari istananya, Qin Ruojiu baru tahu kemewahan dan kebesaran dari seluruh istana ini.
Dia mengangkat kepala dan menatap Istana Fengyinya, dari pintu utama hingga ruang utama, lantainya terbuat dari giok putih, bahkan lantai itu memantulkan cahaya yang lembut. Dari jauh, terlihat kabut-kabut yang menutupi istana ini, merak yang dipahat pada kayu cendana terlihat siap mengepakkan sayap untuk terbang, jendela yang dipahat dari keramik hijau tertata dengan rapi.
__ADS_1
End
End
End
End
End
End
End
End
End
__ADS_1