
Hello! Im an artic!
Zhao Yuanran masih tidak tidak bersuara, menatap dengan raut benci ke kejauhan, seolah ingin membuat lubang ke arah tempat itu.
“Jangan beritahu dulu!”
Hello! Im an artic!
“Kenapa?”
“Karena di kemudian hari aku masih ingin menunggu untuk melihat lelucon keduanya!”
“Ini……”
“Ternyata rumor di Istana itu tidak salah. Pangeran ke-9 benar-benar memiliki perasaan terhadap wanita ****** itu. Haha, nanti aku akan membuat mereka tahu betapa hebatnya aku!”
Hello! Im an artic!
__ADS_1
“Apa Permaisuri sudah memiliki pemikiran?”
“Ya, bukankah Pangeran ke-9 berkata akan pergi dari Istana? Zuo’er, mulai sekarang kamu kirim seseorang untuk mencari tahu, kapan tepatnya dia akan pergi!”
“Zuo’er mengerti. Tapi kali ini, apa Permaisuri benar-benar akan melepaskan Ratu seperti ini?”
“Apa maksudmu?”
Zhao Yuanran menolehkan kepala, ada raut kebencian dan kekesalan yang terpampang di wajahnya yang menawan.
Zuo’er yang berada di samping malah berbalik, terdapat jejak konspirasi di tatapan matanya yang gelap, kemudian dia mendekati Zhao Yuanran dan berkata: “Permaisuri, apa kamu ingat potret Putri Liqing?”
“Ya!”
Setelah matahari terbenam, cahaya sinar bulan yang keperakan menyinari tanah, terdengar suara jangkrik di mana-mana. Aroma malam meresap di udara, terjalin menjadi sebuah jaring lembut, menutupi semua pemandangan yang ada di dalamnya. Yang tersentuh oleh mata adalah benda yang diselimuti jaring lembut ini, tidak peduli apa itu rumput atau pohon, semua itu tampak tidak serealistis ketika di siang hari, warna mereka menjadi samar seakan itu semua ilusi, semuanya menyembunyikannya detailnya sendiri, menyembunyikan rahasianya sendiri, memberi orang lain semacam perasaan layaknya itu seperti mimpi.
Saat ini, lampu di Istana Fengyi masih menyala.
__ADS_1
Lampu yang temaram menerangi keseluruhan ruangan, membuat orang lain merasa dingin dan suram.
Wanita yang duduk bersandar di jendela mengenakan pakaian tipis, menatap keluar jendela, menatap bulan yang tergantung di langit, matanya yang berkaca itu sudah seperti ember yang bocor, air matanya terus menerus mengalir.
Sinar bulan menyinari tubuhnya, dia mengenakan pakaian Istana, begitu anggun dan elegan, benar-benar sangat cantik, rambut hitamnya tergerai di pinggang rampingnya, terdapat aksesoris rambut kristal berbentuk bunga magnolia berwarna ungu yang menawan ditancapkan ke dalam sanggul rambutnya yang digelung tinggi, memakai kalung enamel indah dan tembus cahaya yang tergantung di lehernya, mengenakan gaun berwarna ungu muda berkancing ganda, disulam dengan pola mutiara dan brokat, bagian dalam dilapisi dengan kain berwarna giok dan kasa sutra perak, dengan motif bunga lili air berwarna putih dan merah muda, sabuk pinggang melingkari pinggangnya dengan lembut yang dibuat dengan kain biru lembut bermotif pegunungan hijau. Wanita cantik seperti itu, di bawah sinar cahaya bulan, benar-benar sudah seperti Dewi Bulan yang jatuh ke Bumi.
Ketika sebuah bintang jatuh melesat, sebuah kilatan harapan muncul di tatapan matanya, kedua tangannya terlipat sambil memejamkan mata untuk berdoa, tapi pada saat ini malah terdengar suara pelan dari arah pintu.
Qin Ruojiu menoleh ke belakang dengan gembira, nada penuh harapan itu tidak tertutupi, di saat bersamaan dirinya menggunakan saputangan sutra di tangannya untuk menyeka air mata yang menetes dari wajahnya: “Masuk!”
Lu’er, yang membuka pintu melihat mata merah Permaisuri dan juga mata yang masih memiliki harapan di tengah keputusasaan yang tak terbatas. Hatinya seketika sedikit sedih.
Sudah beberapa hari Kaisar tidak pernah lagi datang ke Istana Fengyi.
Dulu Kaisar sangat sayang pada Permaisuri, Kaisar tidak pernah tidak mengunjungi Permaisuri begitu lama. Tapi kali ini, apa Kaisar serius benar-benar akan memperlakukan Permaisuri seperti ini?
“Lu’er, kenapa kamu masih belum tidur?” Qin Ruojiu menertawakan dirinya sendiri dan menjawab dengan nada rendah.
__ADS_1
Lu’er melangkah maju lalu berkata dengan wajah penuh kecemasan: “Aku melihat lampu di kamar Permaisuri masih menyala, aku tahu Permaisuri pasti belum tidur, jadi aku datang untuk melihat! Benar juga, Permaisuri, mana pelayan yang bertugas malam ini? Kenapa tidak melayani Permaisuri untuk beristirahat?”
“Aku menyuruh mereka keluar, sudah begitu larut, semuanya juga sudah lelah.”