
“Kamu bicara, lihat mataku! Kang Yin menggenggam bahu Qin Ruojiu dan menyuruhnya untuk melihat ke dalam matanya.
Di dalam tatapan mata Kang Yin yang jernih itu terlihat kerinduan yang sangat mendalam dan perhatian yang dalam untuknya. Di dalam sana terdapat rasa sakit yang tidak berujung.
Setelah lewat beberapa saat, Qin Ruojiu baru berkata dengan lembut, “Kenapa kamu berbuat seperti ini?”
__ADS_1
“Aku hanya berharap tidak membiarkan diriku menyesal lagi. Saya mau berjuang terakhir kalinya untuk diriku. Selama dua puluh tahun ini aku hanya menjalani hidupku seperti mayat hidup. Asalkan ayah dan ibu Kaisar memintanya, aku akan berusaha sebisaku untuk membuat mereka bahagia. Setelah Ibu dan ayah kaisar meninggal, aku sekarang hanya hidup untuk abangku. Aku akan berusaha untuk memenuhi semua yang dia minta dan membantunya. Meskipun aku tidak bisa membantunya, aku juga tetap akan menurutinya.”
Setelah mendengar apa yang dikatakan Kang Yin, hidung Qin Ruojiu pun mulai terasa sesak dan dia merasa kasihan dengan Pangeran kesembilan ini. Tetapi akhirnya, dia berusaha untuk memberanikan dirinya dan bertanya, “Kenapa kamu tidak mau hidup seperti dulu lagi?” Meskipun hidupnya yang dulu itu hanya seperti sebuah boneka, tetapi hidup itu jauh lebih baik daripada dirinya yang bermusuhan dengan abangnya sekarang. Sekarang dia menyiksa dirinya sendiri sampai tidak seperti seorang manusia. Hal ini membuat orang lain tidak sanggup melihatnya.
Kang Yin pun tersenyum dingin. Di dalam matanya terlihat tatapan mata yang sangat sedih, “Memangnya sampai sekarang kamu juga masih belum tahu? Meskipun sekarang hidupku begitu menderita, tetapi paling tidak aku tahu kalau aku masih hidup. Hatiku yang kesepian itu akan tergerak dan terus berdetak ketika aku melihatmu. Karena kamu, aku tahu ternyata aku ini belum mati.”
__ADS_1
Setelah mendengar apa yang dikatakannya, Qin Ruojiu pun merasa panik dan langsung mengangkat kepalanya dan hendak mengatakan sesuatu. Tetapi saat itu, Kang Yin sudah langsung menariknya ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat.
Setelah masuk ke dalam pelukannya, Qin Ruojiu pun bisa mencium aroma tubuh Kang Yin yang harum dan lembut itu. Dia juga bisa mendengar jelas suara detak jantung Kang Yin yang berdetak kencang. Udara panas yang dihembuskan keluar dari hidungnya itu juga bisa dia rasakan jelas di lehernya. Saat itu, Qin Ruojiu merasa keadaan ini sangat berbahaya untuknya. Lalu dia pun langsung mendorongnya dan berkata dengan tergesa-gesa, “Pangeran Kesembilan, lepaskan aku, lepaskan aku.”
Saat itu, Kang Yin sama sekali tidak menghiraukan penolakan yang dilakukan Qin Ruojiu dan hanya memeluknya dengan erat. Dia sama sekali tidak peduli dengan pukulan yang diberikan Qin Ruojiu padanya. Dia pun tertawa dingin lalu menutup matanya dan berkata dengan nada rendah, “Ruojiu, kamu tahu tidak? Sudah berapa kali, aku berharap bisa memelukmu dengan erat seperti ini di dalam pelukanku. Tetapi, karena aku tahu kamu tidak senang, makanya aku hanya bisa terus berimajinasi. Aku sering memimpikanmu di dalam tidurku dan pada saat itu aku baru bisa melihatmu tidur di sampingnya dan tersenyum padaku kemudian kita bermain alat musik bersama.”
__ADS_1
“Pangeran Kesembilan, anda jangan berbuat seperti ini, kalau kelihatan sama orang lain, Kaisar pasti tidak akan melepaskanmu.” Qin Ruojiu melihatnya dengan tatapan takut. Dia tahu jelas bahaya yang akan dia hadapi. Kalau saja Kaisar Zhaolie melihat kebrutalannya saat ini, mungkin Kaisar Zhaolie bukan hanya tidak akan melepaskan dirinya, mungkin saat itu meskipun Kang Yin adalah adiknya sendiri juga akan kena masalah.
Kang Yin malah sama sekali tidak peduli dan berkata, “Kamu tahu tidak? Tempat yang ada di dalam mimpiku itu sangat indah seperti surga. Di sana ada taman bunga yang bermekaran sepanjang tahun. Kamu duduk di tengah taman bunga itu dengan gaun berwarna putih dan memainkan kecapimu. Sedangkan aku berdiri di belakangmu dan memainkan serulingku mengikuti irama musik yang kamu mainkan. Pada saat itu, di dunia ini seolah hanya tinggal kita berdua. Kita seolah menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini ….”