
Turun dari kereta perang, dia langsung melihat istana yang mewah, di bawah langit yang sangat biru hari ini, kaca berwarna emas di istana Zhaolie itu terlihat sangat bersinar.
Melihat tangga yang panjang itu, hati dia menjadi sakit. Dia mengingat di hari dirinya baru menikah, dirinya terjatuh dari atas, kalau bukan karena diselamatkan oleh komandan Zhuo, dia mungkin sekarang sudah mati.
Mengingat ini, rasa takut menyelimuti seluruh badannya yang membuat dia mau pergi dari sini.
Tidak tahu kenapa, melihat istana yang megah ini, dia jadi membayangkan muka yang dingin dan tidak berperasaan itu. Matanya yang seperti bisa menyemburkan api itu seperti mau menelan dia.
Sekarang dia berpikiran mau pergi, tapi batu giok di tangannya itu mengingatkan dia agar tidak takut, kalau tidak semuanya ini akan gagal.
Asal mengembalikannya kepada dia, maka bahaya akan berkurang, dan dirinya bisa merasa tenang.
Memikirkan ini, dia menggenggam batu giok itu erat-erat di tangannya dan berjalan ke arah istana Zhaolie.
__ADS_1
Zhuo Ying yang berjaga di luar istana sedang berdiri tegak dengan baju baja berwarna peraknya.
Qin Ruojiu yang langsung mengenalinya sedikit takut melihat badan dia yang kekar itu. Dia berdiri diam di sana seperti patung.
Di saat ini, dia seperti bisa merasakan ada orang yang mendekat, maka dia langsung menghalangi pintu dengan pedangnya, “Siapa?”
Qin Ruojiu melihat muka dia yang sangat serius. Dahi sampai hidungnya ditutupi oleh penutup kepala baja. Dia hanya bisa melihat kedua mata Zhuo Ying yang berwarna hitam. Zhuo Ying seketika tersenyum lembut sambil mendekati dia.
“Permaisuri?” Zhuo Ying sedikit terkejut.
Qin Ruojiu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum melihat Zhuo Ying. Senyumannya itu sangat bersih dan cerah, seperti benar-benar berasal dari dalam hatinya. Zhuo Ying sedikit terkejut, dia tidak pernah melihat senyuman Qin Ruojiu seperti ini selama dia bekerja di sini bertahun-tahun.
Dia berkata: “Komandan, kita bertemu lagi. Terakhir kali aku belum sempat minta maaf, benar-benar jadi tidak enak.”
__ADS_1
Dia mengingat dua kali Zhuo Ying menyelamatkan dirinya, tapi dirinya tidak bisa membalas apa-apa, hatinya juga menjadi merasa bersalah.
Mendengar ucapan Qin Ruojiu, muka Zhuo Ying memerah, “Sudah seharusnya aku menolong permaisuri, aku tidak mengharapkan balasan apapun. Lagipula itu hanyalah hal yang sangat sederhana.”
Qin Ruojiu berkata: “Komandan tidak boleh bicara seperti itu, kamu sudah menyelamatkan aku, tidak peduli kamu siapa, kamu tetaplah penyelamat aku dan akan tetap aku ingat.”
“Permaisuri……”
Zhuo Ying masih mau bicara, tapi Qin Ruojiu mendahuluinya, “Seperti ini saja, untuk menunjukkan ketulusan aku, apakah besok komandan bisa pergi ke istana Fengyi?”
“Ya?”
Bab selanjutnya Bab 123 Kali Ini Aku Datang Masih Ada Urusan Lain
__ADS_1
Melihat Zhuo Ying seperti tidak tahu harus menjawab apa, Qin Ruojiu tertawa, “Komandan, kamu jangan berpikiran macam-macam, aku hanya mau membalas budi saja, kenapa? Kamu tidak bisa menerimanya?”
“Permaisuri…… aku……” Zhuo Ying awalnya mau bilang tidak perlu, tapi setelah melihat senyuman dia yang cerah da bertenaga itu, dia jadi menganggukkan kepalanya, “Baik, aku pasti akan pergi.”