
Xiao Huan dan Yan’er saling bertatapan, wajah mereka memucat, kedua pundak mereka gemetaran dan berlutut.
“Permaisuri…”
“Ampunin kami, tidak seharusnya kami menjelekkan Permaisuri…”
Mereka berdua tidak menyangka Qin Ruojiu akan ada di sini, sehinggamerekapun tergagap. Di saat yang bersamaan, Mereka menampar wajah mereka dengan tangan mereka sendiri.
“Tidak usah memukul diri kalian sendiri!” Qin Ruojiu maju menghentikan mereka setelah wajah mereka memerah karena tamparan mereka sendiri.
Kedua gadis itu pun melepaskan tangannya, mata mereka berkaca-kaca, ketakutan setengah mati!
“Permaisuri, Yan’er salah, kalau mau hukum, hukum Yan’er saja. Tetapi mohon jangan membunuhku. aku tidak mau mati… huhu…”
“Huan’er juga tidak mau mati…” ucap mereka berdua sambil berisak.
__ADS_1
Lu’Er pun merasa dilema, kedua tangannya terus saling menggosok, dia menatap Qin Ruojiu dengan panik.
Qin Ruojiu tersenyum, matanya melengkung seperti bulan, kemudian jalan ke samping Yan’er untuk menopangnya, Yan’er terkejut dan bergerak mundur, sampai nampan di tangannya menjadi tidak stabil, sup pun berserakan.
“Aku… Permaisuri, maafkan Aku… Aku…” Yan’er yang ketakutan pun hanya bisa mengatakan setengah kalimat. Wajah mendatar seperti melihat setan.
Qin Ruojiu sama sekali tidak marah, tetapi karena mereka takut padanya, Qin Ruojiu pun mengurungkan niatnya untuk menyentuh mereka, ia menggelengkan kepala dan membalikkan badan, “Kalian bangunlah. Lain kali jangan bicara seperti itu lagi, tidak baik. aku tidak marah pada kalian, jug atidak akan menghukum kalian. Oh ya, aku juga tidak bisa ilmu sihir, kalian tidak usah takut.”
Xiao Huan, Yan’er dan Lu’Er pun terkejut, mereka memandang Qin Ruojiu dengan pandangan yang bingung.
Matanya penuh ketulusan.
“Iya, iya… terima kasih atas pengampunan Permaisuri!”
“Terima kasih Permaisuri, Terima kasih Permaisuri…”
__ADS_1
Mereka bersujud lalu buru-buru pergi dengan ketakutan.
Setelah melihat mereka berdua pergi, Lu’Er baru lega, kemudian jalan mendekati Qin Ruojiu dengan pelan, “Permaisuri, Xiao Huan dan Yan’er masih kecil, masih tidak paham. Mohon Permaisuri maafkan kelalaian mereka.”
“Aku tahu!” wajar saja mereka takut padanya. Selama ini, dia sudah terbiasa dengan pandangan seperti itu. Dia bahkan sudah kebal dengan fitnahan seperti itu.
“Permaisuri, kamu sangat berbelas kasih dan rendah hati!”
Ini pertama kalinya Qin Ruojiu mendapat pujian, walaupun tidak terlalu gembira, setidaknya ia merasa sedikit terhibur, “Lu’Er, sebenarnya kamu ingin membantu mereka kan?”
Lu’Er yang ketahuan pun menjadi malu, pandangan matanya pun menjadi tidak biasa, “Permaisuri… aku…”
“Kamu ingin membantu mereka, sehingga kamu lari menghampiri mereka, kemudian berpura-pura mau memukul mereka. Kamu memang ingin membantuku, tetapi tidak mau aku sampai turun tangan, karena takut aku akan melukai mereka, ya kan?”
Lu’Er menunduk, dengan perasaan malu-malu, “Permaisuri, kamu sudah tahu?”
__ADS_1
“Hehe, tidak usah takut, aku tidak menyalahkan kamu.”
“Permaisuri…” Lu’Er merasa terharu. Sepertinya Permaisuri tidak semenakutkan seperti cerita orang lain. Setidaknya dia merasa Permaisuri adalah orang yang tidak angkuh, tidak licik bahkan pengertian.