
Hello! Im an artic!
Yuya yang berada di samping menatap adegan yang terjadi itu dalam diam, mulutnya bahkan terbuka dengan sangat lebar.
Setelah beberapa saat kemudian Yuya akhirnya tersadar: “Nona Wushuang, Putri Yongping, dia… dia…”
Hello! Im an artic!
“Itu karmanya sendiri.” Ye Wushuang menjawab kata-kata itu dengan ringan, di tatapan matanya yang jernih dan tenang, selain dingin, hanya tersisa ketidakpedulian.
Hari-hari berikutnya, Ye Wushuang mendapatkan perlakuan layaknya Nyonya tertinggi di kediaman Pangeran Ping.
__ADS_1
Hampir semua barang bagus di kediaman Pangeran Ping langsung dikirim ke kediamannya pada saat diterima pertama kali.
Pertanyaan lembut dan juga sikap Pangeran yang penuh perhatian dari waktu ke waktu, tidak tahu sudah membuat berapa banyak orang yang merasa iri.
Hello! Im an artic!
Tidak ada yang akan bertanya-tanya mengapa Pangeran bisa bersikap begitu baik pada Ye Wushuang. Mereka hanya merasa bahwa wanita cantik memang pantas bersanding dengan seorang pahlawan, wanita cantik yang agung seperti Ye Wushuang tentu saja layak untuk sosok Pangeran seperti Ji Xingfeng.
Tentu saja, bagi Ye Wushuang yang memperoleh semua perlakuan ini, dirinya sama sekali tidak merasa bangga akan hal itu, Ye Wushuang masih memperlakukan para pelayan dan budak di sekitarnya yang menyanjungnya dengan sikap yang paling sederhana dan bijaksana. Tentu saja, kecuali orang-orang seperti Putri Yongping.
Setelah selesai sarapan, Ye Wushuang merasa bosan dan tidak tahu harus berbuat apa, Ye Wushuang lalu berencana untuk pergi ke tepi danau dan duduk selama beberapa saat. Awalnya, Ye Wushuang meminta Yuya untuk menemaninya, tapi kemudian entah kenapa Yuya tiba-tiba sakit perut. Dalam ketidakberdayaan, Ye Wushuang hanya bisa pergi seorang diri.
__ADS_1
Setiap kali keluar, Ye Wushuang pasti akan melewati Paviliun Fangwu, tempat di mana Putri Yongping tinggal yang berada di sebelah kediamannya. Karena itu, Putri Yongping pada umumnya tahu dengan sangat jelas mengenai pergerakan Ye Wushuang. Karena perlindungan Pangeran Ping selama beberapa waktu ini, Putri Yongping sedikit tidak berdaya terhadap Ye Wushuang, tapi dari waktu ke waktu Putri Yongping akan mengawasi tempat di mana Ye Wushuang akan lewat, dia akan mencibir dan berkata sinis pada Ye Wushuang untuk melampiaskan amarahnya.
Hari ini, yang membuat Ye Wushuang merasa aneh adalah, dirinya sudah melewati koridor panjang di depannya hingga ke ujung, tapi dirinya sama sekali tidak melihat kemunculan Putri Yongping.
Dulu ketika pada saat seperti ini, Putri Yongping pasti akan berada di sini dan menilai dirinya bagaikan seorang wanita yang penuh dengan keluhan. Jika melihatnya seorang diri atau bersama dengan seseorang yang tidak berguna seperti Yuya, Putri Yongping sudah pasti akan keluar untuk mempersulitnya. Putri Yongping akan menahan diri hanya ketika dirinya sedang bersama Pangeran Ping.
Tapi hari ini, jelas-jelas Ye Wushuang berjalan sendirian, lalu kenapa sosok bayangan Putri Yongping sama sekali tidak terlihat? Dan lagi, pelayan yang selalu bersamanya untuk melakukan perbuatan jahat juga tidak terlihat, ini benar-benar sangat aneh.
Menurut Ye Wushuang, sudah pasti ada hal yang tidak beres di baliknya. Tapi di mana hal yang tidak beres ini, dirinya juga belum menyadarinya. Ye Wushuang hanya meremas saputangan yang ada di balik lengan pakaiannya, tatapannya ketika menatap ke depan terlihat sedikit serius.
“Nona Ye, hati-hati …”
__ADS_1
Pada saat ini, Ye Wushuang tiba-tiba mendengar suara teriakan cemas dan berat milik Su Qianhua. Kemudian, Su Qianhua yang mengenakan pakaian berwarna-warni langsung bergegas ke arahnya seperti guntur dan mendorongnya ke samping, suara “prangg–” terdengar, suara itu seperti suara poselen yang pecah di tanah, disertai dengan suara dengusan Su Qianhua yang dingin, suara itu terdengar begitu menusuk telinga di tempat yang begitu tenang ini.
Ye Wushuang masih dalam kondisi terkejut, tubuhnya masih belum stabil, Ye Wushuang memegang sandaran di satu sisi kemudian menatap ke arah itu dengan panik. Dia berdiri di sana dengan tegap, raut wajahnya agak pucat, lengan kanannya tergantung tak bergerak di sisinya, sedangkan lengan kirinya sedang memegang punggung kanannya dengan kesulitan. Mata phoenix yang mempesona itu sedikit menunduk, bibir tipisnya sedikit digigit dengan erat, jelas menunjukkan rasa sakit yang dideritanya.