
Apa besok dirinya akan pergi? Mengapa hatinya begitu gelisah? Sama sekali tidak ada kegembiraan karena pelepasan, tidak ada kegembiraan karena dirinya akan bebeas.
Sebaliknya, tatapan tegas dan dingin itu malah muncul di benaknya dari waktu ke waktu.
Terkadang, dia memandang dirinya dengan tatapan marah. Terkadamg juga memeluknya dengan lembut dan penuh kasih. Kegembiraan, tawa, kesedihan dan amarahnya itu, semuanya terukir di dalam benaknya. Pada saat ini di dalam pikiran Qin Ruojiu, dirinya memikirkannya, selain dia masih adalah dia.
Apa sudah akan pergi? Apa dirinya rela melepaskan kebaikan Kaisar Zhaolie pada dirinya sekarang? Qin Ruojiu bertanya pada dirinya sendiri berulang kali di dalam hati. Menatap ke kejauhan dengan ragu-ragu. Pada akhirnya, Qin Ruojiu menghela nafas dalam hati, sudahlah! Bukankah ini adalah keputusan yang sudah diambilnya sejak lama, tidak peduli masa depan akan bagaimana, Qin Ruojiu tidak ingin orang yang dianggap penting olehnya terluka, meskipun harus melakukan pengorbanan yang mungkin akan membuatnya menyesal di kemudian hari, Qin Ruojiu tidak memiliki keluhan. Benar, pergi adalah pilihan terbaik. Jika tidak, jika dirinya hanya menginginkan kebahagiaan sesaat, di kemudian hari yang akan terluka adalah dirinya, bahkan akan lebih melibatkan orang banyak.
Tidak lama setelah Kaisar Zhaolie pergi, Kang Yin meminta orang untuk mengirimkan surat padanya, surat itu menuliskan dengan jelas waktu yang tepat untuk melarikan diri dari Istana besok malam, dan juga beberapa instruksi dan persiapan untuk Qin Ruojiu. Tentu saja, Kang Yin yang begitu cermat itu juga mempertimbangkan pengaturan selanjutnya untuk Qin Ruojiu. Bagaimanapun Kang Yin juga mengerti seberapa besar risiko yang dihadapinya untuk membuat Qin Ruojiu pergi bersamanya seperti ini, dan juga seberapa besar keberanian yang harus dikerahkan oleh Qin Ruojiu.
Setelah Qin Ruojiu menerima surat itu, dia terpaku cukup lama kemudian membakarnya. Ya, benda ini berbahaya, ini berkaitan dengan nyawa banyak orang, Qin Ruojiu harus menanganinya dengan hati-hati.
__ADS_1
Ketika malam perlahan menggelap dan langit berangsur-angsur redup, setelah Qin Ruojiu dan Lu’er menyelesaikan makan malam mereka, Xiao Huan dan Yan’er bergegas membersihkan piring-piring itu.
Qin Ruojiu menatap sosok mereka yang sedang sibuk, terdiam sejenak kemudian berbalik badan, sedikit mengangguk ke arah Lu’er dan berkata: “Lu’er, katakanlah!”
Lu’er mengangguk, mengambil langkah maju dengan ekspresi ramah kemudian berkata pada Xiao Huan dan Yan’er yang sedang sibuk: “Xiao Huan, Yan’er, setelah kalian membersihkan ini, datanglah ke kamar Permaisuri, pada sesuatu yang ingin dikatakan Permaisuri pada kalian.”
Setelah selesai berbicara, kedua pelayan kecil itu terpaku dan saling menatap satu sama lain dengan bingung. Pada akhirnya, mereka mengangguk serempak dan berkata: “Baik Permaisuri!”
Bulan semakin lama semakin tinggi, perlahan bersembunyi di antara awan, kecuali beberapa cahaya lilin yang terlihat redup, di sekitar Istana Fengyi begitu sepi dan gelap.
Qin Ruojiu duduk di aula utama Istana Fengyi, tatapan matanya begitu lembut, menatap ke arah kejauhan dengan tatapan sedikit melankolis.
__ADS_1
Pada saat ini, Lu’er yang patuh hanya menatapnya sekilas dengan samar, mengatupkan bibirnya kemudian tiba-tiba berjalan ke hadapan Qin Ruojiu, dengan tenang berkata: “Permaisuri, Yan’er dan Xiao Huan sudah datang.”
Qin Ruojiu kemudian baru kembali fokus dari lamunannya.
Qin Ruojiu perlahan mengangkat kepalanya, menatap Yan’er dan Xiao Huan dengan lembut.
Kedua gadis kecil itu belakangan ini menjadi jauh lebih patuh, mereka juga semakin kurus. Ya, di Istana, tidak peduli betapa galaknya seseorang, mereka tetap harus belajar bagaimana menelan amarah mereka, menelannya dengan baik, jika tidak pada akhirnya diri mereka sendiri yang akan terluka.
Dari sini saja dapat dilihat bahwa kepribadian mereka yang dulunya begitu polos dan murni, secara perlahan telah belajar bagaimana cara melindungi diri mereka sendiri dengan bijaksana, belajar bagaimana cara berperilaku dengan baik.
Qin Ruojiu tidak bisa tidak merasa sedikit menyesal ketika melihat perubahan mereka. Untungnya adalah mereka telah tumbuh dewasa, tapi hal yang disayangkan adalah di usia mereka yang muda di mana seharusnya mereka itu naif dan polos, mereka malah bersikeras berada di istana, dipaksa untuk menghilangkan kepolosan itu oleh kenyataan, dan akhirnya mereka mempelajari metode dan cara untuk bertahan.
__ADS_1