
Hello! Im an artic!
“Benarkah? Apa Kakak benar-benar tidak ingin menebak pemikiran Kaisar?”
“Ya!”
Hello! Im an artic!
“Kalau begitu, apa Kakak benar-benar tidak ingin tahu bagaimana niatan hati Kaisar terhadap Putri Liqing?”
“Apa maksudnya?”
Zhao Yuanran mengubah postur tubuhnya ketika berbicara, tatapan matanya tampak terlihat sedikit memprovokasi, memelankan nada bicaranya seolah-olah dengan sengaja membuat Qin Ruojiu cemas.
TIdak disangka Qin Ruojiu tidak memakan triknya itu, Qin Ruojiu berbalik dan ingin pergi tanpa menunggu Zhao Yuanran selesai berbicara.
Hello! Im an artic!
__ADS_1
Saat itu Zhao Yuanran sedikit panik dan langsung maju untuk menghalangi dan berkata: “Kakak seharusnya tidak lupa pada hadiah yang diberikan oleh Pangeran Funing pada Kaisar ketika dia berkunjung ke Negara Kangqing bukan?”
Setelah Qin Ruojiu mendengarkan ucapan itu, tatapan matanya menggelap, ada ekspresi kesedihan yang terlintas di wajahnya. Langkah kakinya sedikit terhenti, tidak lagi berbicara, tatapan matannya itu hanya menatap ke kejauhan.
Bahkan meski Qin Ruojiu tidak mengatakan apa-apa, Zhao Yuanran dapat melihat reaksi itu dengan sangat jelas.
Dia tersenyum tipis dan berkata dengan suara lembut: “Sepertinya Kakak sudah ingat potret Liqing yang sangat cantik itu.”
“Lalu memang kenapa?” Meskipun Qin Ruojiu merasa sedikit tidak nyaman, tapi dirinya mencoba yang terbaik untuk menjawab dengan tenang. Ya, karena lukisan itu, ekspresi obsesi dan juga nostalgia di wajah sang Kaisar membuat hati Qin Ruojiu sangat sakit.
“Hal itu bukan urusan kita!” Qin Ruojiu mengangkat kepalanya dan berkata dengan dingin.
“Ucapan Kakak ini salah, apa Kakak benar-benar rela melihat potret itu yang memenuhi segenap hati Kaisar? Dan kita yang merupakan orang terdekat Kaisar malah diabaikan? Apa perasaan seperti ini bisa diteriman?”
Menghadapi pertanyaan retoris Zhao Yuanran, Qin Ruojiu hanya tersenyum tak berdaya: “Siapa yang ada di hati Kaisar, kita cukup tahu di dalam hati saja.”
Mendengar ucapan ini, ada kemarahan yang sekilas terlintas di mata Zhao Yuanran tapi hal itu menghilang dengan cepat.
__ADS_1
“Jika Kakak berkata demikian, di dalam hati Kaisar seharusnya terdapat posisi penting untuk Kakak bukan?”
“Jika kamu hanya ingin membicarakan ini, maka aku tidak akan menemanimu lagi.” Qin Ruojiu selesai berbiacra kemudian memberi isyarat mata pada Lu’er yang berada di samping. Ketika Lu’er melihat situasi ini, dirinya mengerti lalu melangkah maju untuk membantu memapah Qin Ruojiu, mereka berencana untuk pergi.
Zhao Yuanran yang selalu ingin mencari masalah, ketika melihat bahwa ucapannya itu sama sekali tidak mengganggu Qin Ruojiu, pada saat yang paling kritis, dia segera berdiri dan menatap Qin Ruojiu lalu berkata menekan kata-katanya: “Kak, apa Kakak tidak tahu bahwa Kaisar sudah membangun Gedung Liqing di Istana?”
“Gedung Liqing?” Langkah Qin Ruojiu terpaku, dirinya bagai tersambar petir. Nama yang tidak ingin disebutnya selama ini, saat ini ternayta telah mengakar di istana. Pada saat ini, Qin Ruojiu sudah tampak pucat dan menatap Zhao Yuanran dengan ekspresi tidak percaya.
Melihat Qin Ruojiu yang telah menghentikan langkahnya, hati Zhao Yuanran sedikit bangga, tapi dia masih berkata dengan santai: “Ya, apa Kaisar tidak pernah memberitahu Kakak?”
Qin Ruojiu diam tidak berbicara, tatapan matanya dipenuhi rasa sakit. Mengapa Kaisar membangun Gedung Liqing di dalam Istana? Mengapa dirinya tidak diberitahu?
“Apa Kakak tahu maksud Kaisar membangun Gedung Liqing?” Zhao Yuanran bertanya sambil dengan sengaja berjalan mondar-mandir.
Qin Ruojiu merasa pikirannya kosong pada saat ini, dirinya tidak memikirkan apa pun, tidak ingin menebak apapun, tapi hatinya sudah seperti ditusuk dengan pisau, dirinya tidak dapat menerima fakta.
“Kak, aku akan mengatakan yang sebenarnya padamu. Tidak ada seorang pun di Gedung Liqing, gedung itu hanya dibangun untuk meletakkan potret Putri Liqing di dalam ruangan. Kaisar tidak mengijinkan siapa pun mendekat ke tempat itu. Dan Kaisar sepertinya berada di sana selama satu jam hampir setiap harinya. Bahkan meski hanya menatap potret itu, Kaisar juga rela untuk tinggal di sana!”
__ADS_1