Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 100 Dia Akan Memperlakukannya Dengan Cara Yang Berbeda


__ADS_3

“Qin Ruojiu, cepat muntahkan airnya, cepat ….” Kaisar Zhaolie yang takut itu pun terus menekan dada Qin Ruojiu. Akhirnya, Qin Ruojiu mengerutkan keningnya lalu memuntahkan semua air yang ada di dalam tubuhnya.


Setelah melihat dia memuntahkan airnya, Kaisar Zhaolie dan semua orang yang ada di sana pun merasa lega. Setelah itu Kaisar Zhaolie mengarahkan tangannya ke kening Qin Ruojiu. Keningnya itu terasa dingin bagaikan es. Kaisar Zhaolie pun mengerutkan keningnya lalu melihat ke arah Tabib Liu dan berkata dengan nada marah, “Airnya sudah dimuntahkan tetapi kenapa dia masih belum bangun?”


Tabib Liu yang mendengar pertanyaan itu pun terkejut dan bergegas menjelaskannya, “Kaisar, sebelumnya Permaisuri baru saja keguguran dan kondisi tubuhnya masih belum pulih. Sekarang, karena dia tenggelam, kondisinya semakin parah. Kalau tidak segera diobati mungkin dia akan ….”


“Kalau begitu kenapa kamu masih bicara? Cepat obati dia.”


“Baik, baik ….” Tabib Liu yang terkejut itu pun terus mengangguk kan kepalanya. Tetapi ketika dia melihat ke arah Qin Ruojiu yang berbaring di atas tanah, dia berkata dengan nada kecil, “Baju Permaisuri sekarang basah kuyup, ini ….”


“Aku akan mengganti pakaiannya dulu” Selesai bicara, Kaisar Zhaolie pun menggendong Qin Ruojiu. Dia tidak memperdulikan semua orang yang adai di sana dan langsung membawanya ke Istana Fengyi. Pada saat di tengah jalan, dia kebetulan bertemu dengan Kang Yin. kedua Kakak beradik yang sebelumnya terlihat begitu akrab itu pun sekarang terlihat begitu asing dan jauh.

__ADS_1


Kang Yin berkata, “Jangan sembarangan membuka cadar wajahnya.” Kang Yin tidak tahu kenapa Qin Ruojiu mau menyembunyikan wajahnya dari semua orang, tetapi dia tahu pasti ada alasan yang menyedihkan sampai ia harus menutupi wajah cantiknya.


Karena itu, ia harus menjaga Qin Ruojiu, walau nyawanya sebagai taruhan


Kaisar Zhaolie pun melihat adik ke sembilannya lalu tersenyum dingin dan menjawab, “Aku tahu!” Kangyong sudah tahu seberapa cantiknya Permaisurinya ini. Mulai hari ini dia akan memperlakukan Permaisurinya dengan cara yang berbeda.


Sudah dua hari berlalu sejak Qin Ruojiu diselamatkan, tapi sampai sekarang, dia masih belum kunjung siuman.


Tabib Liu yang datang mengecek kesehatannya itu pun selalu menggelengkan kepala dan menghela nafas. Dia juga memberitahukan Kaisar Zhaolie, jika Permaisuri masih tidak kunjung siuman, mungkin dia akan koma untuk selamanya.


Tabib Liu yang mendengar itu pun terkejut dan langsung berlutut di depan Kaisar dengan wajahnya yang pucat sambil berkata, “Kaisar … bukan hamba yang tidak bisa menyembuhkannya. Tapi ini karena Permaisuri yang tidak memiliki niat untuk hidup. Dirinya dipenuhi dengan keinginan untuk meninggalkan dunia ini. Setiap kali kita memberinya obat, tubuhnya selalu menolak obat itu, setiap kali kita memberinya minum air, tubuhnya selalu menolak. Orang yang tubuhnya sehat sekalipun, jika terus-terusan seperti ini, juga pasti akan meninggal.”

__ADS_1


“Tabib, kamu jangan sembarangan bicara!”


“Kaisar, meskipun Permaisuri tidak sadarkan diri, tetapi niat dan nalurinya itu tetap ada. Jika Permaisuri tidak memiliki niat untuk hidup, aku juga tidak bisa menolongnya!”


Setelah mendengar itu Kaisar Zhaolie langsung marah besar dan melihat ke arah Tabib Liu, “Keluar!”


Setelah mendengar itu, Tabib Liu langsung beranjak berdiri, dia tidak ingin berlama-lama di sana lagi dan langsung keluar dari kamar itu.


Kaisar Zhaolie melihat ke arah mangkuk obat yang masih tersisa setengah lalu melihat ke arah bercak noda yang ada di kasur Qin Ruojiu. Kaisar Zhaolie mengusir semua orang yang ada di kamar itu dan membuka cadar hitam yang menutupi wajah Qin Ruojiu. Lalu dalam seketika wajahnya yang cantik dan sempurna itu pun terlihat dengan jelas.


Walaupun dia masih koma tidak sadarkan diri, tetapi bibirnya dan ekspresinya itu masih terlihat begitu keras kepala dan tegas.

__ADS_1


Setelah melihat itu, Kaisar Zhaolie pun terlihat kesal dan mengerutkan keningnya. Tatapan matanya pun terlihat tajam lalu dia memegang dagu Qin Ruojiu dan berkata, “Mana mungkin aku bisa mengabulkan keinginanmu untuk mati.”


Mulut Qin Ruojiu yang berada di dalam mimpi panjangnya itu dibuka paksa. Kaisar Zhaolie pun langsung menuangkan obat itu ke dalam mulutnya tanpa belas kasihan sama sekali. Qin Ruojiu yang tertidur itu pun mengerutkan keningnya dan mengeluarkan sedikit suara lalu memuntahkan semua obat itu. Walaupun ada sedikit obat yang terminum, tetapi Kaisar Zhaolie bisa menyadari kalau Qin Ruojiu sedang menolak obatnya.


__ADS_2