
Hello! Im an artic!
Langkah Kaisar Zhaolie semakin mendekat, membuat Leng Bingxin merasa putus asa, Leng Bingxin memicingkan matanya dan menerima takdir, setelah beberapa saat Leng Bingxin malah tersenyum dingin dan berkata: “Kaisar, kamu selalu menganggapku sebagai wanita itu, apa Kaisar telah melakukan kesalahan padanya lalu melihatku dan ingin menebusnya?”
Leng Bingxin bertanya seperti itu, rasa sakit di dalam hatinya menjadi semakin dalam. Pada waktu itu, dia begitu mencintai pria ini tapi pria ini malah bersikap begitu kejam padanya.
Hello! Im an artic!
Setiap kali teringat akan hal ini, hati Leng Bingxin menjadi begitu gila dan tidak bisa dikendalikan, sudah seperti rusa jantan yang kehilangan akal sehatnya yang bisa melompat turun ke jurang kapan saja.
Mungkin setelah mendapatkan beberapa jawaban yang bahkan menurutnya munafik, hatinya akan merasa lebih baik. Jadi Leng Bingxin hanya bisa lanjut menipu dirinya sendiri terus menerus seperti ini.
__ADS_1
Mendengar ucapan ini, ada sorot dingin yang terlintas di mata Kaisar Zhaolie, dia kemudian berkata dengan suara keras: “Ya, aku bersalah padamu, aku menyesalinya, sekarang aku ingin mempertahankanmu di sisiku, ingin membuatmu menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini!”
Hati Leng Bingxin sama sekali tidak tergerak tapi dirinya malah tertawa dingin: “Sepertinya Kaisar benar-benar tidak menyangkal bahwa Kaisar telah menyakiti wanita itu. Tapi luka yang Kaisar torehkan padanya dan menebusnya padaku, bukankah itu salah?” Atau bisa dikatakan bahwa dia itu egois, demi mendapatkan Leng Bingxin, Kaisar Zhaolie bahkan tidak ragu untuk menggunakan kehohongan seperti ini.
Hello! Im an artic!
Akankah dia menyesal? Apa Kaisar Zhaolie akan menebus semua kesalahannya sebelumnya? Konyol, Kaisar Zhaolie ini hanyalah Iblis yang dulu dicintainya.
Tapi ketika Leng Bingxin membenci dirinya sendiri yang bodoh, hatinya yang sudah mati itu malah merasakan sentuhan kehangatan.
Wajah Kaisar Zhaolie tiba-tiba menjadi suram, cahaya dingin muncul di tatapan matanya: “Diam, kamu jelas-jelas adalah dia, kenapa kamu tidak mengakuinya?”
__ADS_1
Menghadapi perubahan ekspresi Kaisar Zhaolie yang tiba-tiba, sekujur tubuh Leng Bingxin terpaku, diam-diam merasa bahwa masalah ini menjadi sedikit serius, menarik napas dalam dan perlahan-lahan memulihkan ketenangannya: “Namaku Leng Bingxin. Aku bukan orang yang disebut oleh Kaisar, jika aku mengakuinya maka itu adalah sebuah kejahatan karena menipu Kaisar!”
Setelah mendengar ucapan itu, hati Kaisar Zhaolie menegang, terdapat cairan asam yang memenuhi lambungnya, mata hitamnya memicing dan berkata dengan lantang: “Apa kamu begitu membenciku? Apa perlu ketika bertemu, kamu berubah menjadi orang asing dan memperlakukanku seperti ini”
Mendengarkan suara yang begitu tulus dan sungguh-sungguh ini, Leng Bingxin sedikit terkejut, untuk beberapa saat, dirinya tidak dapat berkata-kata. Kaisar Zhaolie yang seperti ini sudah seperti anak kecil yang tidak bisa mendapatkan benda yang disukainya, sama sekali tidak ada keagungan sebagai seorang Kaisar.
Melihat Leng Bingxin yang diam, Kaisar Zhaolie yang mengira Leng Bingxin sudah mengakuinya merasa sedikit senang, sudut bibirnya sedikit terangkat, lengannya yang panjang itu terentang, memeluk pinggang Leng BIngxin yang ramping, Leng Bingxin seketika langsung bereaksi, mengerutkan kening dan mengangkat tangannya bersiap untuk melayangkan sebuah tamparan, tapi malah tertangkap lebih dulu olehnya.
Kaisar Zhaolie sedikit mengangkat alisnya: “Apa kamu tahu? Jika kamu adalah dia, begitu tamparan ini dilayangkan maka bisa dianggap sebagai penebusanku padanya. Jika kamu bukan dia, begitu tamparan ini dilayangkan maka aku bisa meminta orang untuk langsung memenggal kepalamu!”
Ancaman, ancaman yang begitu langsung seperti itu hanya membuat Leng Bingxin merasa pria ini begitu licik, tatapan matanya dipenuhi kedinginan sedingin es, Leng Bingixn berkata dengan dingin: “Benarkah? Kalau begitu tolong Kaisar langsung memberikan hukuman mati padaku saja!”
__ADS_1
Seketika Kaisar Zhaolie langsung mendongak, alisnya terangkat, mata hitamnya itu menatap lekat ke arah mata Leng Bingxin seperti anak panah yang melesat, matanya masih begitu jernih dan lembut seperti dulu, dengan warna-warna yang begitu indah, seperti gemericik air dari pegunungan yang mengalir, begitu transparan dan bersinar, sama sekali tidak terdapat jejak kotoran. Dari pupil mata yang jernih itu, samar-samar dirinya bisa melihat bayangannya sendiri. Ya, satu-satunya hal yang membuatnya merasa berbeda adalah dia yang dulu, tatapan matanya hanya memancarkan cinta yang lembut, tapi sekarang tatapan itu begitu dingin hingga membuat orang lain merasa bergidik.