Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 398 Dia Adalah Orang Yang Kesepian


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Qin Ruojiu mengikutinya, dan akhirnya mengikutinya menaiki kereta kuda yang tenang itu.


Pria itu naik lebih dulu, lalu berbalik badan dengan anggun, mengulurkan tangan besarnya ke arah Qin Ruojiu, angin menerpa rambut dan pakaiannya, begitu anggun dan tampan, Qin Ruojiu menerima uluran tangan itu dengan wajah tanpa ekspresi, dengan bantuannya, Qin Ruojiu sedikit melompat dan menaiki gerbong kereta dengan mudah. Tak bisa dipungkiri, tangan pria ini memang sangat lembut dan halus, bisa dibayangkan semenjak kecil dia pasti hidup dalam lingkungan sejahtera dan kaya, karena itulah baru bisa ada orang yang begitu putih, bersih, dan juga baik. Sambil berpikir, Qin Ruojiu mengusap telapak tangan pria itu dengan pelan dan lembut, merasakan sedikit kehangatan yang diperoleh dengan susah payah, sedikit demi sedikit menembus ke dalam tangan dan hatinya. Pemuda yang bernama Yun Jun itu berteriak keras dan mulai melajukan kereta kuda.


Hello! Im an artic!


Gerbong kereta kuda itu keluar dari kota, berguncang di sepanjang jalan. Qin Ruojiu duduk di kereta kuda yang sama dengan pria jernih ini, Qin Ruojiu tidak merasa sesak sama sekali, tangan pria itu masih menggenggam tangannya dengan lebut, mengulas senyum di sudut bibirnya, tapi malah terdapat pesona yang tak terlukiskan, Qin Ruojiu berpikir dirinya salah lihat, hanya dengan pelan mengucek matanya, sangat cepat raut wajah pria itu kembali ke senyum tipis yang samar.


Dia berkata: “Nona Bingxin, apa kamu tahu ke mana aku akan membawamu selanjutnya?”


Qin Ruojiu tidak mengatakan apa-apa, sedikit menggelengkan kepalanya, tidak ada rasa takut di tatapan matanya, hanya ada sentuhan ketenangan dan ketidakpedulian.


Dia berkata: “Tempat di mana aku akan membawamu adalah Negara Beifeng!”


Hello! Im an artic!

__ADS_1


Ketika kata Beifeng itu diucapkan, mata Qin Ruojiu yang kesepian itu akhirnya berbinar, tapi itu hanya sesaat saja kemudian menghilang sepenuhnya.


Bei Fengchen melihatnya, alisnya sedikit mengernyit, mengapa wanita ini begitu acih dan tampak begitu sulit dijangkau? Dirinya baru bertemu dengan wanita ini kurang dari 2 jam dan lagi wanita ini langsung setuju untuk pergi dengannya, tanpa bertanya ke mana dirinya akan pergi. Sebenarnya apa yang tersembunyi di balik sepasang matanya yang begitu kesepian itu?


Tanpa sadar Bei Fengchen merasa semua fokus dirinya perlahan-lahan tersedot oleh sepasang mata itu.


“Bingxin, apa kamu punya rumah?” Bei Fengchen yang sudah diam cukup lama, paras pangeran yang begitu mulia itu akhirnya masih tidak dapat mempertahankan rasa penasarannya terhadap Qin Ruojiu, dia terus memegang tangan Qin Ruojiu dan bertanya dengan suara rendah.


Bingxin… sejak dirinya memakai nama ini untuk dirinya sendiri, dirinya sudah bukan lagi Qin Ruojiu yang dulu.


Qin Ruojiu sudah mati, dan Bingxin terlahir kembali.


Jadi Qin Ruojiu hanya tersenyum padanya dengan dingin, ada sedikit kesepian dan kepahitan dalam senyumannya itu.


Qin Ruojiu berkata: “Tidak ada!”


Seolah melihat jejak rasa sakit yang tersembunyi begitu dalam di matanya, Bei Fengchen tidak sanggup untuk bertanya lebih banyak lagi, takut dirinya akan melakukan kesalahan dan akan membuat Qin Ruojiu menampilkan ekspresi sedih dan sakit.

__ADS_1


Bei Fengchen mengatupkan bibirnya, hanya ingin menghangatkan wanita di depannya ini dengan senyuman, dia kemudian berkata: “Apa kamu lelah?”


Qin Ruojiu membelalakkan matanya, mengangguk hampa. Lelah, sangat lelah, hatinya terus menerus merasa lelah dan lelah.


Bei Fengchen berkata: “Kalau begitu tidurlah, tidurlah sebentar dan kita akan segera sampai.”


Leng Bingxin melihat sekeliling, tidak ada tempat baginya untuk tidur.


Bei Fengchen dengan lembut menepuk pahanya yang ramping dan berkata: “Letakkan kepalamu di sini, jangan khawatir!”


Leng Bingxin benar-benar tertidur …


Menyandarkan kepala di pangkuan Bei Fengchen, begitu lembut dan hangat.


Kali ini, dia tertidur dengan sangat nyenyak, sangat lelap. Dalam mimpi, dirinya sama sekali tidak mengerutkan kening, tidak bergumam ketakutan, tidak menangis kencang dengan sedih, dan juga tidak meneriakkan nama-nama orang tertentu dengan putus asa.


Benar-benar lupa? Apa bisa benar-benar melupakannya? Dalam mimpi itu, hanya ada sebuah suara yang mengatakan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Saat malam berangsur-angsur mendekat, itu juga mengisyaratkan bahwa hari perlahan-lahan sudah berlalu.


__ADS_2