Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 38 Tugas Sebagai Permaisuri


__ADS_3

Qin Ruojiu terdiam lama sebelum berkata, “Tidak apa-apa. Jika Yang Mulia sudah lelah, silahkan kembali ke Istana Zhaolie, besok pagi masih ada rapat yang harus Yang Mulia hadiri.”


“Kamu mengusirku?” Kang Yong menjadi kesal. Semua wanita di sampingnya selalu berharap dia bisa inap dan tidur dengan mereka. Tetapi wanita di hadapan ini, seorang permaisuri, malah mengusirnya. Ia bahkan mengusirnya dengan santai, harga dirinya sebagai seorang pria pun tersinggung.


“Tidak. aku hanya mengutamakan kesehatan Yang Mulia,” ucap Qin Ruojiu dengan datar, mata indahnya itu, kosong tanpa emosi.


Kangyong merasa mata wanita ini sangat indah, bahkan suaranya juga enak didengar.


Mendengar alasan ini, Kang Yong pun menaikkan alis, lalu berkata dengan nada berat, “Apakah aku tidak boleh tidur di sini? Sebagai permaisuri, apakah kamu lupa, tugas pokokmu adalah melayaniku?”


Qin Ruojiu mengangkat kepala, terlihat mata orang itu penuh sindiran, Qin Ruojiu menggigit bibir dan menahan diri, dia tahu bahwa orang ini memang sengaja ingin menyiksanya, mengujinya. Sehingga, dia pun pura-pura terjebak, karena pria ini terlalu berbahaya, susah ditebak, semakin dilawan, ia akan semakin menyiksanya.


Qin Ruojiu menatapnya dengan tidak berdaya, “Jika Yang Mulia ingin inap, aku akan melayanin Yang Mulia.”

__ADS_1


Akhirnya ekor rubah ini muncul juga. Ternyata semua kata-kata tadi hanyalah tipu muslihat.


Hebat, hebat sekali. Benar-benar anak penyihir, siasatnya berbeda dengan wanita lain.


Kang Yong membalikkan badan, merasa jijik terhadap wanita munafik ini, dia pun membentak, “Tidak usah. aku hanya sembarang bicara saja, Permaisuri cepat tidur. aku tidak ingin melihat wajahmu di malam hari dan bermimpi buruk nantinya.”


Qin Ruojiu tidak merespon sindiran itu, melainkan berkata dengan lembut, “Jika Yang Mulia sudah memiliki rencana, aku pun tidak bisa memaksa, aku akan segera menyuruh orang menjemput Yang Mulia.”


“Tidak usah, aku bisa sendiri!”


Qin Ruojiu berlutut dengan sopan dan tanpa menatapnya. Dia bahkan bersedia tergeletak di lantai jika itu bisa membuat pria yang seperti iblis ini pergi. Ya, bagi Qin Ruojiu, orang ini sudah bujan lagi suaminya, tetapi dewa kematian yang selalu membuatnya waspada dan takut.


Kang Yong malah menjadi ragu-ragu. Wanita ini ternyata tidak memiliki reaksi apapun ketika mendengar bahwa dia mau pergi. Wanita lain, pasti sudah sedih, kecewa. Tetapi dari kata-kata wanita ini, rasanya ia malah terasa seperti terbebas.

__ADS_1


Sebenarnya anak penyihir ini ingin dia menetap atau ingin dia pergi? Kenapa ia susah sekali ditebak?


Pada hari kedua, Qin Ruojiu masih berbaring di atas ranjang.


Keringat membasahi tubuhnya, kedua matanya terpejam rapat, tangannya terus menggenggam selimut, seperti sedang bermimpi buruk. Penderitaannya dalam mimpi itu membuat terus menggeliat kesana kemari, jika bukan karena Lu’Er memanggil dia, dia mungkin akan semakin menderita.


“Permaisuri… Permaisuri… cepat bangun…”


“Permaisuri…”


“Aaa…” teriak Qin Ruojiu kemudian bangkit dan duduk di ranjang. Walaupun wajahnya ditutup cadar, tetapi dari matanya terlihat jelas bahwa dia sangat ketakutan.


“Permaisuri, apakah kamu baik-baik saja?” Lu’Er sangat khawatir dan tidak tega ketika melihat Qin Ruojiu seperti itu.

__ADS_1


Bab selanjutnya Bab 39 Apa Yang Bisa Dilakukan di Istana


Setelah Qin Ruojiu sadar kembali, dia baru menggelengkan kepala dengan lemas, kemudian mengelap keringat di dahinya. Ekspresinya memucat dan ia menunduk, “Aku baik-baik saja, sekarang sudah jam berapa ?”


__ADS_2