
Ye Wushuang terpaku, itu memang gaya Pangeran Ping, sangat tegas dan kejam.
Hello! Im an artic!
Tapi apa Ji Xingfeng berpikir dia bisa memaksanya dengan cara ini? Ye Wushuang menoleh, melihat Yangui yang merasa sayang dan juga keobsesifan serta keengganan di tatapan matanya, Ye Wushuang lalu berkata dengan datar: “Yangui, apa kamu menyukainya?”
Yangui langsung mengangguk, tapi setelah beberapa saat, dirinya seakan memikirkan sesuatu dan segera menggelengkan kepalanya dan berkata: “Selir Ye, aku… aku tidak bermaksud begitu…”
Hello! Im an artic!
“Kamu tidak perlu menjelaskan, kamu bisa mengambilnya.”
Yangui terkejut dan berkata dengan tidak percaya: “Tapi ini…ini dari Pangeran.”
“Aku tidak menginginkannya, dia berkata boleh membuangnya, jadi lebih baik diberikan untukmu saja.”
“Tapi……”
Hello! Im an artic!
“Kenapa? Kamu tega membuang benda ini?”
“Tidak…” Raut wajah Yangui tampak kesulitan, dirinya sangat menginginkannya, bagaimanapun benda ini diberikan oleh Pangeran, tidak ada yang membuatnya tersentuh dibanding apa yang diberikan oleh Pangeran. Hanya sayangnya Pangeran memberikannya untuk Selir Ye dan bukan untuk dirinya.
__ADS_1
“Sudah, tidak perlu banyak bicara lagi. Kamu simpan saja, aku tidak akan menerimanya.”
Melihat Ye Wushuang yang sudah berkata dengan tegas, Yangui sudah paham bahwa meskipun Ye Wushuang memiliki kepribadian yang lemah lembut, tapi dia selalu bertindak tegas.
Jika sudah berkata tidak mau maka dia tidak akan mau menerimanya. Yangui menerima jubah itu dalam diam, terdapat tatapan sayang di matanya, tatapan itu seolah-olah Yangui sedang melihat anaknya yang baru lahir. Tatapan itu penuh cinta dan kasih sayang, bahkan terdapat keengganan dalam tatapan cinta dan kasih sayang itu.
Ye Wushuang bisa melihat bahwa Yangui menyukai benda ini, bukan karena benda itu sangat mahal, tapi dikarenakan niat dari pengirimnya. Yanggui—jatuh cinta pada Pangeran Ping?
Setelah pemikiran ini muncul, Yangui sama sekali tidak mengetahuinya. Yangui berbalik dengan gembira, menatap Ye Wushuang dengan tatapan membara dan berkata: “Kalau begitu aku berterima kasih pada Selir Ye.”
“Tidak perlu, aku hanya meneruskannya saja.”
“Benar juga, selain mengirim benda ini, Pangeran juga mengirim surat untukmu.”
Yangui meraba-raba sebentar lalu menyerahkan surat itu pada Ye Wushuang. Ye Wushuang ragu-ragu sejenak tapi pada akhirnya menerima surat itu.
“Baiklah Selir Ye, kamu bisa membaca surat itu perlahan-lahan, aku pergi dulu.”
“Ya!”
Ye Wushuang baru membuka surat itu setelah Yangui pergi sambil memeluk benda itu dengan hati gembira.
Ye Wushuang membaca surat itu, tidak ada yang penting dalam surat itu. Hanya menulis agar dirinya berhati-hati di Istana, harus waspada terhadap tipu daya Zhao Xueyan. Dan di akhir surat Ji Xingfeng juga mengungkapkan kekhawatirannya padanya.
__ADS_1
Ye Wushuang terpaku di tempat cukup lama, dirinya tidak menyangka Ji Xingfeng yang biasanya kejam dan dingin bisa menulis kata-kata yang lembut dan penuh perhatian seperti itu. Namun semua ini tidak ada hubungannya dengannya. Ye Wushuang berbalik badan dengan datar, mengambil lilin yang menyala kemudian membakar surat itu ke tengah api lilin.
Saat kertas surat hampir terbakar seluruhnya, terdengar suara lembut dan agung di sisi telinganya.
“Apa yang kamu bakar?”
Ye Wushuang menoleh dengan heran, entah sejak kapan Kaisar Qi sudah berdiri di luar pintu.
Di bawah cahaya lilin, sosok Kaisar Qi tampak samar, wajah tampannya seketika membeku.
Ye Wushuang bergegas menoleh, Ye Wushuang akhirnya merasa lega setelah melihat abu di atas meja. Untungnya, surat itu sudah terbakar habis.
“Aku sedang bertanya padamu, apa yang kamu bakar?”
Kaisar Qi berjalan menghampiri dengan dingin, terdapat jejak penelusuran dan kesuraman di tatapan matanya yang tajam.
Ye Wushuang menatapnya lekat, tahu bahwa dirinya tidak bisa bersembunyi, jadi dirinya langsung menjawab: “Aku membakar surat.”
“Surat? Surat dari siapa?”
“Surat dari Pangeran Ping!”
Kaisar Qi sebenarnya sudah mengira bahwa surat itu dikirim oleh Pangeran Ping, tapi dirinya tidak menyangka Ye Wushuang berani menjawab dengan jujur.
__ADS_1
“Kenapa? Apa ada konspirasi dalam surat itu hingga memaksamu untuk membakarnya?” Ada amarah di tatapan matanya, nadanya mempertanyakan dan penuh dengan keagungan.