
Hello! Im an artic!
Qin Ruojiu menghibur kedua gadis kecil itu beberapa saat lalu berkata bahwa dirinya lapar, kemudian Qin Ruojiu meminta mereka keluar membuatkan sesuatu untuk dimakan.
Yan’er dan Lu’er mendengar perintah itu, mata mereka memerah, mereka menatap Qin Ruojiu dengan enggan, pada akhirnya pergi tanpa mengatakan apapun.
Hello! Im an artic!
Qin Ruojiu sebenarnya mendengar perkataan mereka sepanjang waktu, hanya saja Qin Ruojiu tidak ingin membuat mereka sedih, jadi dirinya terus berpura-pura tidur.
Sekarang akhirnya dirinya menemukan alasan untuk memisahkan diri dari mereka berdua, Qin Ruojiu sedikit menghela nafas.
Nyawanya akhirnya sudah akan segera berakhir. Qin Ruojiu sedari awal seharusnya sudah bisa menduga saat seperti ini, tapi dirinya tidak pernah menyangka akan secepat itu.
Qin Ruojiu berpikir Kaisar Zhaolie akan mempertahankannya lebih lama. Lagipula Kaisar Zhaolie masih memiliki kebencian dan kemarahan di dalam hatinya padanya.
Hello! Im an artic!
Memikirkan hal itu, Qin Ruojiu merasa itu konyol. Jika ada Putri Liqing, kebencian dan kemarahan macam apa lagi yang dimiliki Kaisar Zhaolie? Apa artinya itu bagi Kaisar Zhaolie?
Setelah turun dari ranjang, Qin Ruojiu mengenakan mantel dengan asal lalu berjalan perlahan ke depan meja rias.
__ADS_1
Qin Ruojiu dengan pelan mengeluarkan sisir kayu dari balik laci kayu yang diukir dengan pula bunga, merapikan rambut hitam panjangnya itu dengan lembut.
Kilat di luar jendela disertai guntur, seolah membelah langit menjadi dua.
Cahaya di depan cermin ketika petir menyambar memantulkan cahaya putih.
Dirinya di depan cermin sudah seperti hantu, sama sekali tidak ada amarah, bahkan sudut bibirnya mengulas senyum menyeramkan yang membuat orang lain bergidik.
Qin Ruojiu merasa dirinya saat ini sudah mati, yang menggantikannya di dalam cermin itu hanyalah dirinya yang lain.
Wajah yang pucat dan mempesona, ini bukanlah dirinya yang dikenalnya…
Kemudian sebuah suara terdengar, pintu di luar Istana dibuka.
Langkah kaki yang berat dan lambat perlahan perlahan menuju ke arah Qin Ruojiu.
Suara itu adalah suara Dewa kematian, suara perenggut nyawa. Qin Ruojiu berbalik, bibir merahnya sudah seperti awan senja, wajahnya yang cantik itu sudah seperti kertas.
Perlahan-lahan Qin Ruojiu bangkit berdiri, cahaya jernih terdapat pada tatapan matanya, menatap Kaisar Zhaolie yang datang dengan dingin bagai Iblis.
Di depan aula Istana Fengyi, Kaisar Zhaolie memakai jubah naga dengan pedang biru tua yang tergantung di pinggangnya. Saat angin berhembus, rambut hitamnya juga ikut menari dengan liar, auranya menyebar ke seluruh ruangan, alisnya yang tampan itu sedikit terangkat, ada ketampanan yang tak terlukiskan.
__ADS_1
Kaisar Zhaolie menatap langsung ke orang yang terlihat pucat itu, dia duduk di depan meja rias, cahaya di depan cermin memantulkan wajah putihnya yang bagai bulan yang begitu jernih.
Saat ini, hati Kaisar Zhaolie sedang bergetar. Tetapi ketika melihat Qin Ruojiu tersenyum pada dirinya sendiri, dia begitu cantik seakan itu adalah ilusi yang terbentuk dalam mimpi. Ekspresi Kaisar Zhaolie seketika menjadi suram dan acuh, tatapan matanya menjadi dingin, kedua tinjunya terkepal erat, dadanya bergejolak dengan kuat, seolah mencoba menekan amarah yang ada di dalam hatinya.
Qin Ruojiu mengatupkan bibirnya, seolah-olah mata yang telah lama menunggu itu akhirnya memancarkan seberkas cahaya.
Qin Ruojiuberkata: “Kaisar, kamu akhirnya datang!”
Ini bukanlah Qin Ruojiu yang ingin dilihatnya, dalam harapannya, Qin Ruojiu sedang meringkuk sendirian di sudut gelap, kemudian menggigil, menangis, berteriak, meratap, dan akhirnya meronta dengan lemah.
Tapi saat ini, Qin Ruojiu berdiri di hadapannya dengan begitu tenang, begitu tidak takut, begitu cantik dan menawan, hati dan tangan Kaisar Zhaolie gemetar di saat bersamaan.
Kaisar Zhaolie berkata: “Ratu, apa kamu tahu tujuan kedatanganku malam ini?”
Qin Ruojiu menunduk dan mengulas senyum sedih di wajahnya: “Aku tahu!”
Kaisar Zhaolie berkata dengan menekan nadanya: “Ratu, apa kamu bersedia mati demi negara?”
Qin Ruojiu diam.
Kaisar Zhaolie pikir Qin Ruojiu sedang takut, akhirnya dirinya memiliki penghiburan di dalam hatinya. Selama Qin Ruojiu bersedia memohon belas kasihan, mungkin…
__ADS_1