
Hello! Im an artic!
Orang itu tahu identitasnya sudah dikenali, dia tidak berani berbicara dan hanya menundukkan kepalanya, tidak bersuara dan juga tidak melarikan lari.
Di bawah tekanan She Jingtian, para pembunuh yang tadinya terlihat begitu menakutkan dalam sekejap sudah seperti sekelompok anak-anak yang melakukan kesalahan dan menunggu untuk dihukum, adegan demi adegan ini begitu kontras hingga membuat Ye Wushuang terpaku.
Hello! Im an artic!
Pertanyaan She Jingtian sama sekali tidak dijawab. Orang-orang itu berdiri diam di tempat dengan ekspresi beragam, hingga She Jingtian berteriak marah: “Masih tidak cepat pergi dari sini!”
Sekelompok orang yang entah datang dari mana itu kemudian melarikan diri.
Melihat mereka sudah pergi, Ye Wushuang yang sedari tadi tegang akhirnya rileks. Dalam sekejap, sekujur tubuhnya begitu lemas dan langsung merosot di tanah.
Melihat Ye Wushuang yang seperti itu, She Jingtian sangat khawatir, dia berjalan menghampiri dan membantu Ye Wushuang berdiri lalu bertanya dengan suara lembut: “Bagaimana keadaanmu?”
__ADS_1
Hello! Im an artic!
Ye Wushuang berusaha untuk menenangkan emosinya, menggigit bibir merahnya dan bertanya dengan cemas: “Aku baik-baik saja, mana Min’er? Apa kamu sudah menemukannya?”
“Sudah seperti ini pun kamu masih mengkhawatirkannya.”
“Cepat cari dia, ini sudah larut, nantinya jika orang-orang sudah pergi, Min’er pasti akan sangat takut.”
“Tidak perlu mencari lagi, dia baik-baik saja.”
“Baik-baik saja?” Mata Ye Wushuang yang ketakutan itu pada saat ini terlihat sedikit terkejut, air mata masih mengalir dari matanya, membuat orang lain yang melihatnya merasa sangat tidak tega.
Pada saat ini, Ye Wushuang mendengar suara panggilan anak kecil dari arah depan: “Kak Wushuang, Kak Wushuang…”
Itu adalah suara Min’er, Ye Wushuang sangat gembira dan langsung melepaskan diri dari pegangan She Jingtian, berjalan ke arah suara itu berasal dengan tidak percaya.
__ADS_1
Min’er meminjam cahaya bulan yang sedikit redup, dia sudah seperti malaikat yang terlupakan di dunia, Ye Wushuang merentangkan kedua lengannya, Min’er yang cantik dan polos itu langsung bergegas berlari masuk ke dalam pelukannya.
Ye Wushuang memeluk Min’er dengan erat dalam pelukannya, menangis sambil tertawa dan berkata: “Min’er, ke mana saja kamu, benar-benar membuat kami takut, kami mencarimu kemana-mana.”
Min’er menatap tampilan Ye Wushuang, Min’er menyeka air mata Ye Wushuang sambil berkata menghiburnya: “Aku sedang menonton pertunjukan wayang di dekat sini, itu benar-benar sangat menarik. Maaf, memuatmu mencariku kemana-mana.”
“Tidak apa-apa, selama kamu tidak terluka maka tidak apa-apa.” Ye Wushuang juga sudah menghentikan tangisnya, merasa dirinya sedikit kekanak-kanakan, lagipula She Jingtian masih menontonnya.
She Jingtian kemudian secara pribadi menyerahkan saputangan sutra bersih dengan pola sulaman plum musim dingin, paras yang anggun dan tampan itu benar-benar persis seperti orang yang ada di dalam lukisan.
She Jingtian lalu berkata dengan nada bicara sedikit bersalah: “Sekalah, ini salahku.”
“Aku membuat Tuan Penguasa Kota melihat lelucon, jika bukan karena Tuan yang menyelamatkanku, maka aku pasti tidak akan bisa bernapas di sini. Bisa dianggap aku berhutang satu nyawa padamu.” Ye Wushuang menjawab sambil mengulas senyum ringan, tapi matanya itu malah terlihat semakin khawatir, sama seperti ketika dirinya menghadapi keadaan berbahaya tadi.
She Jingtian melihat segalanya, ragu-ragu ingin berbicara beberapa kali tapi pada akhirnya berhenti, dirinya tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Pada akhirnya, She Jingtian meyakinkan hatinya lalu berkata dengan nada cukup serius: “Tadi itu Min’er tidak hilang aku yang sengaja mengatur agar dia menonton pertunjukan wayang di Dongjiefang.”
__ADS_1
“Hmm?” Ye Wushuang mengira dirinya salah dengar, matanya sedikit melotot, menatap ke arah She Jingtian dengan tidak percaya: “Apa Tuan Penguasa Kota sedang bercanda?”
She Jingtian dengan tegas melipat tangannya, raut wajahnya menjadi sedikit serius: “Awalnya aku tidak ingin mengatakannya, tapi aku khawatir kamu akan berpikiran macam-macam dan menyalahkan dirimu sendiri, karena itu aku mengatakan yang sebenarnya padamu. Sebenarnya dari awal aku sudah menyadari ada orang yang mengikuti kita, aku berpikir orang-orang ini menargetkanku, aku takut akan melibatkan kalian, karena itu aku memisahkan diri darimu dan Min’er, siapa tahu orang-orang itu ternyata mengikutimu, untungnya aku datang tepat waktu, kalau tidak maka mereka akan bertindak padamu.” Berbicara sampai di sini, ada rasa syukur yang mendalam dalam ucapan She Jingtian. Karena pada saat dirinya mengetahui bahwa Ye Wushuang berada dalam bahaya, hanya ada satu pemikiran dalam benaknya, yaitu tidak boleh membiarkannya mati.