
Hello! Im an artic!
“Apa kamu ingin melarikan diri dariku?” Kaisar Zhaolie kembali menarik Qin Ruojiu ke dalam pelukannya, menatapnya dengan ekspresi lucu, lengan panjangnya terjulur untuk menarik leher Qin Ruojiu, mendaratkan sebuah ciuman pada wajah merona Qin Ruojiu.
Wajah Qin Ruojiuran seketika memerah, secara refleks dia bangkit, mendorong telapak tangan Kaisar Zhaolie yang besar, bersiap untuk melarikan diri. Tapi tiba-tiba pinggangnya menegang karena Kaisar Zhaolie merangkulnya dengan erat, tubuhnya yang halus itu melekat erat di pelukan Kaisar Zhaolie, sama sekali tidak bisa bergerak.
Hello! Im an artic!
“Ratu, apa yang sedang kamu lakukan? Menolakku?” Wajah Kaisar Zhaolie berubah menjadi sedikit menggelap, berkata dengan nada sedikit marah.
Qin Ruojiu memalingkan wajahnya, dengan sengaja tidak ingin melihat ke arah mata yang sudah marah itu, Qin Ruojiu berkata dengan tenang: “Orang yang diinginkan Kaisar bukanlah diriku, jadi untuk apa membuang waktu pada diriku?”
Setelah mendengarkan ucapan itu, ada gelombang di mata Kaisar Zhaolie, terdapat cahaya licik yang terlintas di matanya, dia berkata dengan senyum menawan: “Ternyata Ratu sedang cemburu?”
Qin Ruojiu merasakan hidungnya terasa masam, menarik napas dingin tapi masih menolak untuk mengakuinya: “Jika Kaisar ingin berpikir seperti itu, maka aku juga tidak berdaya!”
__ADS_1
Hello! Im an artic!
“Apa maksud Ratu, Ratu tidak peduli jika yang kupikirkan dalam hatiku adalah orang lain?” Setelah selesai berbicara, Kaisar Zhaolie memeluk Qin Ruojiu semakin erat di pelukannya, tentu saja menggunakan tubuhnya yang tegap itu untuk menempel erat dengan Qin Ruojiu.
Biasanya, demi Kaisar Zhaolie, Qin Ruojiu akan menanggapinya dengan malu-malu. Tapi kali ini, seperti yang Kaisar Zhaolie katakan, yang dipikirkannya adalah wanita lain, tapi orang yang dipeluknya adalah dirinya. Bagi Kaisar Zhaolie, dirinya tidak lebih hanyalah alat untuk melampiaskan hasratnya saja.
Rasa ketidakpuasan yang kuat semacam itu langsung memenuhi seluruh kepala Qin Ruojiu, dirinya merasa begitu kotor dan sangat malu. Mengapa Kaisar Zhaolie malah memikirkan wanita lain ketika memperlakukannya seperti ini? Semacam rasa sakit yang tak terungkapkan membuat Qin Ruojiu mendorong Kaisar Zhaolie dengan putus asa.
Bagi Kaisar Zhaolie, Qin Ruojiu yang dulu, tidak peduli apa yang ingin dirinya lakukannya, Qin Ruojiu akan selalu bersikap patuh. Bahkan jika Qin Ruojiu tidak menyukainya, dan Qin Ruojiu melakukannya untuk menyenangkannya, Qin Ruojiu juga akan tetap melayaninya. Inilah mengapa dirinya bisa begitu tamak akan tubuh Qin Ruojiu.
Jika biasanya, dirinya tidak akan menginginkan Qin Ruojiu dengan terburu-buru. Tapi pada saat ini, amarah di hatinya tidak bisa dihilangkan. Menghadapi penolakan Qin Ruojiu, keinginannya itu malah semakin meningkat.
Detik berikutnya, Kaisar Zhaolie kembali menerjang tanpa mempedulikan apapun, langsung memeluk tubuh Qin Ruojiu yang lemah dan rapuh itu lalu tiba-tiba menekannya ke ranjang.
Qin Ruojiu tidak pernah menyangka bahwa Kaisar Zhaolie akan memaksanya seperti ini.
__ADS_1
Dulu ketika Qin Ruojiu pertama kali memasuki istana, Kaisar Zhaolie melakukan tindakan ofensif seperti ini dikarenakan benci terhadapnya.
Tapi kali ini, mereka sudah mengalami begitu banyak hal. Qin Ruojiu pikir mereka bisa saling mencintai, saling bertoleransi, dan menghormati satu sama lain.
Ternyata, pemikiran Qin Ruojiu salah.
Kaisar Zhaolie memaksanya, tidak mempedulikan keinginan dan juga perasaannya. Bahkan Kaisar Zhaolie memikirkan wanita lain ketika sedang menginginkannya, hati Qin Ruojiu tiba-tiba mencelos.
Dalam hati Kaisar Zhaolie, apa dirinya ini bahkan tidak sebanding dengan binatang? Atau bisa dikatakan dirinya ini hanya sebuah boneka tanpa pikiran?
Perasaan sakit hati membuat Qin Ruojiu memukuli Kaisar Zhaolie tanpa berpikir lagi, Qin Ruojiu menggigit bahu Kaisar Zhaolie, berkata dengan tercekat: “Kang Yong, dasar bajingan, kamu benar-benar bajingan!”
Detik berikutnya, Kaisar Zhaolie melepaskan Qin Ruojiu dengan kesakitan.
Mata hitam pekatnya itu berkilat, menatap Qin Ruojiu dengan sedikit marah: “Kamu berani menggigitku, kamu cukup kejam!”
__ADS_1