
Hello! Im an artic!
Qinghao berkata: “Dari mana asal luka Nona?”
Setelah Leng Bingxin mendengarnya, tatapan matanya menggelap, ada keraguan yang terlintas di matanya, kemudian dia berkata perlahan: “Ketika naik gunung untuk memotong kayu, secara tidak sengaja wajahku tergores oleh cabang pohon!”
Hello! Im an artic!
Setelah Qinghao mendengarnya, rambut peraknya terangkat, ekspresinya berubah, dia menolehkan kepala dan berkata dengan suara dalam: “Chen, luka ini sepertinya belum lebih dari sebulan bukan?”
“Benarkah?” Bei Fengchen mencondongkan tubuh ke depan dan bertanya pada Leng Bingxin.
Leng Bingxin mengangguk dengan terkejut, tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.
“Qinghao, ini …”
Hello! Im an artic!
“Minta dia pergi ke ruang samping dan berbaring, beristirahat dengan baik, tunggu ketika tubuh dan pikirannya rileks, baru aku bisa menjahit lukanya!”
“Menjahit?” Bei Fengchen dan Leng Bingxin melangkah maju dengan terkejut di saat bersamaan!
__ADS_1
Qinghao melipat kedua tangannya ke belakang dengan raut wajah datar, mata birunya itu sedingin es: “Ya, lukanya itu terlalu dalam dan terlalu besar, sulit untuk disembuhkan jika tidak dijahit!”
“Setelah dijahit, apa tidak akan meninggalkan bekas luka yang berbentuk seperti kelabang di wajahnya?” Wajah cemas Bei Fengchen seakan dirinya tampak lebih kesakitan dan cemas dibanding Leng Bingxin.
Leng Bingxin tidak memiliki harapan apa pun terhadap wajahnya, jadi selain dirinya terkejut pada awalnya, selanjutnya sikapnya agak tenang. Selama tidak mati, sekarang apa lagi yang bisa membuatnya takut?
Qinghao malah menunjukkan senyum aneh, menatap Bei Fengchen dengan datar untuk beberapa saat lalu berkata: “Jangan meremehkan kemampuanku!”
Mendengar ucapan ini, Bei Fengchen tampak seperti baru saja memakan pil penenang jiwa, ekspresinya sudah lebih santai lalu dia berkata: “Aku percaya padamu, tapi butuh berapa lama?”
“Lukanya itu terlalu dalam, jika benar-benar ingin menyembuhkannya maka butuh waktu satu setengah tahun!”
“Satu setengah tahun?”
“Tidak, satu setengah tahun ya satu setengah tahun, aku akan menunggu …”
Pembicaraan yang sedikit tidak jelas di antara keduanya membuat Leng Bingxin merasa bahwa segala sesuatunya tampaknya tidak sederhana.
Tapi bagaimana tampak tidak sederhana, Leng Bingxin malah tidak bisa mengungkapkan sepatah kata pun.
Apa wajahnya ini benar-benar bisa disembuhkan? Setelah disembuhkan, apa dirinya akan kembali menjadi Qin Ruojiu? Lalu akan seperti apa kehidupannya?
__ADS_1
Setelah Leng Bingxin pergi ke ruang samping, Qinghao memberinya sebuah pil, kemudian Leng Bingxin tidak tahu apa-apa lagi setelah itu.
Menoleh untuk melihat ke arah orang yang sudah terdiam itu, bulu mata yang padat dan tebal itu sedikit melengkung, terlihat begitu tenang dan damai.
Pada saat ini, Bei Fengchen yang berada di samping bergegas menghampiri, melihat orang yang dengan damai tidur berbaring di atas ranjang, ada sedikit riak yang muncul di dalam hatinya.
Dalam sekejap dirinya kembali tenang dan berkata: “Qinghao, apa yang kamu berikan padanya?”
“Pil penenang, biarkan dia tidur sebentar, aku akan memeriksa lukanya nanti.”
Mendengar sampai di sini, Bei Fengchen akhirnya sedikit lega dan berkata: “Selama bisa mengembalikan paras aslinya, tidak peduli berapa harga yang harus dikeluarkan, aku tidak peduli.”
Pada saat ini mata Qinghao terlihat gelap seperti es, dalam sekejap melayangkan tatapannya ke wajah Bei Fengchen yang tampan, dia bertanya dengan suara rendah: “Wanita ini ternyata bisa membuatmu begitu peduli, apa statusnya itu berbeda dengan Ziyue, Zihong, dan Ziyu?”
Dada Bei Fengchen masih terasa sesak, kemudian dia menghela nafas dan berkata: “Berbeda, mungkin dia akan lebih baik dibanding mereka!”
Qinghao tersenyum tipis: “Tapi wajahnya …”
Ada gelombang yang terlintas di mata Bei Fengchen, dia berkata dengan suara yang dalam: “Aku percaya padamu, kamu bisa membuatku melihat sisi yang memuaskan!”
Setelah Qinghao mendengar ucapan itu, matanya mengerjap dan berkata dengan datar: “Kamu harusnya tahu bahwa luka di wajahnya itu bukan dikarenakan cabang pohon, luka yang begitu rapi dan tegas, itu sudah pasti luka sayatan pedang!”
__ADS_1
Mendengar ucapan ini, Bei Fengchen sedikit mengepalkan tinjunya, wajah tampannya itu menunjukkan raut kemarahan.