Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 183 Rela Mati Untuknya


__ADS_3

Kang Yin yang ada di depannya itu sudah terluka parah. Wajahnya yang tampan itu sudah dipenuhi dengan luka memar. Baju putih yang dia kenakan itu sudah dipenuhi dengan bercak darah. Meskipun dia sudah babak belur, tetapi dia masih enggan menunjukkan kelemahan dirinya dan terus berusaha untuk melawan.


Di wajah Kaisar Zhaolie juga ada luka memar yang sudah menghitam. Seharusnya itu adalah hasil pukulan Kang Yin.


Melihat kedua pria yang terus berkelahi itu, hati Qin Ruojiu pun merasa semakin sakit. Wajahnya pun semakin memucat dan air matanya terus mengalir keluar. Dia menggenggam gunting yang ada di tangannya itu dengan erat lalu berusaha untuk beranjak berdiri lalu mendorong kaca yang ada di belakangnya. Kaca yang ada di belakangnya itu pun pecah dan terjatuh ke atas lantai lalu mengeluarkan suara, “Ping piang.”


Kaca itu pun berserakan di atas lantai, ada beberapa serpihan kaca yang menancap ke dalam tubuh Qin Ruojiu dan membuatnya terluka.


Qin Ruojiu mengangkat gunting yang ada di tangannya itu dan mengarahkannya ke arah lehernya yang putih bagaikan salju itu, lalu dia berkata dengan nada dingin, “Kalau kalian terus bertengkar, biar aku mati di sini buat kalian lihat.”


Dua orang yang tadinya sudah hendak saling membunuh itu pun tidak memperhatikan apa yang dilakukan Qin Ruojiu lagi. Tetapi, ketika mendengar suara kaca itu pecah dan terjatuh ke atas lantai, dua pria itu pun mengangkat kepala mereka dan menoleh ke arah suara itu datang. Mereka berdua melihat ke arah Qin Ruojiu dengan tatapan dingin dan tajam.


Qin Ruojiu pun tersenyum dingin lalu berkata, “Kalian jangan bertengkar karena aku. Jangan bertengkar lagi. Kalian mau suruh aku ngapain juga boleh.”

__ADS_1


Senyumannya itu seperti bunga lotus yang tertiup angin. Dia tampak begitu cantik sampai jantungnya yang melihat itu pun terus berdebar kencang. Dia tampak begitu suci sampai dia tidak rela untuk melepaskannya. Tetapi pada saat yang bersamaan, dia juga merasa jarak antara dia dengannya begitu jauh dan sangat sulit dicapai.


Ternyata dia rela mati demi pria itu. Air matanya yang membasahi wajahnya itu membuat kecantikannya memudar.


Dia yang melihat itu pun menggelengkan kepalanya dan menunjukkan tatapan mata cemburu dan tidak rela, “Ruojiu, jangan, jangan lakukan hal bodoh. Cepat lepaskan gunting itu.”


Wajahnya yang tadinya dipenuhi dengan amarah dan kekejaman itu berangsur-angsur berubah menjadi tatapan mata yang dalam.


Tindakan Qin Ruojiu saat ini seolah sedang menusuk tubuhnya dengan pisau dan terus menusuk dirinya dan membuatnya merasa sakit. Dia begitu mencintainya dan memperlakukannya sebaik mungkin. Tetapi wanita ini malah memperlakukannya seperti ini demi pria lain.


Melihat ekspresi wajah Qin Ruojiu yang sedikit berubah, Kang Yin seolah bisa mengerti apa yang ingin dilakukan Qin Ruojiu. Dia pun langsung melepaskan tangannya yang sedang menarik Kaisar Zhaolie lalu berdiri dengan penuh ketakutan. Dia menjulurkan tangannya dan mencoba untuk membujuk Qin Ruojiu, “Ruojiu, lepaskan benda itu. Aku akan mendengar semua yang kamu katakan, cepat ….”


Qin Ruojiu tahu dia akan berbuat seperti itu, tetapi Kaisar Zhaolie, dia tidak mungkin melepaskan dia dan Kang Yin. Mungkin cara ini adalah cara terbaik.

__ADS_1


Kemudian, dia mengarahkan tangannya ke arah lehernya lalu menutup matanya. Air matanya yang bergantung di matanya itu pun menetes keluar ….


Gunting yang digenggam erat di tangannya itu pun menusuk ke lehernya dengan tajam. Ada sentuhan dingin yang membuat dia tidak merasakan rasa sakit sama sekali.


Darah yang mengalir keluar dari lehernya itu pun terlihat seperti air bunga yang bermekaran di musim semi. Indah, tetapi juga membawa nafas kematian yang aneh.


Dalam sekejap, leher Qin Ruojiu yang indah itu pun berubah menjadi sebuah sumber tempat darah mengalir keluar.


Gunting yang tajam itu pun langsung menusuk ke dalam lehernya. Semua itu terlihat begitu menakutkan.


Kang Yin pun berteriak, “Tidak ….”


Pupil mata Kaisar Zhaolie yang hitam itu pun tiba-tiba terbuka lebar dan tatapan matanya itu terlihat begitu dingin dan tubuhnya mulai bergetar. Pada saat itu, dia merasakan rasa sesak di dadanya yang membuatnya tidak bisa bernafas. Rasa sakit itu seolah terus menyayat hatinya dan membiarkan dia merasakan kesedihan yang tidak ada ujungnya. Kemudian dia pun marah dan berteriak, “Qin Ruojiu, asalkan kamu lepaskan gunting itu, Kaisar tidak akan memperpanjang masalah ini lagi. Jika kamu berani mati, Kaisar akan membunuh semua orang yang berhubungan dengan masalah ini!”

__ADS_1


Selesai dia bicara, terdengar suara suara gunting yang terjatuh ke atas lantai “Ping pang.” Darah yang ada di gunting itu pun menodai lantai di sana. Qin Ruojiu melihat ke arah Kaisar Zhaolie dengan tatapan dalam dan dingin lalu berkata, “Apa yang kamu katakan … harus kamu penuhi ….” Bagaimana mungkin Qin Ruojiu tidak tahu akan kekejamannya yang tidak berperasaan itu. Selama dia tidak membiarkannya mati, mana mungkin Qin Ruojiu mau mati semudah itu?


__ADS_2