Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 213 Dia Masih Peduli Dengannya


__ADS_3

Benar, Qin Ruojiu tidak berani menyentuhnya. Tetapi Kang Yin malah menggenggam tangan Qin Ruojiu dengan lembut dan berkata, “Ruojiu, jangan takut, nggak akan ada masalah apa-apa. Setelah malam ini berlalu, aku tidak akan membiarkan kamu ketakutan seperti ini lagi. Percaya padaku.”


Kang Yin melihat ke dalam matanya dengan tatapan yang begitu tulus di bawah cahaya bulan yang hangat. Sedangkan Qin Ruojiu, dia terlihat seperti seseorang yang sedang menggenggam erat penolongnya. Qin Ruojiu meneteskan air mata dan langsung jatuh ke dalam pelukannya tanpa memperdulikan apa pun, “Aku mau pergi dari sini, aku nggak mau tinggal di sini lagi ….” Saat itu, Qin Ruojiu tidak ingin menyimpan dan memendam semua rasa sedih dan takut yang dia rasakan lagi. Dia terus menangis dan melampiskan semua rasa sakit yang dia pendam selama ini.


Saat itu, Kang Yin menunjukkan senyuman tipis di wajahnya yang pucat. Dia memeluknya dan mengusap kepalanya dengan lembut. Di dalam matanya juga terlihat tatapan mata yang penuh dengan kesedihan. Lalu dia berkata dengan lembut, “Baik, tunggu setelah lukaku sembuh, aku akan membawamu pergi dari sini.”


Mendengar perkataan itu, Qin Ruojiu seolah baru sadar kalau Kang Yin tadi terluka karena serangan Beifeng Funing. Kemudian dia langsung beranjak berdiri dari pelukannya. Matanya masih dipenuhi dengan air matanya, kemudian dia menggenggam tangan Kang Yin yang terluka itu dan terlihat begitu khawatir, “Cepat, cepat dari dokter kekaisaran. Dari dokter kekaisaran ….”


Qin Ruojiu terus berteriak ketakutan, tetapi Kang Yin malah seperti orang yang tidak apa-apa dan mengelus pundak Qin Ruojiu dengan lembut lalu berkata, “Tidak apa-apa, cuman luka kecil. Setelah ini aku masih harus menjagamu ….”


Setelah mendengar kata-kata itu, Qin Ruojiu tidak bisa menahan air matanya lagi dan meneteskan air matanya. Pada saat itu Qin Ruojiu mengigir bibirnya dengan erat dan tidak membiarkan rasa sedihnya itu terlihat, lalu dia berkata, “Kang Yin, kenapa kamu sebaik itu padaku, aku tidak pantas ….”

__ADS_1


Kang Yin melihat ke arahnya dengan tatapan pucat dan berkata, “Aku nggak peduli pantas atau tidak pantas. Pokoknya kamu adalah orang yang sudah ditunjukkan untukku di kehidupan kali ini.” Selesai bicara, keringat dinginnya terus mengalir keluar dari dahinya.


Bisa dilihat kalau dia sedang menahan rasa sakit yang sangat hebat. Melihat itu Qin Ruojiu merasa sedikit panik. Setelah itu, Qin Ruojiu terus melihat ke sekeliling untuk menunggu orang yang datang.


Pada saat itu, Qin Ruojiu melihat dua pengawal istana dengan wajah dingin yang berjalan ke arah mereka dengan terburu-buru. Melihat mereka berdua, pengawal itu langsung memberi hormat dan berkata, “Ratu, Pangeran Kesembilan.”


“Ada apa!” Kang Yin masih tetap menahan rasa sakit itu dan berusaha untuk bertanya dingin.


Mendengar hal itu, Qin Ruojiu pun terlihat terkejut dan langsung melihat bingung ke arah Kang Yin.


Kang Yin hanya tersenyum santai dan berkata, “Aku tidak apa-apa. Kamu pulang istirahat dulu!”

__ADS_1


Qin Ruojiu menggenggam Kang Yin dengan erat dan terus menggelengkan kepalanya, “Tubuh kamu masih terluka, darahnya masih terus mengalir.”


“Bukan masalah besar!” Kang Yin tersenyum. Kang Yin tahu wanita ini masih peduli dengannya, kalau tidak dia tidak mungkin terluka demi dirinya dan melihatnya dengan tatapan begitu khawatir.


Qin Ruojiu melihatnya dengan tatapan marah dan berkata, “Kenapa kamu bisa begitu tidak peduli dengan tubuhmu sendiri? Biar dokter kekaisaran datang dulu baru pergi gimana?”


“Ratu, Kaisar suruh kami segera bawa Pangeran Kesembilan kembali ke sana, kalau tidak ….” Berbicara sampai di sana, dua pengawal istana itu tidak berani melanjutkan kalimat yang mereka ucapkan lagi.


Kang Yin juga tidak ingin mempersulit kedua pengawal istana ini karena dia tahu jelas sikap Kaisar Zhaolie. Kemudian dia membelai tangan Qin Ruojiu yang gemetar itu lalu beranjak berdiri dan pergi.


Ketika melihat dia pergi, Qin Ruojiu masih bisa merasakan kehangatan genggaman tangannya yang hangat itu. Dia menundukkan kepalanya dan melihat bercak darah yang masih tersisa di tangannya.

__ADS_1


Qin Ruojiu menundukkan kepalanya dan tidak berani melihat ke arah Kang Yin yang berjalan pergi. Dia terus menundukkan kepalanya dan menangis.


__ADS_2