Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 453 Begitu Ringan Dan Memukau


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Nona Bingxin, lagipula kamu sudah memperlihatkan kemampuan kecapimu, jadi kenapa kamu tidak membiarkan Pangeran melihat keterampilan menarimu?”


Usul Lan’er langsung disetujui oleh Hong’er, dia tersenyum dan bertepuk tangan sambil berkata: “Benar, kamu telah mengikuti kami selama hampir setengah tahun, Pangeran masih belum benar-benar melihat betapa hebatnya kemampuanmu, sekarang biarkan Pangeran melihatnya.”


Hello! Im an artic!


Tadi Leng Bingxin memainkan kecapi hanya untuk melampiaskan rasa sakit yang menumpuk di dalam hatinya, dirinya tidak ingin menunjukkan apa-apa, tapi malah secara tidak sengaja disaksikan oleh begitu banyak orang, Leng Bingxin tahu hasil seperti ini tidak akan membuat dirinya mendapatkan kehormatan atau apapun, malah akan membuat dirinya jatuh ke jurang lainnya. Tepat sebelum dirinya bisa melarikan diri, mereka malah kembali mendorongnya ke puncak berbahaya lainnya.


Leng Bingxin ingin menolak, tapi dari tatapan Bei Fengchen yang tegas dan pekat itu, Leng Bingxin dapat melihat sentuhan kebanggaan dan panas yang membara.


Semacam kegembiraan dan harapan yang berasal dari dalam lubuk hati, seolah-olah itu adalah makanan lezat yang sudah lama ditunggunya, yang disajikan di hadapannya sedikit demi sedikit.

__ADS_1


Leng Bingxin tahu mengatakan apapun juga, dirinya tidak akan bisa melarikan diri.


Hello! Im an artic!


Leng Bingxin dengan tegas menyerahkan kecapi di tangannya ke tangan Huang’er, dia berkata dengan sedikit pucat dan hampa: “Merepotkan Nona Huang’er untuk memainkan kecapi untuk mengiringiku.”


Setelah kalimat itu diucapkan, mata beberapa wanita itu penuh dengan kegembiraan, sementara Bei Fengchen malah merasa sedikit tidak bisa mempercayainya.


Terakhir kali Leng Bingxin dengan dingin menolaknya, hal itu masih terpatri dengan begitu jelas di dalam hatinya, Bei Fengchen berpikir kali ini dirinya juga akan pergi dengan membawa penyesalan, tapi tidak disangka Leng Bingxin ternyata menyetujuinya.


Leng Bingxin berjalan mengitari mereka dan berjalan ke kedalaman bunga-bunga yang mekar, dia sedikit memejamkan matanya dan bernapas dengan tenang.


Saat ini, Huang’er yang berada di samping sudah berjongkok dan duduk di tanah, memiringkan tubuhnya dan meletakkan kecapi di antara kedua kakinya.

__ADS_1


Kemudian alunan melodi yang riang mengalun, Huang’er menjentikkan jari-jarinya dengan perlahan. Pada saat ini, sosok yang tenang di antara bunga itu mulai bergerak, jepit rambut yang terbuat dari giok putih yang disisipkan di balik rambut itu berkilauan di bawah sinar matahari yang bersinar cerah, tarian itu membawa semacam perasaan bagai itu adalah mimpi dan ilusi, gaun panjangnya menyeret tanah, langkahnya bergerak dengan ringan, hanya sebuah pertunjukan awal saja sudah begitu memabukkan, di tengah tarian Leng Bingxin tiba-tiba menarik lengan pakaiannya, memperlihatkan lengan ramping yang begitu putih, tangan itu bergerak dengan begitu lentur bagai tidak memiliki tulang, pinggang yang lentur itu sudah seperti pohon willow yang diterpa angin, tubuh yang lemah itu tampak mabuk dan mengantuk, seolah-olah sudah akan jatuh ke dalam mimpi, tidur panjang adalah kematian, tidur singkat adalah mimpi, semua asap di bawah mata yang jernih itu menghilang tiba-tiba, tubuhnya menari dengan anggun, seakan ada kelopak bunga yang tak terhitung jumlahnya yang mengambang di udara lalu jatuh, satu per satu kelopak itu membawa aroma yang disebarkan oleh angin sepoi-sepoi yang berhembus, Leng Bingxin yang menari saat ini sudah seperti seorang Dewi yang turun ke dunia fana…


Ketika Huang Er melihatnya, suara kecapinya perlahan menjadi semakin cepat, tapi langkah tarian Leng Bingxin sama sekali tidak kacau, tubuhnya itu malah menari dengan semakin cepat, tangan yang halus seperti giok itu menari dengan begitu anggunnya, gaunnya berkibar, sepasang mata yang dipenuhi kabut itu begitu mempesona, Leng Bingxin menari mengikuti cahaya, dirinya seperti bunga yang melintasi kabut, tampak samar dan berkabut, memancarkan warna-warna yang sangat indah tapi tampak begitu tak terjangkau…


Ketika Lan’er dan Hong’er melihatnya, mereka bertepuk tangan karena kegirangan tapi tidak berani mengeluarkan suara.


Takut jika mengeluarkan suara maka akan memengaruhi tarian yang begitu indah itu.


Bei Fengchen dan Qinghao, mereka sama-sama adalah pria, ketika mereka melihat pemandangan ini, raut terpaku dan terpukau muncul di tatapan mata mereka dengan begitu jelasnya.


Mereka tidak tahu seorang wanita bisa menari dengan begitu berkelasnya, begitu ringan dan juga memukau.


Dia sudah seperti kupu-kupu berwarna di antara bunga, kupu-kupu yang tidak bisa menahan diri untuk tidak terbang di antara bunga-bunga di bawah tatapan mata semua orang.

__ADS_1


__ADS_2