Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 879 Aku Pasti Bisa Mengalahkannya


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Tapi sekarang, wanita lemah di hadapannya malah menantangnya seperti ini, Ji Xingfeng benar-benar sudah tidak sabar untuk menggunakan kemampuannya dan kekuatannya sendiri untuk menaklukkannya.


“Aku akan menemanimu bermain.”


Hello! Im an artic!


Kalimat ini diucapkan dengan begitu lugas, Ji Xingfeng mengucapkannya dengan sangat ringan dan meremehkan, bisa dilihat bahwa dalam hatinya, Ji Xingfeng sudah yakin akan menang.


Ye Wushuang tersenyum manis, tampilannya begitu cantik, bahkan lebih cantik dari bunga yang mekar: “Baiklah, aku akan memberitahumu aturannya.”


Ketika membicarakan aturan, Ye Wushuang tidak membicarakannya dengan terlalu detil. Pertama, Ji Xingfeng pada dasarnya sangat pintar, jika berbicara terlalu banyak maka kemungkinan kemenangannya sendiri akan berkurang banyak. Kedua, Ji Xingfeng tadi sudah menonton beberapa ronde antara dirinya dan Yuya, mungkin Ji Xingfeng secara garis besar sudah paham. Jika berbicara terlalu banyak, takutnya Ji Xingfeng akan merasa dirinya terlalu bertele-tele.


“Pangeran, kamu harus berhati-hati, Nona Wushuang sangat pandai memainkan permainan ini.” Yuya yang berasa di samping sangat jarang melihat Pangeran berwajah dingin ini memiliki sisi yang mudah didekati, jadi tanpa sadar Yuya merasa khawatir padanya.


Hello! Im an artic!

__ADS_1


Ye Wushuang berpura-pura melotot sekilas ke arah Yuya, seolah sedang menegur Yuya karena membela orang lain.


Yuya menjulurkan lidahnya, berdiri di belakang Pangeran dengan naka kemudian berkata dengan senyum tipis: “Nona Wushuang, kamu tidak bisa menyalahkanku. Siapa suruh Nona melukis wajahku seperti ini? Kali ini, aku pasti akan berpihak pada Pangeran.”


“Yuya, bagus sekali!” Ye Wushuang memelototinya tanpa daya, tapi tidak ada yang bisa dilakukannya.


Ji Xingfeng terhibur akan kelakuan kekanak-kanakan mereka berdua, bibir tipisnya terangkat naik, tidak terlihat dingin dan suram seperti sebelumnya, terdapat semacam keceriaan bagai sinar matahari yang sulit untuk dilukiskan.


“Yuya, kamu tenang saja, aku pasti bisa mengalahkannya.”


“Baiklah, aku akan menunggu dan melihat.” Ye Wushuang duduk di hadapannya dengan percaya diri, tatapannya mulai menatap ke arah bidak catur.


Setelah memulai permainan, ekspresi ceria Pangeran Ping seketika menghilang, kembali ke ekspresi martabat dan dingin seperti sebelumnya.


Di dalam ruangan, aroma dupa mengelilingi ruangan, bahkan teh yang dihidangkan pun sudah dingin.


Ye Wushuang memasang postur elegan, alisnya dan matanya benar-benar sangat indah. Saat tersenyum, dia benar-benar sangat cantik.

__ADS_1


Ji Xingfeng terlihat tampan dan dingin, sama sekali tidak berbicara dan tersenyum, setiap gerakannya terlihat bermartabat dan mendominasi.


Keduanya dengan gembira bertanding di dalam ruangan, dan ada seorang pelayan yang dengan tenang melayani di samping, suasananya terlihat begitu harmonis dan indah, membuat orang lain yang melihatnya benar-benar merasa sangat iri.


Su Qianhua yang sedang menatap diam-diam di luar jendela mengulas senyum sedih di wajah cantiknya.


Menggelengkan kepalanya, berbalik badan, berjalan dengan langkah kesepian lalu pergi dengan sedih.


Ternyata pada saat mereka bersama, pemandangannya bisa tampak begitu indah. Dalam sekejap, hatinya merasa sedikit sakit. Perasaan yang begitu berat ini, entah sejak kapan sudah mulai berakar di dalam tubuhnya.


“Haha, bidaknya terbentur, bidak merahmu sudah akan dipukul mundur oleh bidah merahku.”


Melihat Pangeran Ping yang sudah akan mendekati garis akhir dan akan menang tapi langsung dipukul mundur oleh bidak catur Ye Wushuang, Yuya seketika menatap ke arah Pangeran Ping dengan sedikit menyayangkan.


Dibandingkan dengan Yuya, Ji Xingfeng jauh lebih tenang, dia hanya mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum, tidak terlalu banyak bereaksi.


15 menit sudah berlalu, Ye Wushuang akhirnya menang. Ini adalah permainan yang paling disukainya dulu, meskipun kemampuan Ji Xingfeng meningkat pesat dan strateginya juga sangat bagus, tapi Ji Xingfeng pada akhirnya masih kalah dari dirinya yang merupakan pemain lama.

__ADS_1


Melihat Ji Xingfeng yang masih memikirkan mengapa dirinya bisa kalah, Ye Wushuang sudah mengangkat tangannya dengan bersemangat dan berkata mengumumkan: “Kamu kalah, bukankah sudah harus menerima hukuman?”


“Nona Wushuang, Nona tidak akan menggambar kura-kura di wajah Pangeran bukan?” Yuya bertanya dengan sedikit khawatir, lagipula pihak lain adalah Pangeran Ping, bagaimana bisa Pangeran Ping menerima penghinaan seperti itu.


__ADS_2