Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 383 Benar-Benar Bencana Berdarah


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Baik, aku menerima titah. Hidup Kaisar, Kaisar panjang umur…”


Suara tua itu terus-menerus bergema di aula yang hening, membuat malam yang sepi ini seakan mengisyaratkan kedatangan momen berdarah.


Hello! Im an artic!


Dalam perjalanan ketika dirinya dibawa kembali oleh Kaisar Zhaolie, hujan turun dengan lebat di luar, setelah Qin Ruojiu sedikit kehujanan dan ditambah dengan serangkaian pukulan yang dideritanya, semua itu membuat Qin Ruojiu terus berada dalam keadaan linglung dan pusing, sampai Lu’er dan Yan’er datang untuk merawatnya secara pribadi, kondisinya baru perlahan mulai membaik.


Pada saat ini, Qin Ruojiu tertidur di atas ranjang, tidak ada seorang pun di sampingnya kecuali Yan’er dan Lu’er.


Satu-satunya bayangan gelap itu merupakan bayangan dari para penjaga yang mengawasi di luar Istana.


Keputusan Kaisar telah membuat gempar seluruh Istana.

__ADS_1


Hello! Im an artic!


Ucapan menikahi Putri dan membunuh Ratu, kecuali Qin Ruojiu yang tidak tahu, semua orang yang ada di Istana, para dayang dan Kasim, semuanya sedang mendiskusikan mengenai masalah ini. Meskipun sudah lama tahu akan memiliki majikan baru, tapi mereka tidak menyangka bahwa Kaisar akan bertindak begitu kejam, bahkan Ratu pun juga ingin dibunuh.


Karena itulah, Permaisuri Ratu yang dulunya selalu dicintai, sekarang malah menjadi seorang pembawa malapetaka yang membuat orang lain menghindarinya.


Yan’er dan Lu’er merasa mereka bagai tersambar petir setelah mereka mengetahui berita itu. Keduanya berjaga di samping ranjang phoenix milik Qin Ruojiu, air mata tidak berhenti mengalir dari mata mereka.


Pada saat ini, Yan’er bangkit dan berjalan ke sisi jendela, melihat hujan yang turun dengan lebat di luar, hatinya dipenuhi dengan keputusasaan.


Lu’er mendengar isak tangisnya, meskipun hatinya merasa sedih tapi dia malah berkata menghiburnya dengan suara tenang: “Jangan menangis lagi, bagaimana jika malah membangunkan Permaisuri?”


“Ini tidak benar, mungkin Kaisar …”


“Kak Lu’er, jangan menipu diri sendiri lagi, semua ini benar. Kaisar sudah membuat titah, sekarang seluruh Istana sedang menunggu untuk melihat lelucon. Kaisar tidak pernah bercanda, Kakak tahu hal itu bukan? Dan lagi surat undangan juga telah dikirim ke Negara Beifeng, apa mungkin berita ini palsu?”

__ADS_1


“Yan’er, jangan katakan apa-apa lagi, hatiku ini sangat tidak nyaman!” Lu’er yang sudah tidak bisa menahan lagi akhirnya menatap ke arah Permaisuri yang sedang berbaring di atas ranjang yang terlihat begitu rapuh, bahkan ketika tertidur saja Permaisuri masih mengerutkan keningnya dengan begitu dalam, mengapa hidup Permaisuri begitu pahit?


Yan’er melihat Lu’er juga menangis, dia tahu bahwa semua sudah tidak berguna, dia langsung menangis dengan semakin kencang dan berkata: “Ini salah kita karena tidak percaya bahwa ucapan Tuan Tuyang, Permaisuri benar-benar memiliki bencana berdarah, jika kita membiarkan dia membawa Permaisuri pergi pada waktu itu, mungkin masalah hari ini tidak akan terjadi.”


“Yan’er, kamu terlalu naif, apa menurutmu Permaisuri bisa pergi? Jika dia bisa, maka Permaisuri sedari awal sudah ingin pergi. Dia tidak rela pergi karena takut takut tragedi Xiao Huan akan terulang kembali. Dia memikirkan kita, apa kamu mengerti?”


“Permaisuri…” Pada saat ini, air mata Yan’er mengalir semakin deras seperti banjir yang meluap.


Permaisuri adalah orang yang begitu baik, tidak peduli pada ketenaran dan kekayaan, murah hati dan rendah hati, benar-benar tidak bersaing dengan dunia, dia tidak tertandingi, tapi mengapa Permaisuri berakhir seperti ini?


Mengapa Kaisar memperlakukannya seperti ini? Mengapa? Ini tidak adil!


“Yan’er, kamu mau ke mana?” Melihat Yan’er yang menyembunyikan wajahnya dan mencoba untuk pergi, Lu’er terkejut dan bergegas berteriak.


Yan’er menoleh dengan matanya yang memerah dan berkata: “Aku ingin pergi mencari Kaisar, aku ingin memohon padanya untuk melepaskan Permaisuri.”

__ADS_1


“Sembarangan, bagaimana bisa kamu pergi bertemu dengan Kaisar, jika kamu pergi seperti ini, bukankah itu artinya pergi mengantar kematian?” Lu’er memarahinya dengan akal sehat yang masih tersisa.


Yan’er terisak-isak dengan semakin menyedihkan: “Apa kita akan diam seperti ini? Apa kita akan diam saja melihat Permaisuri dibunuh?”


__ADS_2