Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 531 Apa Bisa Membantuku


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Memasuki malam hari…


Makan malam yang dibawakan Yuya membuat Ye Wushuang tidak memiliki nafsu makan, makanan itu sudah dimakannya selama beberapa bulan, bahkan sudah di tahap dirinya sulit untuk menelannya. Jika bukan untuk bertahan hidup, Ye Wushuang benar-benar ingin melakukan mogok makan.


Hello! Im an artic!


Ye Wushuang dengan asal memakan bubur polos dan menatap kegelapan di luar jendela, dirinya menyalakan lampu minyak, terdapat sentuhan kehangatan di ruangan yang redup. Ketika membawa lampu ke depan jendela, dirinya melihat “Istana Cian” di depannya yang diterangi dengan cahaya terang, samar-samar sepertinya terdapat suara musik dan tarian, dan juga terdapat suara sorak-sorai dan tawa, seolah-olah benar-benar dunia yang berbeda dengan Istana yang begitu sepi di depannya ini. Jika di sana adalah surga yang membuat orang tertawa bahagia, maka tempat ini adalah neraka kelam yang membuat orang menangis.


Yuya merapikan barang, mengambil sebuah mantel abu-abu yang ditambal kemudian berjalan ke sisi Ye Wushuang, dengan lembut meletakkan mantel itu di pundak Ye Wushuang lalu berkata dengan lembut: “Permaisuri, beristirahatlah.”

__ADS_1


Menghitung waktu, sekarang hanya kurang dari jam 7. Bagi Ye Wushuang yang merupakan mantan pekerja kantoran, jam 7 adalah waktu bagi dirinya untuk bersenang-senang dengan gilanya, mana pernah dirinya beristirahat jika belum tiba jam 2 atau 3 pagi? Tapi di zaman kuno, dan lagi di Istana dingin, hidupnya benar-benar telah berubah drastis, jika bukan makan maka tidur, bangun kemudian makan, makan kemudian tidur, mengenai hak-hak hidupnya yang lain, semuanya sudah dirampas hingga bersih.


Ye Wushuang menghela napas berat dan berkata: “Istana Cian begitu ramai, benar-benar membuat orang iri.”


Hello! Im an artic!


Di saat bersamaan ketika Yuya mengenakan mantel untuknya, dirinya terpaku sesaat kemudian bergegas menjawab: “Hari ini adalah ulang tahun ke-60 Ibu Suri, Kaisar sedang memimpin para menterinya untuk merayakan ulang tahun Ibu Suri.”


Hati Ye Wushuang benar-benar terkejut, dalam ingatannya, Ibu Suri adalah orang yang baik dan juga ramah, meskipun tidak pernah memiliki seorang putra, tapi Ibu Suri selalu memperlakukan para Pangeran di Istana bagai putranya sendiri, pada awalnya demi membuat Ji Xingyun naik tahta, Ye Wushuang tidak ragu-ragu melakukan segala cara mencoba untuk memenangkan hati Ibu Suri. Beberapa kali bahkan menerobos resiko menggunakan nyawanya hanya demi menyenangkan hati Ibu Suri.


Mungkin justru dikarenakan semangat Ye Wushuang yang tulus hingga bahkan tidak peduli dengan nyawanya sendiri, akhirnya membuat Ibu Suri sangat memandang Ye Wushuang jika dibandingkan di antara begitu banyak menantunya. Setelah membantu Ji Xingyun naik tahta, Ibu suri sering datang ke Aula Fengyi untuk mengobrol dengannya mengenai pekerjaan, dan juga mengajarinya beberapa sikap sebagai Ibu Negara.

__ADS_1


Jika menurut Qin Ruchen, Ji Xingyun adalah salah satu orang yang paling dipercayainya, maka Ibu Suri adalah orang yang kedua.


Hanya sayangnya, pada akhirnya bahkan suaminya yang paling dicintainya itu pun mengkhianati dan meninggalkannya, lalu Ibu Suri yang pernah dijadikan batu loncatan olehnya ini, apa bisa memberinya secercah harapan?


Ye Wushuang entah mengapa ingin bertaruh, ya, dia ingin bertaruh apa Ibu suri akan membantunya atau tidak. Jika berhasil maka dirinya mungkin bisa keluar dari Istana dingin yang gelap dan bisa membuat orang lain gila ini, jika gagal, mungkin kehidupan keduanya ini juga akan hilang.


Setelah berpikir dengan cepat dalam pikirannya selama tiga detik, Ye Wushuang dengan sangat yakin mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dirinya harus mencoba bahkan jika harus mempertaruhkan nyawanya sendiri, dirinya ingin melihat apa Ibu Suri yang dulu pernah menyukainya ini akan bersikap kasihan padanya atau tidak ketika melihat dirinya yang sudah jatuh terpuruk seperti ini. Itu karena Ibu Suri berbeda dari Ji Xingyun, Ibu Suri tidak memanfaatkannya, tapi sikapnya itu merupakan cinta sejati seorang Ibu mertua terhadap menantu perempuannya.


“Yuya, apa kamu bisa membantuku?”


Menatap sekilas ke arah Ratu Qin yang selalu terlihat tenang tapi sekarang malah memiliki emosi yang cukup gelisah dan juga tidak stabil. Hati Yuya sedikit bergetar, raut wajahnya menjadi suram dan dia berkata dengan suara dalam: “Permaisuri, apa yang Permaisuri ingin aku lakukan?”

__ADS_1


“Aku membutuhkan sesuatu, sesuatu yang bisa membantuku keluar dari Istana dingin ini…”


__ADS_2