Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 466 Cinta Yang Tulus Itu


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Meskipun dirinya selalu diam-diam memikirkan Liqing, namun dalam 2 tahun terakhir, dirinya tidak pernah berhenti menyesali dirinya sudah menikahi Liqing sebagai Selirnya.


Bukan karena kecantikan Liqing tidak secantik sebelumnya, juga bukan karena dirinya menyukai yang baru dan tidak menyukai yang lama. Tapi karena Kang Yong menyadari dirinya ternyata begitu bodohnya hingga kehilangan cinta yang tulus itu.


Hello! Im an artic!


Memang benar Liqing selalu dipikirkan dan dirindukan olehnya. Tapi wanita itu yang memberitahunya apa itu cinta.


Dua tahun, sudah dua tahun, dia sudah pergi selama dua tahun.


Tapi perasaannya pada wanita itu, kerinduan yang bagai tertanam dalam tulangnya, kepahitan ketika dirinya bermimpi di tengah malam, tidak ada orang yang bisa memahaminya.


Beberapa kali dirinya pergi mengembara sendirian ke tempat yang pernah dilewati oleh wanita itu, dan juga berharap suatu hari nanti sosok itu akan muncul di depan matanya seperti yang diharapkannya.


Hello! Im an artic!

__ADS_1


Namun, dirinya tahu bahwa itu tidak mungkin. Dia telah pergi, dengan membawa kebencian dan keputusasaan mendalam, dia pergi dengan patah hati.


Dirinya tidak mungkin dapat menemukan wanita seperti itu lagi, wanita itu memiliki citra yang indah seperti salju, mata yang indah seperti es, senyum yang sangat cantik, dan bibir merah seperti madu.


Dia pandai memasak hidangan yang enak, dirinya bahkan tidak bisa melupakan rasa itu untuk seumur hidupnya. Tidak peduli bagaimanapun koki Istana berusaha untuk menyenangkannya, tapi dirinya tahu bahwa rasa itu tidak akan bisa ditiru oleh orang lain.


Hari ini, dirinya hanya datang menonton dengan niat bermain-main, Bei Fengchen menggunakan taktik wanita cantik, sebenarnya seberapa cantik wanita itu?


Kang Yong mencibir di dalam hatinya, sudut bibirnya penuh dengan senyum ironi terhadap dunia. Ya, wanita cantik sangat banyak di harem, tapi wanita yang benar-benar bisa membuatnya terkesan sudah tiada, di dunia ini, sudah tidak ada lagi wanita yang bisa membuat jantungnya berdegup kencang.


Ingin bermain? Dirinya akan menemani. Tidak ada wanita itu di sisinya, Kang Yong menyelesaikan hampir semua masalah dengan sikap bermain-main. Tapi untungnya, cara penyelesaiannya itu malah sangat sesuai dengan keinginan para rakyat hingga dirinya tidak berakhir dengan sebutan Kaisar tiran.


“Kalau begitu aku akan melakukan sesuai perintah!” Bei Fengchen melihat Kang Yong mengangguk, matanya langsung berbinar, dia segera bertepuk tangan dan berteriak pada penjaga di belakangnya dengan suara dingin: “Pengawal, minta Nona Bingxin untuk bersiap.”


“Baik, Pangeran!” Pengawal itu mengangguk dengan hormat, lalu dia pergi.


Tidak lama kemudian, ada sebuah jalan lebar yang disiapkan di tengah aula.

__ADS_1


Musik indah terdengar dari segala arah di kedua sisi.


Di kejauhan, di luar aula utama, seorang wanita berpakaian putih perlahan-lahan berjalan menghampiri. Dia membawa aura cahaya perak, terlihat seperti Dewi, terdapat jepit rambut yang terbuat dari ukiran batu giok putih bersinar terang yang ditancapkan di sanggul rambutnya, gaun panjangnya menyeret lantai dengan langkah kaki berirama yang terlihat begitu indah bagaikan itu adalah sebuah mimpi.


Cahaya matahari jatuh menerpanya, meskipun tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi adegan pembuka yang begitu indah ini membuat orang lain sangat terpesona.


Semua orang menahan napas, semuanya menunggu saat ini datang dengan begitu tenang.


Kaisar Zhaolie yang tadinya hanya mengulas senyum dingin, tiba-tiba senyum di wajahnya itu membeku. Mengapa adegan ini dan juga sosok ini begitu familiar?


Begitu familiar hingga membuat hatinya yang sudah lama mendingin mulai kembali terasa sakit?


Siapa dia? Sebenarnya siapa dia?


Ketika dirinya berdiri tanpa sadar, melodi yang indah segera terdengar, di tengah tarian yang begitu indahnya, wanita itu tiba-tiba mengangkat lengan bajunya, memperlihatkan tangannya yang begitu putih dan halus, dia menari dengan begitu lenturnya. Dia mencondongkan tubuh ke depan, rambutnya yang panjang jatuh tergerai, pinggangnya yang lentur itu bagai pohon willow yang diterpa angin, tubuhnya yang lemah dan rapuh itu seakan seperti sedang mabuk dan mengantuk, seolah-olah dia telah jatuh ke dalam mimpi … tidur panjang adalah kematian … tidur singkat adalah mimpi.


Kaisar Zhaolie menatap wajah itu dengan kaget, begitu bermartabat dan anggun, wajah bagai giok mulus dengan dua mata berbinar cerah seperti bintang, seindah bunga teratai yang mekar. Ya, itu adalah wajah yang familiar, merupakan tampilan yang selalu dinantikannya di dalam mimpi. Mata yang seperti sumber mata air di musim gugur, yang memiliki pesona yang begitu menawan, mempesona, bahkan meski dia hanya dengan tidak sengaja menatapmu sekilas, kamu juga akan bisa merasakan kekuatan yang menyentuh hati dan jiwa, membuat orang merindukannya, bahkan meski dia hanya menatapmu sekilas saja, matipun juga rela!

__ADS_1


__ADS_2