Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 776 Tolong Kembalikan Benda Ini Untukku


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Nona Wushuang tidak berniat untuk melihatnya?” Paman Long merasa sepertinya benda-benda ini masih tidak memiliki efek pada Ye Wushuang, jadi dia berkata sedikit mengingatkan.


Ye Wushuang malah berbalik dengan acuh, sosoknya yang kurus dan langsing itu malah dipenuhi dengan sentuhan arogansi yang membuat para pria bisa menghela nafas.


Hello! Im an artic!


“Jika dia yang memberikannya maka tolong kembalikan benda itu untukku. Jika kamu menginginkan benda ini, maka simpanlah untuk masa tuamu. Aku tidak membutuhkan semua itu.”


Meninggalkan kalimat itu, Ye Wushuang pergi tanpa menoleh lagi ke belakang, sedangkan Paman Long tertegun di tempat, yang dilihatnya hanyalah bayangan samar wanita. Hatinya mau tidak mau bertanya-tanya, setelah melewati masalah seperti itu, apa wanita itu benar-benar dapat bersikap dengan begitu lugas dan rapi? Apa cintanya pada Tuan Penguasa Kota tidak sedalam itu? Atau apa wanita itu benar-benar tidak tamak akan kejayaan dan kekayaan? Tidak, di matanya tidak ada wanita yang tidak menyukai kejayaan dan kekayaan.


Bulan Juni, cuaca memang paling suka berubah-ubah.


Langit yang tadinya masih cerah, dalam sekejap sudah berubah menjadi mendung. Suara guntur kemudian terdengar saling bersahutan. Capung melayang di ketinggian yang rendah, pohon willow sama sekali tidak bergerak.

__ADS_1


Hello! Im an artic!


Anjing Golden besar di halaman Kastil Wuyou sedang berbaring di bawah naungan pepohonan, menkulurkan lidah merahnya sambil terengah-engah. Pelayan di Kastil Wuyou bergegas membereskan barang-barang, melihat cuaca yang sudah akan turun hujan, mereka kemudian bersembunyi di bawah atap, mengangkat saputangan di tangan mereka dan mulai mengipas sambil berkata mengeluh: “Cuaca ini, benar-benar…”


Saat ini, di Paviliun Wenxuan…


She Jingtian sedang duduk di meja kerjanya, wajahnya sangat sempurna tanpa cela, terdapat ketabahan dan keuletan seorang pria, ditambah dengan gerakan yang begitu lugas dan lembuat, benar-benar terdapat aura keanggunan dan kemuliaan yang sulit untuk dilukiskan.


Suara guntur yang teredam terdengar dari luar jendela, kuasnya juga tanpa sadar menukik dengan tajam, menorehkan lengkungan utuh tanpa cela dalam sekejap.


Terutama sepasang mata itu, begitu anggun dan menawan, membuat orang lain dengan mudah terjebak di dalamnya ketika menatapnya.


“Grrrrrr–”


Suara guntur yang keras kembali terdengar, kilat itu sudah seperti ular perak yang memamerkan kekuatannya di tengah awan hitam yang begitu tebal. Entah mengapa perasaan She Jingtian sedikit kesal, tangan yang memegang kuas itu terpaku untuk sejenak, setetes tinta menetes dengan lembut di atas kertas, kemudian perlahan-lahan tinta itu menyebar, dengan tepat sasaran menenggelamkan kata “Wushuang” …

__ADS_1


Kata yang begitu bagus akhirnya rusak oleh tetesan tinta ini, jika orang lain mungkin akan menghela nafas dengan penuh penyesalan. Tapi She Jingtian tidak, dia hanya mengangkat kepalanya, pupil matanya yang hitam pekat itu melihat ke luar jendela, ekspresinya begitu rumit, orang lain tidak bisa menebak pikirannya.


Ya, jika tulisan sudah hilang maka masih bisa ditulis ulang. Tapi jika hati sudah mati, apa masih bisa diperbaiki?


Tepat ketika She Jingtian sudah akan tenggelam dalam pikirannya, tetesan air hujan sudah terdengar dari luar pintu. Cuaca yang seperti ini membuat orang lain semakin resah.


“Tok tok… Paman She, buka pintunya… Buka pintunya, cepat buka pintunya…”


Di luar pintu, panggilan cemas dan tergesa-gesa milik Min’er tiba-tiba terdengar, sejak anak ini sudah mulai dewasa, dia jarang sekali mencarinya kemari dengan begitu sembrono seperti ini, biasanya dia akan meminta pelayan untuk membawakan pesan. Tapi sekarang, dalam kondisi hujan yang turun dengan sangat deras, tidak tahu masalah apa yang terjadi hingga membuat Min’er bisa bersikap seperti ini.


Reaksi pertama She Jingtian adalah, apa Wushuang tidak ada di sisi Min’er? Jika ada Wushuang maka Min’er pasti tidak akan bersikap seperti ini.


Semakin memikirkannya She Jingtian semakin merasa tidak nyaman, jadi dia segera membuka pintu.


Melihat rambut Shangguan Min’er yang sudah menempel di pipinya dan juga pakaiannya yang sudah setengah basah, She Jingtian langsung berjongkok dan dengan lembut membelai wajah cantik Min’er yang sudah sedikit pucat, She Jingtian menegur dengan penuh kasih: “Min’er, kamu kenapa? Kenapa kamu tidak menggunakan payung saat datang kemari?

__ADS_1


__ADS_2