
Hello! Im an artic!
“Kisah?” Si kecil mengangkat kepalanya, menatap dengan bingung ke arah Wushuang dan sedikit tidak mengerti.
Ye Wushuang tersenyum dan mengangguk, hangat dan indah bagaikan bunga yang cerah.
Hello! Im an artic!
“Benar. Zaman dahulu kala, jauh di dalam laut, airnya begitu biru, bagaikan kelopak bunga krisan yang paling cantik. Pada saat yang sama, airnya juga jernih seperti kaca yang sangat bening.
__ADS_1
Namun, laut itu amat sangat dalam. Begitu dalam hingga tak ada rantai jangkar yang bisa mencapai ujungnya. Untuk mencapai permukaan dasar laut, banyak menara yang harus dihubungkan satu demi satu. Orang-orang dasar laut tinggal di sana.
Raja laut yang tinggal di sana telah menduda selama bertahun-tahun, tapi dia memiliki enam anak perempuan yang cantik, semuanya memiliki kecantikan bagaikan manusia, tapi tubuhnya seperti ikan. Mereka adalah putri di laut yang juga disebut sebagai putri duyung. Tentu saja, di antara mereka, yang terkecil adalah yang paling cantik. Kulitnya putih dan lembut, seperti kelopak mawar. Matanya biru, seperti danau yang terdalam. Namun, sama seperti putri lainnya, dia tidak memiliki kaki. Bagian bawah tubuhnya adalah ekor ikan.”
“Wow, putri duyung. Kedengarannya indah sekali.” Mata si kecil yang berair tidak lagi tampak sedih, dia mendengarkan kelanjutan cerita dengan penuh penantian.
Hello! Im an artic!
“Kak Wushuang, ayo. Selanjutnya bagaimana?”
__ADS_1
Mendengar desakan si kecil, Ye Wushuang tidak lagi tenggelam dalam pemikirannya sendiri dan berkata perlahan, “mereka melewati hari-hair yang bahagia dan bebas, dapat menghabiskan sepanjang hari yang panjang di dalam istana, di aula dengan bunga-bunga yang tumbuh di dinding. Jendela besar dengan aksen kuning terbuka dan ikan berenang ke dalamnya, seperti burung yang terbang masuk saat kita membuka jendela. Meski mereka sangat bahagia, mereka juga merasa bosan setelah sekian lama.
Tentunya mereka memiliki hobinya masing-masing, misalnya yang paling menyenangkan bagi mereka adalah mendengar beberapa kisah tentang manusia di daratan. Nenek mereka yang sudah tua sering kebingungan dengan anak-anak ini. Dia hanya bisa menceritakan seluruh pengetahuannya tentang kapal dan kota, manusia, dan hewan untuk didengar oleh mereka. Satu hal yang membuatnya takjub adalah bunga di daratan yang mengeluarkan aroma harum, tapi di bunga di dasar laut tidak bisa seperti itu. Hutan di daratan berwarna hijau, burung-burung yang dilihat manusia terbang melalui dahan-dahan akan menyanyikan lagu yang merdu dan indah, membuat hati orang-orang terasa bahagia.
“Nenek, kapan kita bisa pergi melihat ke daratan?” Para putri duyung satu per satu mengajukan pertanyaan, mata mereka penuh dengan rasa ingin tahu akan dunia luar.
“Ketika kalian berumur 15 tahun,” kata si nenek tua, “aku akan mengizinkan kalian mengapung di permukaan. Saat itu, kalian bisa duduk di atas batu di bawah sinar bulan dan melihat kapal besar yang berlayar di sampingmu. Kamu juga bisa melihat hutan dan kota…”
Malam ini sangatlah singkat.
__ADS_1
Meski Shangguan Min’er sedikit kelelahan, dia masih berbaring tenang dalam pelukan Ye Wushuang, mendengarkan ceritanya dengan diam.
Ekspresinya berubah seiring konflik yang didera oleh putri duyung kecil. Akhirnya, begitu mendengar putri duyung kecil berubah menjadi gelembung laut, dia tidak bisa menahan tangisannya lagi.