Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 959


__ADS_3

Ye Wushuang yang mengenakan pakaian polos sedang menulis di meja.


Hello! Im an artic!


Ye Wushuang terlihat cantik, rambut hitamnya seperti air terjun, matanya jernih dan tenang, Ye Wushuang menatap kertas putih dengan sungguh-sungguh dan saksama. Mengambil pena dan mencelupkan tinta, menorehkan setiap goresan dengan sempurna, menguraikan keindahan dalam setiap karakter, menguraikan pesona yang paling memabukkan dalam kaligrafi.


Kaisar Qi masuk ke dalam, mengangkat tatapannya dengan gembira dan langsung terpesona padanya.


Hello! Im an artic!


Ye Wushuang pada awalnya sudah cantik dan elegan, gayanya yang sedang menulis saat ini malah memiliki keindahan dan ketenangan yang tak terlukiskan. Ketika Ye Wushuang selesai menulis baris demi baris dalam diam kemudian dengan lembut meletakkan kuas, Ye Wushuang menatapnya sekian lama lalu tiba-tiba tersenyum.


Senyum itu sudah seperti lukisan indah yang dibuat dengan tinta, karena senyumnya itu memiliki sentuhan akhir yang amat indah.


Kaisar Qi menyimpan adegan memabukkan itu jauh dalam lubuk hatinya. Kaisar Qi berjalan ke arah Ye Wushuang, berdiri di belakangnya dengan perlahan, pupil matanya yang gelap dan dipenuhi dengan semacam kasih sayang obsesif jatuh pada kertas itu.


Kapan bulan yang terang pertama kali muncul?


Hello! Im an artic!

__ADS_1


Seseorang mengangkat cangkir dan menanyakannya pada langit. Tidak tahu tahun berapa di Istana surgawi.


Aku berharap bisa mengendarai angin untuk kembali ke sana, namun juga takut pada menara giok, tempat yang begitu tinggi dan juga dingin, mulai menari dengan bayangan yang jelas, apa lagi yang menyerupai dunia fana?


Berputar di sekitar Paviliun Zhu, menyusuri jalan yang rendah, tidak bisa tertidur hingga pagi. Seharusnya tidak ada kebencian, mengapa selalu penuh di waktu perpisahan? Manusia memiliki kesedihan, kegembiraan, perpisahan dan pertemuan, bulan kadang bersinar terang dan redup, kadang bulat dan sabit, masalah ini sudah ada sedari dulu, berharap manusia bisa berumur panjang untuk menikmati keindahan bulan bersama meski terpisah kian jauh.


Beberapa baris kalimat itu langsung menceritakan suka dan duka di dunia, bulan yang cerah di langit terkadang suram sewaktu langit cerah, ketika tertekan dan tidak bahagia, belajar untuk menghilangkan perasaan itu, jika benar-benar tidak bisa maka juga bisa tersenyum lebar untuk menjalaninya.


Terutama kalimat terakhir, berharap manusia bisa berumur panjang untuk menikmati keindahan bulan bersama meski terpisah kian jauh.


Apa yang ingin diungkapkannya? Apa permohonannya…terpisah kian jauh… Apa ada seseorang yang dirindukannya?


Kaisar Qi tidak mampu untuk memahami secara harfiah karena tatapannya sudah terpikat oleh tulisan tangan yang anggun itu. Tulisannya rapi, lembut tapi juga terlihat tegas, ada rasa ketangguhan yang tersembunyi di dalamnya. Tidak seperti sikap Ye Wushuang yang biasa, ada semacam guratan tegas di antara goresan di baris kalimatnya, memiliki cita rasa yang bebas, jelas dan kuat.


Ketika ingatannya mulai diputar kembali… Ratu Qin dulu juga pernah menulis, tidakkah kamu melihat air sungai kuning yang datang dari langit, mengalir menuju laut dan tidak pernah kembali lagi.


Tidakkah kamu melihat mereka berduka akan rambut putih di cermin besar aula, saat fajar terlihat seperti benang hitam dan pada malam hari berubah menjadi salju.


Kehidupan seharusnya membawa kebahagiaan, jangan pernah biarkan kendi kosong menghadap ke bulan.

__ADS_1


Tuhan melahirkanku, kemampuanku seharusnya ada gunanya, menghabiskan begitu banyak uang tapi semua itu akan kembali lagi.


Memasak domba dan menyembelih sapi itu menyenangkan, kita harus meminum tiga ratus cangkir.


Tuan Cen, Dan Qiusheng, bawakan anggurnya, tidak boleh berhenti minum.


Aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu, tolong pinjamkan telingamu……


Ya, tulisan tangannya sangat mirip dengan tulisan Ratu Qin…


Jika tidak melihatnya dengan matanya sendiri, jika meletakkan dua lembar kertas yang identik di hadapannya, dirinya pasti akan berpikir bahwa itu ditulis oleh orang yang sama.


Ye Wushuang terkejut ketika menyadari kehadiran Ji Xingyun.


Ye Wushuang berseru pelan karena terkejut, melihat ekspresi Ji Xingyun yang aneh, Ye Wushuang bergegas melangkah maju untuk memberi hormat: “Aku memberi hormat pada Kaisar… aku tidak menyambut Kaisar, kumohon Kaisar memaafkanku.”


Ji Xingyun tidak bersuara, tatapan matanya hanya ditarik perlahan dari kertas itu.


Setelah sekian lama dia baru berkata: “Wushuang, apa kamu tahu kelanjutan kalimat dari tidakkah kamu melihat air sungai kuning yang datang dari langit?”

__ADS_1


Ye Wushuang adalah penggemar berat Li Bai, tentu saja dirinya tahu apa kalimat selanjutnya. Tapi Ji Xingyun bertanya dengan begitu tiba-tiba, sudah pasti ada alasannya.


Tiba-tiba Ye Wushuang teringat bahwa beberapa tahun yang lalu, ketika dirinya sangat tertekan di Istana, dirinya berlatih kaligrafi dan menulis puisi itu. Pada waktu itu tidak sengaja dilihat oleh Ji Xingyun, dan sekarang Ji Xingyun bertanya seperti ini, takutnya Ji Xingyun sudah meragukan identitasnya.


__ADS_2