
Hello! Im an artic!
Namun setelah cadar hitamnya dilepas, ia jelas bisa merasakan perubahan besar dari orang-orang sekitar padanya. Alhasil, ia pun harus mengakui. Di hati setiap orang, penampilan jauh lebih penting dari apapun.
Tidak heran, ayah pernah memperingatinya bahwa ia tidak boleh melepaskan cadar hitam sebelum benar-benar bertemu dengan pria yang mencintainya.
Hello! Im an artic!
Untungnya, Kaisar Zhaolie … telah menerimanya dengan tulus sebelum memperlihatkan wajah aslinya. Kalau tidak, ia mungkin akan ditemani oleh cadar hitam sepanjang hidupnya.
“Permaisuri … apa yang sedang kau pikirkan?” Yan’er bertanya bingung melihat Qin Ruojiu yang melamun sendiri.
Qin Ruojiu menggeleng pelan, tersenyum pahit, “Bukan apa-apa, hanya tiba-tiba teringat sesuatu, sedikit sedih.”
“Permaisuri, apakah kau tidak senang?”
Hello! Im an artic!
“Tidak, hanya ingin jalan-jalan!”
“Kalau begitu aku akan memanggil saudari Lu’er!”
__ADS_1
“Tidak perlu, bukankah dia sedang sibuk menyulam belakang ini? Biarlah dia menyulam, kita baru menemuinya!”
“Baiklah! Oh ya, Permaisuri, kau ingin kemana?”
“Taman Baihua saja!”
Tiba-tiba teringat, sudah lama tidak ke sana.
Masih ingat pertama kali bertemu dengan lelaki berbaju putih itu. Lelaki berbaju putih itu, berpakaian putih dengan sentuhan kesepian, dan melankolis, memainkan musik dengannya secara diam-diam.
Suara serulingnya selalu membawa jejak kesedihan, seolah ingin melepas semua kesedihan di hatinya.
Memikirkan ini, hati Qin Ruojiu tercekik tidak jelas, ada kabut di matanya. Ia pernah membayangkan beberapa kali, jika ia bisa bertemu dengannya lebih dulu, apakah akan jatuh cinta padanya juga, dirinya dan dia akan bagaimana? Jika kaisar bukan Kaisar Zhaolie melainkan dia, kehidupannya akan seperti apa?
Dalam sekejap mata, telah tiba di Taman Baihua, bunga-bunga di taman masih bermekaran dengan merah dan cerah. Sayang sekali, orang di sekitar telah banyak berubah.
Dia menghela nafas dan mengerutkan kening.
“Permaisuri kenapa? Apa kau tidak nyaman?”
Qin Ruojiu menggeleng dengan tenang dan berkata, “Tidak.”
__ADS_1
“Tapi ….”
“Lupakan, pulanglah!”
Memikirkan orang selalu ada depresi yang tak terkatakan di hati. Qin Ruojiu, yang tidak bisa tinggal lebih lama, tiba-tiba mendengar suara seruling di kejauhan saat berbalik.
Suara seruling yang bijaksana itu seperti menembus pertahanan terakhir di hati Qin Ruojiu, suara samar itu langsung menembus ke bagian terlembut hatinya, seperti tangisan keras, seperti keluhan pelan.
Saat lagu dimulai, langit dan bumi seketika gelap, momennya suram, begitu sedih dan sunyi. Membuat orang merasa sedih dan sentimental. Lagu macam apa itu ….
Dia mendengarkan dengan tenang, dua baris air mata mengalir, diiringi dengan suara seruling, memandang ke langit, mencoba meneteskan air matanya ke awan dan kabut di langit, agar tidak membiarkan orang lain mengetahui kesedihan dan kesakitan di hatinya.
Kemudian, akhirnya merobek penyamaran yang tegas, didorong oleh suara seruling, ia tidak dapat menahannya, membiarkan air mata menetes, dipantul sinar matahari, lebih terang dari mutiara dan lebih mempesona dari berlian. Suara seruling, sejak itu menjadi sakitnya jiwa Qin Ruojiu.
Perasaan familiar itu lebih patah hati dan lebih sedih dari yang didengar sebelumnya, seperti rasa sakit yang berkobar.
Bisa menyentuh lubuk hati, luka terdalam.
Dia masih di sini, tidak pernah pergi.
Ia menangis diam-diam, ternyata dia masih begitu tidak bisa melepaskan.
__ADS_1
“Kau akhirnya bersedia melepaskan semua penyamaranmu untuknya!”