
Hello! Im an artic!
“Pangeran, menurutku, dirinya yang teguh dan tidak kenal takut itu bukanlah hal yang buruk.”
“Qianhua, apa pendapatmu?”
Hello! Im an artic!
Su Qianhua mengulas senyum lalu menganalisa secara mendetail: “Menurut pendapatku, Nona Ye pasti adalah tipe orang yang menerima cara lembut dan bukan cara keras. Jika Pangeran Ping dapat dengan sungguh-sungguh membuatnya berada di bawah komandomu, maka dia akan menjadi bidak yang luar biasa. Karena orang-orang seperti ini tidak akan dengan mudah menyerah pada musuh, selama bisa mengetahui kelemahannya, maka dia akan sepenuhnya dikendalikan olehmu.”
“Kelemahan?”
Pangeran Ping tersenyum dingin: “Qianhua, apa kamu bisa melihat di mana kelemahannya?”
“Untuk saat ini tidak, tapi aku akan segera tahu.”
__ADS_1
Hello! Im an artic!
“Apa maksudmu?”
“Pangeran, ketika waktunya tiba tentu saja kita akan mengetahuinya.” Setelah selesai mengucapkan kalimat ini, Su Qianhua tersenyum cerah, ekspresi penuh strategi, kemenangan dan kebanggaan itu, tidak heran dia mendapatkan gelar otak nomor 1 di Pingzhou.
Ketika kembali, Yuya sangat bersyukur Ye Wushuang baik-baik saja. Di sepanjang jalan, demi keselamatan Ye Wushuang di kemudian hari, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak membujuk.
“Nona Wushuang, untuk apa Nona berbuat seperti itu? Melawan Pangeran itu benar-benar tidak masuk akal.”
“Pangeran bisa dianggap langit di Pingzhou, jika Nona tidak mengikuti instruksinya, maka itu sama saja seperti melawan langit. Di kemudian hari ketika memasuki Istana, yang akan Nona singgung itu adalah Kaisar.”
Kata-kata Yuya diucapkan dengan begitu masuk akal, bagaimana mungkin Ye Wushuang tidak paham. Hanya saja ada beberapa hal yang harus dilawan, bahkan jika harus mempertaruhkan nyawanya, dirinya juga tidak ingin menjadi orang yang dimanipulasi secara sewenang-wenang, jika dirinya menundukkan kepala dan menyerah, lalu apa bedanya dirinya dengan boneka? Lebih baik dirinya mati saja.
Berkata sekian lama, Yuya tidak mendapat respon sedikit pun dari Ye Wushuang, Yuya tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Ye Wushuang, hanya saja dari tampilan Ye Wushuang dapat dilihat bahwa suasana hatinya tidak terlalu baik. Tatapan mata Yuya menatap ke arah leher Ye Wushuang yang ramping dan putih, bekas merah itu masih belum hilang, Yuya tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa sedih untuknya: “Nona Wushuang, apa lehermu masih sakit? ”
__ADS_1
Ye Wushuang hanya menggelengkan kepalanya dan tidak berbicara. Meski lehernya dicekik dan terdapat rasa panas yang terasa dari waktu ke waktu, tapi Ye Wushuang sama sekali tidak mengerang kesakitan.
“Begini saja, saat kembali nanti aku akan mengoleskan obat untuk Nona.”
Yuya juga tidak memaksanya tapi hanya mengatakan apa yang akan dilakukannya nanti.
Setelah kembali ke kediamannya, Yuya menggunakan handuk untuk mengompres luka itu dan juga mengoleskan obat, yang pasti Yuya sudah menggunakan semua cara tapi efeknya masih tidak terlalu bagus.
Menyentuh daerah yang terluka, memang sedikit bengkak, bahkan tenggorokan Ye Wushuang terasa tidak nyaman seperti tersedak tulang ikan.
Saat makan malam, Ye Wushuang tidak bisa makan makanan yang terlalu keras, jadi dia hanya memakan bubur lalu pergi tidur.
Yuya malah membangunkannya dan berkata akan mengoleskan obat untuknya dengan raut wajah gembira.
Ye Wushuang berpikir obat yang dioleskan di siang hari tadi sama sekali tidak ada efek, jadi dirinya tidak terlalu tertarik. Menurut Ye Wushuang, cedera seperti ini hanya membutuhkan waktu untuk sembuh secara perlahan, tidak mungkin bisa sembuh secara langsung. Karena itu, Ye Wushuang tidak peduli apa lukanya ini diolesi obat atau tidak.
__ADS_1
“Nona Wushuang, obat ini akan berefek setelah dioleskan, mungkin lehermu akan sembuh besok.” Kata Yuya sambil mengeluarkan botol porselen berwarna merah sebesar ibu jarinya. Botol itu diukir dengan pola bunga yang sangat indah, ada aroma aneh di dalamnya, sekilas dilihat, itu bukanlah benda yang mampu dibeli oleh orang biasa.
Tepat ketika Yuya hendak mengoleskan cairan berwarna putih dari dalam untuknya, Ye Wushuang malah melirik sekilas dengan datar lalu bertanya dengan penuh keraguan: “Yuya, dari mana datangnya benda ini?”